alexametrics
Cerita Minggu

Kami Akan Terus Bergerak sampai Wabah Ini Berlalu

Tularkan Pedulinya, Jangan Virusnya
22 Maret 2020, 13:41:39 WIB

Mereka bergerak membantu para pekerja informal yang tak bisa menafkahi keluarga akibat terpapar virus korona. Juga, para awak medis di garis depan yang kekurangan alat pelindung diri. Dana dikumpulkan lewat beragam cara: mulai patungan, jualan merchandise, sampai penggalangan melalui situs crowdfunding.

FERLYNDA P.-SYAHRUL Y., Jakarta, Jawa Pos

SETIDAKNYA sudah ada 12 keluarga yang bisa lebih tenang menghadapi hari-hari ke depan.

Sebab, mereka tak perlu lagi memikirkan berbagai kebutuhan dasar.

Mereka adalah keluarga yang kehilangan pencari nafkah utama yang harus menjalani karantina akibat pagebluk (bencana) virus korona. Sehingga mesti diisolasi dan tidak bisa mencari nafkah, tidak menerima gaji, atau harus cuti tanpa dibayar. Baik dalam status PDP (pasien dalam pengawasan) maupun sudah positif terinfeksi virus SARS CoV-2 penyebab penyakit Covid-19.

Untuk mereka, Yayasan Gerakan Indonesia Sadar Bencana (Graisena) siap mengulurkan tangan. Setidaknya sampai wabah mereda. ”Dua belas (keluarga) ini yang sudah terverifikasi sampai hari ini (Jumat, 20/3),” kata Ketua Yayasan Graisena Agung Firmansyah kepada Jawa Pos.

Covid-19 memang menghembalang Indonesia dan dunia. Perbatasan demi perbatasan ditutup. Korban meninggal terus berjatuhan.

Tapi, yang membesarkan hati, di tengah kesuraman itu, ada banyak sekali sekelompok orang atau individu-individu, dari berbagai latar belakang, yang dengan gigih mengulurkan tangan. Memberikan bantuan, dalam berbagai rupa.

Dari vokalis Coldplay Chris Martin yang mengadakan konser gratis lewat Instagram sampai presenter televisi Nikita Mirzani yang menyumbangkan Rp 100 juta. Mulai triliuner Jack Ma yang mendonasikan perlengkapan medis hingga anak-anak SMAN 1 Gerung di Lombok Barat yang mengkreasi hand sanitizer. Dari Manchester United dan Manchester City yang bergandengan menyumbangkan uang untuk bank makanan hingga Jaringan Gusdurian Indonesia yang menggalang dana untuk pekerja informal dan kelompok miskin kota.

Banyak, banyak sekali. Terlalu banyak untuk disebut sini. Yang pasti, kepedulian kepada sesama yang jadi pengikat. Mereka menularkan kebaikan. Dan, di saat yang sama juga giat mengajak siapa saja untuk turut memerangi penularan virus yang telah menewaskan ribuan orang di seluruh dunia tersebut.

Yang dilakukan Yayasan Graisena berawal dari keprihatinan para anggotanya atas dampak Covid-19 terhadap kalangan bawah. Sebab, jika kepala keluarga harus diisolasi karena masih dalam pengawasan atau sudah positif, bisa jadi mereka tidak memiliki penghasilan lagi. ”Padahal, di rumah ada yang menunggu untuk dinafkahi,” kata Agung.

Namun, tentu pengurus yayasan yang anggotanya di Facebook sebanyak 60 ribu member itu harus memastikan donasi tepat sasaran. Karena itu, ada dua langkah verifikasi yang harus dilalui pemohon.

Pertama, menunjukkan bahwa benar-benar dalam masa isolasi karena Covid-19. ”Tim kami ada juga yang tenaga medis. Jadi, bisa membantu untuk verifikasi.”

Selanjutnya adalah verifikasi bahwa benar-benar tidak mampu. Surat ini bisa dimintakan dari pengurus desa setempat. Jika pemohon merupakan sopir ojek daring, bisa ditunjukkan screenshot yang menunjukkan bahwa dia betul bekerja sebagai driver ojek daring. Dua verifikasi itu, menurut pria 32 tahun tersebut, tidak menyulitkan masyarakat. Di sisi lain, yayasan masih bisa mendapatkan bukti untuk memberikan bantuan kepada orang yang tepat.

Lalu, dari mana sumber dana mereka? Ternyata seluruh anggota grup patungan dengan pembelian merchandise. Memang sejak awal berdiri pada 2013, hal tersebut sudah dilakukan.

Selain itu, ada yang berdonasi. ”Ada anggota kami yang berjualan dan semua keuntungan digunakan untuk membantu,” tutur Agung.

Ada juga anggota yang memiliki inisiatif menggalang dana. Setelah kabar Graisena memberikan batuan kepada mereka yang terdampak Covid-19, ada pula masyarakat yang menghubungi untuk ikut menyumbang.

Jaringan Gusdurian Indonesia menggalang dana lewat gerakan #SalingJaga. Tidak sendirian, mereka juga didukung Gerakan Islam Cinta. Bersama-sama mereka sudah membuka saluran donasi di situs crowdfunding (urun dana biasanya secara daring) kitabisa.com sejak Selasa lalu (17/3).

Sampai Kamis malam (19/3), total donasi yang berhasil terkumpul mencapai Rp 386 juta. Angka tersebut dipastikan terus berubah mengingat tempo pengumpulan donasi masih panjang. Dengan target donasi Rp 2 miliar.

Menurut Alissa Wahid, koordinator Jaringan Gusdurian, pekerja informal merupakan salah satu kelompok yang rentan terinfeksi korona. Sebabnya bermacam-macam.

Di antaranya, keharusan tetap bekerja meski banyak pihak sudah menggaungkan work from home atau bekerja dari rumah. Pekerja informal yang dimaksud putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid (almarhum) itu beragam.

Mulai penjaja makanan keliling hingga tukang ojek. ”Kalau mereka masih ada di jalan raya, pusat-pusat keramaian, ada potensi penularan,” katanya.

Gusdurian bersama Gerakan Islam Cinta mengajak masyarakat berdonasi sampai akhir bulan ini. ”Kami akan fokus pada bantuan barang-barang, bahan-bahan pokok. Itu dulu, karena kami bicara soal survival,” ucap dia.

Alissa menuturkan, kebutuhan pokok itu bukan hanya bahan makanan. Tapi, juga alat yang diperlukan untuk menjaga diri dari wabah virus korona seperti masker. Rencananya berapa pun donasi yang terkumpul langsung dibelanjakan barang-barang tersebut. Kemudian, langsung mereka bagikan kepada pekerja informal dan kelompok miskin kota. ”Melalui jaringan Gusdurian, melalui posko-posko yang akan kami buka,” ucapnya.

Seperti juga Yayasan Graisena, agar bantuan tepat sasaran, Gusdurian akan selektif. Tidak untuk menyulitkan, tetapi memastikan semua bantuan diterima pihak-pihak yang memang membutuhkan.

Tentu saja Gusdurian juga tidak berdiam diri dan hanya menunggu. Nantinya mereka menyebar bantuan kepada para pekerja informal yang menjadi target.

Mereka akan melihat daerah yang sudah terdata terdapat pasien korona. Kemudian, membuka posko di sana. ”Misalnya sekarang ini kita tahu di Surabaya sudah ada, Banyumas ada, di Cianjur juga sudah ada,” terang dia.

Gerakan serupa dilakukan Junior Doctors Network (JDN). Melalui media sosial, mereka menggalang donasi untuk membantu tenaga-tenaga medis yang saat ini tengah kekurangan alat pelindung diri (APD).

Bersama Lawan Covid-19. Itulah yang mereka usung lewat gerakan yang dikampanyekan akun Twitter Andi Khomeini Takdir. ”Dari teman-teman di banyak daerah, alat pelindung diri mereka itu jumlahnya terbatas,” ungkap dia kepada Jawa Pos.

Sementara di luar rumah sakit atau fasilitas kesehatan, kebutuhan masyarakat juga tinggi. Karena itu, JDN menginisiasi gerakan tersebut. Mereka mengajak semua pihak untuk saling membantu. Donasi yang terkumpul akan dipakai untuk membeli APD. Mulai masker, kaca mata, sarung tangan, sampai hand sanitizer. Tanpa kelengkapan APD yang memadai, Andi menyebutkan bahwa tenaga medis yang tengah berjibaku melawan virus korona kian rentan terpapar.

Lebih dari itu, mereka bisa saja menularkan virus kepada pasien yang datang. Padahal, saat ini makin banyak masyarakat yang datang untuk memeriksakan diri.

Tidak ada target yang dipatok JDN. Baik waktu maupun jumlah donasi yang terkumpul.

Bukan hanya untuk Jakarta, Jogjakarta, Semarang, dan Surabaya, gerakan yang berjalan sejak empat hari lalu itu akan berusaha sebaik-baiknya menjangkau daerah-daerah di luar Jawa. Sebab, dia mendapat kabar bahwa ODP dan PDP sudah ada di mana-mana. ”Kami akan terus bergerak sampai wabah ini berlalu,” kata Andi.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads