Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Agustus 2021 | 18.16 WIB

Di Sepak Bola, Perempuan Bisa Jalankan Beragam Peran

Souraiya Farina (Souraiya for Jawa Pos)  Dyan Puspito Rini (ANGGER BONDAN/JAWA POS) Sally Atyasasmi (Sally for Jawa Pos) - Image

Souraiya Farina (Souraiya for Jawa Pos) Dyan Puspito Rini (ANGGER BONDAN/JAWA POS) Sally Atyasasmi (Sally for Jawa Pos)

Di pundak mereka turut diletakkan beban kebangkitan tim, prestasi sepak bola putri, dan penyaringan bakat sejak dini.

---

TAK ada Mia Hamm di Bojonegoro. Tapi, kota di Jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah itu punya Sally Atyasasmi, kepada siapa harapan kebangkitan sepak bola di sana diletakkan.

Belum ada yang sekaliber Sun Wen di sini. Tapi, Souraiya Farina telah dan sedang bekerja keras mewujudkan mimpi sepak bola putri bisa tegak berdiri karena prestasi.

Tidak pernah mudah menemukan dan membina talenta. Tapi, Dyan Puspito Rini tahu apa yang harus dia kontribusikan agar jangan sampai ada bakat yang terlewat karena lepas dari amatan.

Ya, Indonesia mungkin memang belum punya figur sekuat Hamm yang pernah dua kali merebut emas Olimpiade atau Sun Wen yang menjadi pesepak bola putri pertama yang dinominasikan sebagai Pemain Terbaik Asia. Tapi, sepak bola Indonesia tidak akan pernah kekurangan perempuan-perempuan tangguh yang sepenuh hati memberikan kontribusi untuk sepak bola.

Seperti Sally di Persibo Bojonegoro. Pada 2015, Persibo yang disanksi sejak 2012 butuh bantuan. Bersama beberapa kolega, Sally yang masuk parlemen lokal mulai 2014 terlibat dalam jajaran manajemen. Dia ditunjuk sebagai bendahara.

Pada 2016, saat sanksi Persibo dihapuskan, perempuan 31 tahun itu ditunjuk sebagai manajer tim. Maklum, beberapa koleganya cabut duluan karena tidak kuat mengurus tim berjuluk Laskar Angling Dharma itu. ”Saya memilih bertahan. Karena, bagaimanapun kondisinya, Persibo tetap klub kebanggaan kami,” kata alumnus Universitas Airlangga itu.

Kini tugasnyalah sebagai manajer Persibo untuk membangkitkan tim yang pernah menjuarai Piala Indonesia dan tampil di kompetisi Asia tapi kini terbenam di Liga 3 tersebut. Semua tahu betapa beratnya itu.

Ada ratusan tim yang berkompetisi di Liga 3, dari Sabang sampai Merauke, dan hanya enam –kalau didasarkan jumlah tim yang terdegradasi dari Liga 2 ke Liga 3– yang berhak promosi. Belum lagi persoalan klasik: dana. Di masa pandemi Covid-19 sesulit ini, siapa yang masih mau melirik tim dari divisi amatir?

Karena itu, Sally berniat membenahi tata kelola Persibo. ”Jadi, saya harus berpikir bagaimana caranya agar klub tidak bergantung pada sponsor dan dana subsidi saja,” kata ketua Komisi B DPRD Bojonegoro kelahiran 18 Desember 1989 itu.

Souraya Farina paham sekali beban yang dihadapi Sally. Sejak 2017, dia adalah sekretaris umum Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI).

Seperti Liga 3, sepak bola putri adalah ”anak tiri” persepakbolaan tanah air. Minim dana, minim perhatian, minim kompetisi. Tapi, seperti Sally juga, perempuan yang telah 15 tahun bekerja di PSSI itu tak pernah dan tak hendak mundur.

”Saya sungguh ingin melihat sepak bola putri terus berkembang dan menjadi profesional,” kata Farina.

Kemunculan Ade Mustikiana Oktafiani yang akan menjalani trial di tim putri Bayern Muenchen bak air hujan yang jatuh setelah kemarau panjang. ”Semoga dia sukses sehingga nanti bisa menjadi role model bagi para pemain lain,” kata kepala hubungan luar negeri dan dalam negeri PSSI sejak Juli 2020 itu.

Tapi, mendapatkan bakat seperti Ade, baik di putri maupun putra, tidaklah mudah. Karena itu pula, Dyan Puspito Rini sekarang tengah berkonsentrasi pada sepak bola usia dini. Sejak fase sekolah dasar. ”Kalau mereka salah diajari dari awal, nanti ndandani lebih susah,” jelas sekretaris Asprov PSSI Jawa Timur tersebut.

Dia dan pengurus Asprov PSSI Jatim pun sedang menyiapkan program lisensi D untuk guru SD. Saat ini sekolah-sekolah Muhammadiyah akan menjadi percontohannya. ”Kenapa guru SD? Ya, seharusnya yang menemukan bakat pesepak bola guru-guru SD,” ujarnya.

Ririn, demikian dia biasa disapa, berlatar belakang atlet layar. Dia juga baru dua bulan menduduki kursinya sekarang di Asprov PSSI Jawa Timur.

Tapi, dia seorang pembelajar yang serius. Yang setiap saat bersedia membuka mata dan telinga untuk mendengarkan kritik dan masukan.

Sally, Farina, dan Ririn adalah bukti bahwa perempuan bisa menjalankan berbagai peran di sepak bola. Tak cuma sebagai pemain atau pelatih. Tapi juga manajer, wasit, atau pengurus. Apa yang bisa dilakukan pria bisa dikerjakan sama baiknya oleh wanita.

Farina, misalnya, memulai pengabdian panjangnya di PSSI di departemen media. ”Wanita berhak ada di sana, berhak untuk belajar, mendapatkan hasil atas upaya dan apresiasi terhadap usahanya,” katanya.

Yang sinis, yang mencibir, mungkin memang masih ada. Tidak pernah mudah menghapus stigma. Tapi, pada akhirnya kinerja yang bicara.

Lima belas tahun Farina di PSSI memperlihatkan itu. Dia tetap dipercaya sejak era kepemimpinan Nurdin Halid dulu sampai Mochamad Irawan sekarang ini.

Penunjukan sebagai manajer kepada Sally membuktikan itu. Dia bertahan saat satu per satu berjatuhan atau memilih pergi.

”Ide-ide saya juga dianggap unik. Mungkin karena selama ini tak pernah terpikirkan para rekan kerja saya yang pria,” ujar Ririn yang menjadi sekretaris perempuan pertama di Asprov PSSI Jatim.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore