Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Juni 2021 | 18.00 WIB

Menyikapi Maraknya Kasus Pelecehan Seksual, Berdiri Bersama Korban

KOLABORASI: Ramengvrl Danilla Riyadi, dan Marion Jola punya pengalaman pahit sebagai korban pelecehan. (CREATHINK PUBLICIST) - Image

KOLABORASI: Ramengvrl Danilla Riyadi, dan Marion Jola punya pengalaman pahit sebagai korban pelecehan. (CREATHINK PUBLICIST)

Don’t Touch Me. Single kolaborasi Marion Jola, Danilla Riyadi, dan Ramengvrl itu mengirim pesan penting. Semua, terlebih perempuan, harus menjadi pribadi yang lebih kuat, termasuk dalam memerangi pelecehan seksual.

---

SEJUMLAH lirik pada lagu yang diaransemen Danilla dan Lafa Pratomo itu seperti mencerminkan realitas kasus pelecehan seksual yang marak terjadi. Misalnya, Why should I be the one who takes the blame yang menggambarkan betapa korban sering menjadi pihak yang disalahkan (victim blaming). Atau, Stop telling me, I do things for myself. Pernyataan untuk tidak mendikte korban, misalnya soal cara berpakaian.

Dalam jumpa pers virtual Kamis (10/6), Marion mengungkapkan, ide lirik dan tema berawal dari pembicaraannya dengan Danilla dan Ramengvrl. Lantaran ketiganya punya gaya musik dan vokal berbeda, harus ada satu kesamaan yang membuat mereka klik dalam berkarya. ’’Akhirnya, pas itu sepakat bikin lagu tentang perempuan dan hal-hal nggak enak yang sering kami alami,” tutur Marion.

Sebenarnya proyek Don’t Touch Me mulai dikerjakan Maret lalu. Kebetulan, saat lagu dirilis pada Jumat (11/6), isu pelecehan seksual dan kampanye perlawanannya sedang marak dibahas, bahkan menjadi trending di media sosial.

Marion, Danilla, dan Ramengvrl menyatakan bahwa semua itu merupakan kebetulan. ’’Apalagi kalau mau rilis lagu kan nggak bisa asal rilis. Semua ada jadwalnya,” kata Marion.

Ketiganya menyadari dan mengakui bahwa sebagai perempuan, mereka pernah menjadi sasaran kekerasan dan pelecehan. Marion, misalnya. Pelantun Pergi Menjauh itu mengaku sering diobjektifikasi dan dilecehkan. ’’Dan, oknum-oknum pelakunya sering menemukan aku di mana pun aku berada. Mulai dari sejak aku di Kupang sampai di Jakarta,” cerita perempuan asal Kupang itu.

Pun, Danilla. Penyanyi yang sering membawakan lagu bergenre indie folk tersebut mengaku pernah mengalami kejadian tak mengenakkan saat kecil. Saat SD, dia mendapat perlakuan tak senonoh dari orang yang tinggal serumah dengannya.

Sementara itu, Ramengvrl bercerita soal kejadian yang menimpanya saat mulai berkarier di industri musik. Pemilik nama asli Putri Soeharto tersebut mengaku pernah mendapat pelecehan dari salah satu pelaku industri musik yang sempat dikaguminya. ’’Ciuman tanpa consent. Dulu gue respek sama dia, sekarang nggak lagi,” katanya.

Selain berbagai pengalaman tak mengenakkan, Marion, Danilla, dan Ramengvrl menyinggung berbagai persoalan yang masih terkait dengan pelecehan seksual. Misalnya, soal pakaian yang kerap disebut sebagai alasan pelaku berbuat asusila. Hal itu tentu sangat merugikan korban. ’’Padahal, yang salah itu ya pelakunya dong, bukan korban,” tegas Ramengvrl.

Berkaca dari pengalaman pahit sebagai korban pelecehan, Marion, Danilla, dan Ramengvrl ingin lagu rilisan mereka menjadi sumber kekuatan dan motivasi. ’’Nggak cuma buat perempuan, tapi juga buat laki-laki atau bahkan gender apa pun. Ini untuk menyuarakan bahwa kita semua sering mendapat tekanan,” ujar Ramengvrl.

Marion berharap Don’t Touch Me bisa memberikan semangat bagi siapa pun yang mendengar. Termasuk korban pelecehan. ’’Ini lagu buat kalian dan inget bahwa kalian layak diperjuangkan,” tegas perempuan 21 tahun itu.

Selain lewat lagu, Marion, Danilla, dan Ramengvrl mengajak semua orang untuk lebih berani bersuara dan ambil bagian dalam pencegahan pelecehan seksual. ’’Kalau dari aku, solusinya adalah coba bercerita. Bisa sama keluarga atau orang lain yang dipercaya,” kata Marion.

Danilla dan Ramengvrl lantas menekankan bahwa dalam kasus pelecehan seksual, korban tidak perlu merasa bersalah. ’’Inget, lo harus cinta sama diri lo sendiri dan kita semua itu tetap berharga,” tegas Danilla.

Dukung Korban untuk Speak Up

Photo

ILUSTRASI: Foto diperagakan model. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Keberanian korban pelecehan seksual untuk bersuara seharusnya mendapatkan dukungan. Harus diapresiasi. Sebab, banyak kasus yang akhirnya justru membuat para korban enggan membagikan pengalamannya.

Musisi dan aktivis Melanie Subono mengatakan, menjadi korban pelecehan dalam bentuk apa pun tentu tidak mudah. ”Why? Karena kalau berbicara konteks di Indonesia, sering kali korban saat bercerita malah dilecehkan lagi. Perempuan bisa jadi korban pelecehan lagi di tempat yang seharusnya dia dilindungi,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (12/6).

Selain itu, lanjut Melanie, korban pelecehan biasanya mendapatkan stigma buruk dari masyarakat. Alih-alih memperoleh bantuan dan dukungan, korban justru mendapatkan cibiran.

Menurut Melanie, masih banyak orang yang justru victim blaming atau menyudutkan korban pelecehan, baik secara verbal maupun nonverbal. Padahal, korban pelecehan tak memandang gender atau pakaian yang dikenakan. Perempuan dan laki-laki, berpakaian terbuka maupun tertutup, juga menjadi korban. ’’Kita sering kali dianggap, ’Oh iyalah lo dilecehin karena baju lo seperti itu’. Padahal, ada datanya juga bahwa mayoritas korban pelecehan maupun pemerkosaan itu adalah orang-orang yang berpakaian tertutup dan berada di tempat ramai,” ungkapnya.

Upaya pendampingan dan perlindungan kepada para korban juga harus diperkuat. Sebab, tak mudah bagi korban membagikan pengalaman buruk yang dialaminya. Terlebih jika pelaku merupakan figur yang memiliki ’’nama’’ atau ’’power’’. Nyali korban untuk bersuara bisa menciut.

Baca juga: Korban Pelecehan Seks Anak Anggota DPRD Bekasi Kena Penyakit Kelamin

Melanie juga menyayangkan pihak-pihak yang menyudutkan korban dengan menuduh mencari sensasi. Dianggap caper atau pansos. Padahal, bisa jadi korban berani bicara setelah melihat seseorang yang lebih dulu mengungkap peristiwa yang dialami. ”Nah, sama dengan kejadian di sini. Konon pelakunya public figure, maka dia takut. Mungkin dia melihat di sekelilingnya ada perempuan yang berani speak up, jadi dia punya kekuatan untuk speak up juga,” tutur perempuan yang berulang tahun setiap 20 Oktober tersebut.

Dengan kondisi yang tidak mudah itu, perlu ada kesadaran dari seluruh elemen masyarakat. Juga empati dan sensitivitas dari para pendamping korban. Yang terpenting, korban juga harus bisa mendapatkan keadilan.

Seperti dalam kasus perempuan yang mengaku dilecehkan penyiar radio Gofar Hilman, Melanie mengapresiasi rekan-rekan terduga yang mengambil sikap untuk berdiri bersama korban. ’’Dalam kasus ini, teman-teman tertuduh kan ngomong saya berdiri bersama korban. Sekarang korban merasa ’kami ada dengan kalian, we are with you’. Jadi, kita encourage semua untuk bicara. Kalau korban diam, pelaku akan berpikir ’Oh she’s okay’. Jadi, ya tunjukkan bahwa we’re not okay dan it’s okay kalau lo mau berbicara,” tegas dia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore