Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Mei 2023 | 22.10 WIB

Perlu Tahu soal La Nina dan El Nino agar Tak Gagal Panen

PENGALAMAN PANJANG: Prof Yunita T. Winarto saat ditemui di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok. - Image

PENGALAMAN PANJANG: Prof Yunita T. Winarto saat ditemui di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok.

Program itu akhirnya disebut sebagai Warung Ilmiah Lapangan yang didukung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Semua kegiatan tersebut dicatat masing-masing sebagai data. Kemudian, hasilnya dianalisis setiap bulan.

Jika mereka paham mengaitkan data curah hujan dengan kondisi agroekosistem lahannya, tentu akan mengetahui dampak-dampaknya. Termasuk pula bagaimana mencari solusinya.

’’Yang menekuni ini akhirnya ada yang memahami, misalnya La Nina, dia akan tahu harus tanam kapan supaya tidak kebanjiran waktu semai, tanam, dan juga panen,’’ jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, para petani juga mempelajari bagaimana melindungi lahan dan tanaman dari serangan hama serta bagaimana memilih komoditas dan varietas yang tepat sesuai kondisi iklim. Misalnya, sudah saatnya musim hujan, namun ada El Nino yang menyebabkan musim hujan mundur dan terjadilah kekeringan.

’’Yang tidak tahu kondisi itu pasti akan tetap menanam padi, tapi yang tahu akan menggantinya dengan menanam jagung seperti yang terjadi di Sumedang. Mereka yang memaksa tanam padi di musim itu pun akhirnya gagal dan yang tanam jagung selamat,’’ ujarnya.

Dia setidaknya telah mengajarkan program tersebut, antara lain, ke Gunungkidul (2008), Indramayu (2009), Lombok Timur (2015), dan Sumedang (2018). Di Gunungkidul dan Lombok Timur dia akui tidak berhasil.

’’Saya dulu mengajak di Indramayu itu 50 orang awalnya, tapi yang terus lanjut sekitar 20–25 orang. Yang sudah paham akan manfaatnya akhirnya juga terus lanjut sampai sekarang,’’ bebernya.

Mereka yang telah paham terkadang juga diajak untuk mengajarkan kepada petani di daerah lain. Bahkan, mereka telah membentuk organisasi yang berbadan hukum. Di antaranya, perkumpulan petani tanggap perubahan iklim dari Indramayu dan Sumedang. Di sana setidaknya ada 50 petani pemandu.

Yunita menambahkan, untuk menyebarluaskan ilmu tersebut, pihaknya sudah mencoba membawa ke komunitas-komunitas petani yang lain. Termasuk mengajak dinas terkait serta mengenalkan kepada pemerintah.

Namun, diakuinya memang tidak semuanya merespons positif. Selain itu, pemerintah juga sudah memiliki program sendiri: sekolah lapangan iklim yang diinisiasi BMKG.

”Kalau di sekolah lapangan iklim itu, petani diajak mengamati di satu lahan yang disebut lahan pengamatan. Tapi, kalau metode saya itu, petani menjadi peneliti di lahannya sendiri sehingga paham apa yang terjadi di lahannya,’’ katanya. (*/c6/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore