
TUNJUKKAN PARU-PARU: Pandemi menginspirasi F.X. Ferdinandus membuat visualisasi luasan infeksi Covid-19 pada paru-paru.
F.X. Ferdinandus berhasil membuat visualisasi 3D infeksi luasan Covid-19 pada paru-paru. Kini inovasi itu bakal dikembangkan untuk mendeteksi tumor dan kanker.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
SEBAGAI dosen sekaligus wakil rektor III di Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (iSTTS), hari-hari F.X. Ferdinandus diisi beragam kegiatan. Meski sibuk, dia masih mampu menuntaskan program doktor departemen teknik elektro di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) hanya dalam kurun waktu 2,5 tahun.
Tidak hanya dilabeli sebagai lulusan doktor tercepat, Ferdinandus juga menjadi lulusan terbaik program doktor di ITS.
”Jarang program doktor diselesaikan dalam 2,5 tahun. Saya berhasil mencapai waktu 2,5 tahun dengan IPK 4,00,” katanya kemarin (5/10).
Dalam menuntaskan program doktor, Ferdinandus mengembangkan gagasan visualisasi 3 dimensi luasan infeksi Covid-19 pada paru-paru. Ide itu muncul saat dia memulai program doktor pada 2020.
Saat itu pandemi Covid-19 ganas-ganasnya. Dia ingin berkontribusi dalam menyelesaikan masalah virus korona di bidang teknik informatika.
”Saat itu kasus Covid-19 tinggi-tingginya. Virus tersebut menginfeksi saluran pernapasan manusia hingga paru-paru,” ujarnya.
Karena itulah, Ferdinandus berupaya mengembangkan pemodelan 3D pada citra paru-paru pasien yang terinfeksi virus korona dengan menggunakan Alpha Shape berbasis segmentasi U-Net.
Tujuannya adalah mendapatkan visualisasi 3D luasan infeksi virus pada paru-paru dan menghasilkan persentase infeksi terhadap volume paru-paru.
Menurut Ferdinandus, pasien yang dinyatakan Covid-19 oleh dokter ditindaklanjuti dengan CT scan. Nah, objek CT scan tersebut diubah menjadi model 3D untuk mendeteksi luasan Covid-19 pada paru-paru.
”Jadi, objek CT scan yang dijadikan pemodelan 3D tersebut bisa melihat detail kondisi paru-parunya dan luasan Covid-nya. Dengan begitu, akan memudahkan dokter dalam mendiagnosis pasien lebih tajam,” jelasnya.
Ferdinandus menjelaskan, inovasi itu difokuskan untuk mendeteksi kondisi paru-paru dari hasil CT scan pasien, luasan dan volume Covid-19 pada paru-paru dalam bentuk 3D. Namun, ke depan, inovasi tersebut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendeteksi kondisi kanker atau tumor pada pasien.
”Bisa dikembangkan untuk mendeteksi tumor dan kanker hingga gangguan infeksi lain,” kata dia.
Dari hasil riset yang dilakukan, lanjut dia, prediksi pemindaian objek CT scan pasien Covid-19 mendekati akurat. Cara kerjanya juga sangat mudah. Yakni, data CT scan pasien dimasukkan, lalu langsung keluar hasil segmentasinya. Setelah itu, masuk ke proses visualisasi 3D.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
