Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 Oktober 2023 | 20.27 WIB

F.X. Ferdinandus, Dosen iSTTS Pembuat Visualisasi 3D Infeksi Covid-19 di Paru-Paru

TUNJUKKAN PARU-PARU: Pandemi menginspirasi F.X. Ferdinandus membuat visualisasi luasan infeksi Covid-19 pada paru-paru. - Image

TUNJUKKAN PARU-PARU: Pandemi menginspirasi F.X. Ferdinandus membuat visualisasi luasan infeksi Covid-19 pada paru-paru.

F.X. Ferdinandus berhasil membuat visualisasi 3D infeksi luasan Covid-19 pada paru-paru. Kini inovasi itu bakal dikembangkan untuk mendeteksi tumor dan kanker.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

SEBAGAI dosen sekaligus wakil rektor III di Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (iSTTS), hari-hari F.X. Ferdinandus diisi beragam kegiatan. Meski sibuk, dia masih mampu menuntaskan program doktor departemen teknik elektro di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) hanya dalam kurun waktu 2,5 tahun.

Tidak hanya dilabeli sebagai lulusan doktor tercepat, Ferdinandus juga menjadi lulusan terbaik program doktor di ITS.

”Jarang program doktor diselesaikan dalam 2,5 tahun. Saya berhasil mencapai waktu 2,5 tahun dengan IPK 4,00,” katanya kemarin (5/10).

Dalam menuntaskan program doktor, Ferdinandus mengembangkan gagasan visualisasi 3 dimensi luasan infeksi Covid-19 pada paru-paru. Ide itu muncul saat dia memulai program doktor pada 2020.

Saat itu pandemi Covid-19 ganas-ganasnya. Dia ingin berkontribusi dalam menyelesaikan masalah virus korona di bidang teknik informatika.

”Saat itu kasus Covid-19 tinggi-tingginya. Virus tersebut menginfeksi saluran pernapasan manusia hingga paru-paru,” ujarnya.

Karena itulah, Ferdinandus berupaya mengembangkan pemodelan 3D pada citra paru-paru pasien yang terinfeksi virus korona dengan menggunakan Alpha Shape berbasis segmentasi U-Net.

Tujuannya adalah mendapatkan visualisasi 3D luasan infeksi virus pada paru-paru dan menghasilkan persentase infeksi terhadap volume paru-paru.

Menurut Ferdinandus, pasien yang dinyatakan Covid-19 oleh dokter ditindaklanjuti dengan CT scan. Nah, objek CT scan tersebut diubah menjadi model 3D untuk mendeteksi luasan Covid-19 pada paru-paru.

”Jadi, objek CT scan yang dijadikan pemodelan 3D tersebut bisa melihat detail kondisi paru-parunya dan luasan Covid-nya. Dengan begitu, akan memudahkan dokter dalam mendiagnosis pasien lebih tajam,” jelasnya.

Ferdinandus menjelaskan, inovasi itu difokuskan untuk mendeteksi kondisi paru-paru dari hasil CT scan pasien, luasan dan volume Covid-19 pada paru-paru dalam bentuk 3D. Namun, ke depan, inovasi tersebut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendeteksi kondisi kanker atau tumor pada pasien.

”Bisa dikembangkan untuk mendeteksi tumor dan kanker hingga gangguan infeksi lain,” kata dia.

Dari hasil riset yang dilakukan, lanjut dia, prediksi pemindaian objek CT scan pasien Covid-19 mendekati akurat. Cara kerjanya juga sangat mudah. Yakni, data CT scan pasien dimasukkan, lalu langsung keluar hasil segmentasinya. Setelah itu, masuk ke proses visualisasi 3D.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore