
CINTA SATWA: Direktur SDM PT Pelindo III Edy Priyanto memberikan pakan kepada komodo di KBS. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
Anda tertarik menjadi orang tua asuh satwa langka? Ternyata tidak susah. Kebun Binatang Surabaya menyiapkan paket-paket perhatian yang bisa Anda berikan kepada satwa purba tersebut. Agar generasi ke depan masih bisa menyaksikan bentuk komodo.
NURUL KOMARIYAH, Surabaya
DELAPAN ekor komodo berebut menggigit daging ayam mentah yang diberikan Direktur SDM PT Pelindo III Edy Priyanto pada Senin lalu (31/5). Dengan penuh kehati-hatian, Edy menjulurkan pakan itu ke kandang komodo yang ada di Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Seekor daging ayam yang utuh tersebut dikaitkan di antara kail berbentuk layaknya pancing ikan. Dan, sontak diserbu dengan lahap oleh kerumunan komodo yang diletakkan dalam satu kandang.
Hari itu, Edy mewakili PT Pelindo III resmi menjadi orang tua asuh bagi lima ekor komodo di KBS. Dia sendiri mengisahkan pengalamannya saat bertandang ke Pulau Komodo di Labuan Baju, NTT, beberapa tahun lalu. Dia mengatakan, kunjungan ke Pulau Komodo itu membuatnya tahu bahwa populasi satwa purba yang sangat dilindungi tersebut semakin lama semakin habis.
’’Di habitat aslinya saja, komodo susah dikembangbiakkan karena sifatnya yang kanibal, saling makan satu sama lain. Jadi, memang mesti ada intervensi dengan upaya breeding seperti di KBS,’’ ujarnya.
Alasan itu menjadi salah satu pertimbangan utama. Hingga akhirnya, dia dan tim memilih komodo sebagai satwa asuh. Bagi dia, komodo tidak boleh punah sampai ratusan tahun ke depan sekalipun.
Dirut Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS Khoirul Anwar menjelaskan, breeding komodo di KBS dilakukan dengan serius. Sampai saat ini, ada seratus ekor komodo yang di-breeding. Dukungan berupa subsidi anggaran dari orang tua asuh disebutnya akan sangat berguna bagi kelangsungan breeding komodo sebagai upaya konservasi terhadap satwa reptil berdarah dingin itu.
’’Kebutuhan sehari-hari, antara lain, pakan, obat-obatan, dan enrichment atau kebutuhan untuk berkembang biak. Selain itu, pada bayi komodo, perlu dipasang chip untuk mengontrol pertumbuhannya. Dan, itu juga termasuk biaya operasional,’’ jelasnya.
Dia mengungkapkan, program orang tua asuh untuk satwa di KBS sejatinya sudah berlangsung cukup lama. Program tersebut bisa diikuti perorangan maupun instansi atau lembaga.
Ada beberapa level paket yang bisa dipilih. Mulai perunggu, silver, gold, hingga platinum. Menurut dia, program tersebut bertujuan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi. Dengan begitu, mereka bisa merasa memiliki satwa yang ada dan bisa paham terkait menajemen konservasi, khususnya di KBS. ’’Kalau sudah paham, mereka bisa mengedukasi orang lain,’’ imbuhnya.
Ada previlege bagi orang tua asuh. Antara lain, bisa mengontrol atau mengecek satwa asuhnya langsung ke kandang dengan ditemani petugas. Tujuannya, mereka mengetahui bagaimana pakannya, obatnya, serta pertumbuhan dan perkembangannya.
Humas KBS Agus Supangkat mengatakan, program orang tua asuh satwa memang telah lama ada. Yakni, sejak 2001. Namun, program itu mulai digalakkan lagi dua bulan belakangan. Motivasinya adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat maupun perusahaan untuk ikut berperan serta dalam program penangkaran satwa di KBS.
’’Yang sekarang ini berjalan total ada sepuluh satwa dengan enam orang tua asuh. Lima merupakan instansi dan satu orang tua asuh perorangan. Ada yang memilih gajah sumatera, buaya muara, buaya senyulong, binturong, dan komodo,’’ jelasnya.
Agus mengatakan, prosedur untuk perorangan maupun instansi sama. Mereka menanggung biaya perawatan, pakan, hingga keperluan medis. Subsidi dari orang tua asuh memang sangat diperlukan. Apalagi untuk kebutuhan pakan yang tidak bisa ditawar.
Dia mencontohkan pakan komodo. Pemberian pakan bergantung usia. Saat baru menetas, bayi komodo diberi pakan daging cincang setiap hari. Saat sudah agak besar, seminggu sekali. Sementara itu, komodo dewasa sebulan dua kali dan setiap kali makan membutuhkan rata-rata 4 kilogram daging per komodo.
Baca Juga: Kakak Dihukum Seumur Hidup, Adik Divonis 18 Tahun
’’Dagingnya diselang-seling. Antara ayam, sapi, dan kambing. Selain orang tua asuh, bisa juga memilih program donasi satwa yang nilainya lebih terjangkau,’’ imbuhnya.
Bagaimana, tertarik menjadi orang tua asuh satwa langka atau mengikuti program donasi satwa? Memberikan kontribusi bagi program konservasi agar mereka bisa terus ada, selamanya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
