Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Agustus 2022 | 23.44 WIB

Gamelan tanpa Penabuh ya Tidak Bisa Bunyi

MERAWAT TRADISI: Philips Budi Swasono berlatih menabuhkan gamelan bersama warga di rumah Ki Harjono Sunjoyo. (FRIZAL KURNIAWAN/JAWA POS) - Image

MERAWAT TRADISI: Philips Budi Swasono berlatih menabuhkan gamelan bersama warga di rumah Ki Harjono Sunjoyo. (FRIZAL KURNIAWAN/JAWA POS)

GOTONG ROYONG menjadi cara paling mudah untuk menyatukan keberagaman. Menanggalkan embel-embel agama dan profesi, warga menyingsingkan lengan untuk kepentingan bersama.

"Dari dulu kami sudah melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Pada 2017 launching Kampung Pancasila. Tahun ini ditetapkan sebagai Kampung Pancasila,” ungkap Philipus Budi Swasono, perangkat Desa Kapencar, saat ditemui Jawa Pos pada Rabu (9/8).

Di desa yang terdiri atas Dusun Kapencar dan Dusun Sontoyanan itu, tradisi warisan leluhur masih tetap lestari. Kenduri, memetri, gugur gunung, tledekan, dan tayub masih mewarnai kehidupan bermasyarakat sekitar 5.800 warga.

Kesenian menjadi pengikat warga yang mayoritas adalah petani tembakau itu. Jawa Pos menyaksikan sendiri antusiasme para ibu berlatih karawitan di rumah Ki Harjono Sunjoyo. Mereka menyempatkan menabuh gamelan di sela kesibukan panen raya tembakau di Desa Kapencar, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Tembang yang mereka mainkan siang itu adalah Gugur Gunung. Lirik lagu tersebut menggambarkan tentang gotong royong.

"Kalau punya gamelan, tapi tidak mengumpulkan penabuh, ya tidak bisa bunyi. Ini juga sebagai jalan kerukunan dan persatuan karena orang-orang berkumpul untuk berkesenian,” terang Harjono.

Sehari-hari pria yang dikenal sebagai dalang itu menularkan ilmu karawitan dan pedalangan kepada warga desa. Selain ibu-ibu, dia mengajari anak-anak putus sekolah. Syaratnya hanyalah mau dan punya waktu. Tidak ada kriteria berdasar agama, jenjang pendidikan, umur, dan jenis kelamin. Semua bisa menjadi penabuh.

Selain karawitan, masyarakat Kapencar masih nguri-uri kesenian tradisional lain seperti tari topeng dan jaran kepang (kuda lumping). Kemajemukan Desa Kapencar diangkat Deska Mahendra ke dalam serangkaian film dokumenter. Belum lama ini, film berjudul Tatanan Hidup Baru terpilih sebagai nomine terbaik Festival Film Dinas Kominfo Wonosobo.

’’Film ini merekam pelaksanaan protokol kesehatan di tempat ibadah di tempat kami. Masjid, gereja, dan wihara,” kata Deska yang merupakan penduduk asli Kapencar.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore