
PENGALAMAN PANJANG: Prof Yunita T. Winarto saat ditemui di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok.
Program itu akhirnya disebut sebagai Warung Ilmiah Lapangan yang didukung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Semua kegiatan tersebut dicatat masing-masing sebagai data. Kemudian, hasilnya dianalisis setiap bulan.
Jika mereka paham mengaitkan data curah hujan dengan kondisi agroekosistem lahannya, tentu akan mengetahui dampak-dampaknya. Termasuk pula bagaimana mencari solusinya.
’’Yang menekuni ini akhirnya ada yang memahami, misalnya La Nina, dia akan tahu harus tanam kapan supaya tidak kebanjiran waktu semai, tanam, dan juga panen,’’ jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, para petani juga mempelajari bagaimana melindungi lahan dan tanaman dari serangan hama serta bagaimana memilih komoditas dan varietas yang tepat sesuai kondisi iklim. Misalnya, sudah saatnya musim hujan, namun ada El Nino yang menyebabkan musim hujan mundur dan terjadilah kekeringan.
’’Yang tidak tahu kondisi itu pasti akan tetap menanam padi, tapi yang tahu akan menggantinya dengan menanam jagung seperti yang terjadi di Sumedang. Mereka yang memaksa tanam padi di musim itu pun akhirnya gagal dan yang tanam jagung selamat,’’ ujarnya.
Dia setidaknya telah mengajarkan program tersebut, antara lain, ke Gunungkidul (2008), Indramayu (2009), Lombok Timur (2015), dan Sumedang (2018). Di Gunungkidul dan Lombok Timur dia akui tidak berhasil.
’’Saya dulu mengajak di Indramayu itu 50 orang awalnya, tapi yang terus lanjut sekitar 20–25 orang. Yang sudah paham akan manfaatnya akhirnya juga terus lanjut sampai sekarang,’’ bebernya.
Mereka yang telah paham terkadang juga diajak untuk mengajarkan kepada petani di daerah lain. Bahkan, mereka telah membentuk organisasi yang berbadan hukum. Di antaranya, perkumpulan petani tanggap perubahan iklim dari Indramayu dan Sumedang. Di sana setidaknya ada 50 petani pemandu.
Yunita menambahkan, untuk menyebarluaskan ilmu tersebut, pihaknya sudah mencoba membawa ke komunitas-komunitas petani yang lain. Termasuk mengajak dinas terkait serta mengenalkan kepada pemerintah.
Namun, diakuinya memang tidak semuanya merespons positif. Selain itu, pemerintah juga sudah memiliki program sendiri: sekolah lapangan iklim yang diinisiasi BMKG.
”Kalau di sekolah lapangan iklim itu, petani diajak mengamati di satu lahan yang disebut lahan pengamatan. Tapi, kalau metode saya itu, petani menjadi peneliti di lahannya sendiri sehingga paham apa yang terjadi di lahannya,’’ katanya. (*/c6/ttg)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
