
MENELITI BAHASA: Anisyah Dwi Anggraini (dua dari kiri) berdiskusi dengan sejumlah kawan. (INSTAGRAM)
Ide dari Video yang Mencampur Bahasa Suroboyoan, Indonesia, dan Inggris
Penelitian yang hasilnya dituangkan menjadi jurnal memperlihatkan para remaja mengefisiensikan penggunaan kata agar lebih akrab dengan lawan bicara. Bahasa walikan pun kini tak cuma populer di Malang Raya.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
---
BERSELANCAR di media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian Anisyah Dwi Anggraini. Suatu hari di tengah keasyikan scrolling reels Instagram, ide menghinggapi setelah menyaksikan sebuah video. Video tersebut menunjukkan seorang kreator konten sedang memarodikan cara bicara cece-cece Surabaya dengan mencampur tiga bahasa: bahasa Jawa Suroboyoan, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Dia pun meluncur ke TikTok untuk mendapatkan lebih banyak konten serupa. Dari sana, mahasiswa akhir Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair) itu akhirnya menemukan titik terang untuk skripsinya. Skripsi yang rencananya dijuduli Campur Kode dalam Video Konten Cece Surabaya pada Akun TikTok @brandonlilhere: Kajian Sosiolinguistik tersebut saat ini tengah dalam proses.
”Video di TikTok-nya @brandonlilhero kan benar-benar booming banget. Aku merasa bahasa yang digunakan di situ banyak code switching dan code mixing. Fenomena yang menarik ya, trilingual,” tutur Nisya, sapaan akrabnya.
Remaja 22 tahun itu pun memulai penelitiannya.
Salah satu yang dia temukan, perbedaan usia ternyata memengaruhi cara berbahasa. ”Ada video yang situasinya anak ngobrol sama ortunya. Ternyata, cece-cece lebih condong menggunakan bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris, sedangkan mamanya lebih banyak mixing dengan kosakata Hokkian daripada bahasa Inggris,” ujarnya.
Untuk membuktikan asumsinya, Nisya pergi ke salah satu mal di Surabaya Barat. Dia banyak mendengar dan menyimak. Dugaannya tepat, golongan remaja yang paling banyak mencampur bahasa Inggris. Meski Nisya Jawa tulen, dia jadi tersadar bahwa selama ini juga kerap mencampur bahasa dalam percakapan sehari-hari.
”Sedikit banyak aku relate. Sebagai yang sama-sama pengguna bahasa arek, aku sering banget mixing dengan bahasa Indonesia, kadang juga bahasa Inggris disisip-sisipkan,” imbuhnya.
Bukan hanya Nisya atau di Surabaya saja. Belakangan muncul juga tren bahasa Jaksel. Bahasa gaul ala anak Jakarta Selatan itu mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu kalimat, bahkan satu kata. Kepopuleran bahasa Jaksel tidak hanya di kalangan anak muda ibu kota, tetapi sudah meluas ke kota-kota lain di tanah air.
”Kayak BTW (by the way), FYI (for your information), realize, basically, itu kan akrab banget dengan sehari-hari dan sudah sering kita pakai. Bahkan, adikku yang kosakatanya masih belum kompleks sudah menggunakannya. Kalau bapak ibukku masih butuh penjelasan apa itu OTW, BTW,” papar Nisya.
Dalam sosiolinguistik, fenomena itu disebut alih kode dan campur kode. Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Unair Ni Wayan Sartini melihatnya sebagai fenomena kebahasaan masyarakat. Hasil pemikiran atau ide kreatif anak muda.
”Tidak akan menjadi masalah jika masyarakat menggunakan bahasa yang bercampur. Selama penggunaannya berada dalam situasi yang tepat. Sebagai bahasa pergaulan, sah-sah saja,” jelasnya seperti dikutip dari laman Unair.
Tren bahasa Jaksel hanya satu di antara sekian bahasa gaul yang hype di generasi Z. Media sosial membuat penyebarannya semakin cepat dan luas. Karena itu, tiga dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menelaah ekspresi remaja melalui penggunaan bahasa gaul di media sosial.
”Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola pembentukan bahasa gaul dan penggunaannya. Sebagai upaya mendokumentasikan perkembangan bahasa di masyarakat,” ujar Fida Pangesti, satu di antara ketiga dosen.
Fida bersama dua rekannya, Daroe Iswatiningsih dan Fauzan, mengumpulkan data dari lima belas remaja yang aktif menggunakan bahasa gaul saat berkomunikasi. Ketiganya memantau media sosial 15 responden tersebut, baik Facebook, Twitter, Instagram, maupun WhatsApp.
Ekspresi Remaja Milenial melalui Penggunaan Bahasa Gaul di Media Sosial, demikian hasil penelitian mereka yang kemudian ditampilkan di KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra dan Pengajarannya Vol 7 No 2, Oktober 2021. ”Itu diambil dalam kurun waktu lima bulan, sejak 10 Februari hingga akhir Juli tahun lalu. Hasil yang kami temukan sangat banyak dan beragam,” ujarnya.
Di antaranya, bahasa gaul berupa singkatan, akronim, pemendekan kata yang dipelesetkan, kata yang mengalami pergeseran makna, dan pembalikan kata. Bahasa yang digunakan pun beragam, mulai bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, hingga campur kode bahasa Indonesia dan bahasa asing.
Kalangan remaja dinilai kerap menyingkat kata dan membuat akronim. Misalnya, PC (private chat), CMIIW (correct me if I’m wrong), OTW (on the way), mager (malas gerak), kepo (knowing every particular object), baper (bawa perasaan), bucin (budak cinta), gabut (gaji buta), dan gercep (gerak cepat).
”Pola pembentukan persekutuan mengambil suku pertama di masing-masing kata. Namun demikian, bentuk akronim tersebut sudah menjadi kesepakatan bersama pemakainya,” lanjutnya.
Fida menyebut pemendekan dan pemelesetan kata menjadi pola pembentukan bahasa gaul yang unik dan menarik untuk dikaji mendalam. Para remaja mengefisiensikan penggunaan kata agar lebih akrab dengan lawan bicara. Misalnya, cans (cantik), lur (dulur), dan sans (santai).
’’Penutur remaja juga terlihat berupaya melakukan permainan bahasa atau pemelesetan kata. Contohnya, mehong (mahal), sotoy (sok tahu), gemay (gemas), keleus atau keles (kali),” tambahnya.
Dalam bahasa gaul, lanjut Fida, juga terjadi pembalikan kata. Bahasa walikan pun kini tidak hanya populer di kawasan Malang Raya. Namun, juga digunakan penutur daerah lain seperti kata sabi (bisa) dan kuy (yuk).
Sebagai generasi Z yang aktif bermedia sosial, Nisya sendiri mengaku gampang terbawa tren. Kosakata baru di media sosial kerap dia bawa dalam komunikasi di lingkungannya.
”Secara alamiah switching ke bahasa anak Twitter misalnya. Komunikasi sama teman gitu aku pakai bahasa-bahasa di medsos itu. Kayak seru gitu feel-nya,” ungkap remaja asal Sidoarjo itu.
Menurut dia, tren bahasa tersebut bukan suatu penyimpangan. Apalagi bahasa bersifat dinamis sehingga akan terus berkembang. Bagi Nisya, yang terpenting adalah cara menyikapinya.
”Fenomena ini justru memunculkan variasi bahasa. Fine-fine aja asalkan kita dapat menempatkan posisi sesuai konteks dan situasi,” ucapnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
