KURSUS SINGKAT: Nanang saat mengikuti tur heritage di Belanda beberapa waktu lalu. Dia bersama 20 pegiat sejarah dari negara lain mengeksplorasi bangunan bersejarah di sana.
Mewakili komunitas Begandring Soerabaia, Nanang Purwono berangkat ke Belanda. Selama berada di Negeri Kincir Angin itu, dia memperkenalkan kepedulian serta pergerakan masyarakat Surabaya dalam melestarikan dan mempertahankan bangunan bersejarah di Kota Pahlawan.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
SEBELAS Hari Nanang Purwono berada di Belanda. Beberapa kota dikunjunginya. Mulai dari Rotterdam, Amsterdam, Amersfoort, sampai Nijmegen. Dia datang bersama 20 pegiat sejarah dari negara lainnya. Rombongan tersebut mengikuti kursus singkat terkait strategi pengelolaan cagar budaya di Universitas Erasmus, Rotterdam.
Selain itu, kedatangan Nanang ke Belanda juga untuk menjalani misi khusus. Yaitu, memaparkan kepedulian serta semangat arek-arek Suroboyo dalam mengembangkan dan merawat bangunan-bangunan bersejarah di Kota Pahlawan.
’’Tanpa disadari, pergerakan bersama elemen masyarakat dalam melestarikan peninggalan bersejarah termonitor jelas oleh para pegiat sejarah di Belanda. Mereka memantau kegiatan kami melalui informasi di media,’’ ucapnya.
Nanang lantas mencontohkan kawasan Peneleh. Selama tiga tahun, pihaknya bersama masyarakat setempat berhasil menjadikan Peneleh sebagai kampung wisata heritage. Rumah serta bangunan peninggalan zaman kolonial kembali ditata seperti tempo dulu.
’’Kerja sama seperti itu yang ingin dilakukan pegiat sejarah Belanda. Terutama di Kota Amsterdam, Amersfoort, dan Nijmegen. Banyak komunitas atau pegiat sejarah di daerah tersebut. Namun, mereka berjalan sendiri-sendiri,’’ terangnya.
’’Sangat berbeda dengan di Surabaya. Antarkomunitas berkolaborasi demi menjaga dan melestarikan sejarah di Surabaya,’’ imbuh pria 56 tahun itu.
Selain memamerkan semangat masyarakat Surabaya, Nanang juga mendapat kesempatan melakukan penelitian terkait pengembangan wisata heritage di beberapa kota. Yaitu, Kota Rotterdam dan Nijmegen.
Penelitian dilakukan bersama tim dari Australia dan Korea Selatan. Tema penelitian adalah pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya dengan fungsi baru tanpa meninggalkan identitas dan nilai kearifan lokal.
Nanang mencontohkan Nijmegen. Daerah itu dikenal sebagai kota bertembok. Ketika abad ke-17 dan ke-20, bangunan era Romawi memenuhi kota tersebut. Namun, kini perwajahannya telah berubah.
Salah satu rekomendasinya adalah pemerintah harus tegas kepada pengembang untuk tidak menghilangkan nilai kearifan lokal di wilayah tersebut. Identitas daerah harus tetap ada. (*/c6/ai)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
