Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Agustus 2020 | 22.39 WIB

Tidak Ada HP, HT pun Jadi

Sejumlah murid yang tergabung dalam kelompok pembelajaran jarak jauh (PJJ) SDN 21 Desa Sesap Kecamatan Tebingtinggi Kepulauan Meranti belajar dengan  handy talky (HT), Selasa (4/8/2020). - Image

Sejumlah murid yang tergabung dalam kelompok pembelajaran jarak jauh (PJJ) SDN 21 Desa Sesap Kecamatan Tebingtinggi Kepulauan Meranti belajar dengan handy talky (HT), Selasa (4/8/2020).

JawaPos.com - Pandemi Covid-19 membuat sektor pendidikan menjadi terganggu. Terlebih di daerah-daerah yang minim dengan sinyal telekomunikasi. Namun, itu bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Bak kata pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Demikian yang dilakukan anak-anak di Desa Sesap, Kepulauan Meranti. Bagi mereka tidak ada handphone (HP), handy talky (HT) pun jadi.

Laporan Wira Saputra, Selatpanjang

DESA Sesap, Kecamatan Tebing Tinggi hanya berjarak 12 km dari ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti, Selatpanjang. Di desa ini, hampir 60 persennya bermukim masyarakat Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang disebut Suku Akit. Mata pencarian mereka rata-rata sebagai nelayan. Ironisnya lagi, sebagian besar dari mereka masih buta aksara.

Kebijakan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), membuat anak-anak suku Akit kesulitan.
Pendidikan secara daring mungkin tidak menjadi masalah bagi masyarakat Indonesia yang berpenghasilan menengah ke atas, namun bagi masyarakat Suku Akit ini menjadi persoalan mendasar. Jangankan memiliki handphone atau perangkat sejenis, bisa bertahan hidup di tengah wabah Covid-19 ini saja mereka sudah sangat bersyukur.

Belum memiliki gawai, jaringan internet, hingga arus jaringan listrik adalah kondisi yang tak asing. Terlebih di Pulau Rangsang, pesisir Selat Malaka, Indonesia yang berbatas langsung dengan negara tetangga Malaysia. Seperti kondisi yang dialami Desa Beting, Kecamatan Rangsang.

"Iya beginilah desa kami. Listrik desa hanya beroperasi dari pukul 18.00 WIB hingga Pukul 00.00 WIB. Kondisi sama juga terjadi pada perangkat komunikasi. Jangankan internet, menelepon aja susahnya minta ampun," ujar Kepala Desa Beting Tony kepada Riau Pos.

Menurut dia, warga Desa Beting sangat tertinggal akan perkembangan teknologi, walaupun posisinya sebagai pulau terdepan Indonesia. Sehingga, dapat dipastikan jika perkembangan desanya terus dihambat minimnya fasilitas yang cukup mendasar.

Contohnya, pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi Covid-19. Seluruh murid tidak bisa belajar dengan menggunakan media atau teknologi seperti yang dimiliki saudaranya di kota. Adapun media yang ia maksud, gawai dan televisi.

"Mana ada fasilitas itu. Mau tidak mau murid atau orang tua wali ambil tugas di rumah guru atau sekolah dan harus diantar jemput," ungkapnya.

Terlebih cerita dia soal belajar melalui bimbingan tayangan di televisi. Kondisi itu semakin rumit, karena tidak memiliki sumber listrik di siang hari.

Dengan demikian ia berharap, pemerintah dapat memberikan pola belajar yang bagus untuk menyikapi segala kekurangan tersebut. "Iya saya berharap ada pola terbaik yang akan jadi pilihan untuk kami. Jika seperti ini, apa solusinya. Jika tidak ada solusi ya, normalkan saja," ungkapnya.

Memang jarak dari desanya ke Selatpanjang sebagai pusat kabupaten tidak begitu jauh. Jarak lebih kurang lebih 12 Km, namun untuk mendapatkan fasilitas jaringan internet masih sulit untuk menjalankan PJJ daring. Selain itu rata-rata anak warga desa tidak memiliki gawai.

"Internet masih sulit. Banyak warga kami yang belum punya gawai. Dengan jalannya PJJ dengan HT tentu dapat mempermudah guru, siswa dan murid, termasuk orang tua," ungkapnya.

Dia mengucapkan ribuan terima kasih kepada Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) yang telah ikut berpartisipasi untuk membantu kesulitan yang dialami desanya.

Pemanfaatan HT untuk PJJ sangat membantu para guru seperti Susanto. Dia mulai biasa memberi perintah tepat dari ruang guru SDN 21 Desa Sesap kepada murid-muridnya yang berjarak cukup jauh. Bimbingan belajar berjalan baik hingga akhir, tanpa ada gangguan jaringan. Berbeda menggunakan HP. Akses data cukup sulit diterima. Padahal jarak Desa Sesap tidak begitu jauh dari pusat Kabupaten Kepulauan Meranti.

Menciptakan ide kreatif, unik, lain daripada yang lain, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih ide kreatif tersebut dapat dinikmati oleh orang banyak. Tidak menggunakan sambungan internet, PJJ yang diterapkan oleh beberapa SD di Kepulauan Meranti mulai menggunakan perangkat HT. Langkah ini digagas Orari dengan melibatkan beberapa sekolah dasar setempat.

Organisasi yang berdiri di era 80-an tersebut kini menjadi motor PJJ. Sebagai percobaan, PJJ menggunakan HT mulai dilaksanakan di SDN 6, Selasa (4/8). Pada Rabu (5/8) juga berlangsung di SDN 21 Desa Sesap Kecamatan Tebingtinggi Kepulauan Meranti.

Proses PPJ dengan HT tampak mudah. Alat itu tidak memiliki gangguan jaringan saat menerima perintah suara ketika jam belajar berlangsung. Padahal guru di sekolah, memberikan materi pada sekelompok murid yang berada di rumah. Ketika itu sekelompok murid juga tampak tidak kesulitan mengoperasikannya. Walaupun sedikit kaku, karena alat mirip gawai tersebut, sedikit lebih besar serta memiliki layar yang kecil.

"Tidak sulit Bang, malah mudah. Lagi pun keren belajar dengan HT. Biasanya kami belajar di rumah teman karena tidak punya paket data. Sekarang bisa belajar di rumah saya sendiri dengan alat ini," kata Yana, salah seorang murid Kelas VI SD N 21 Desa Sesap.

Hal yang sama juga disampikan Kepala Sekolah SDN 21 Desa Sesap, Syukur SPd. PJJ menggunakan HT menurutnya suatu inovasi yang patut dilakukan. Selain sebagai upaya untuk memenuhi fasilitas penunjang PJJ juga, tidak berdampak buruk terhadap anak.

Berbeda jika PJJ menggunakan gawai. Menurutnya, secara tidak langsung dapat membiasakan anak didik di bawah usia kenal dengan kecanggihan teknologi yang belum masanya. Apalagi jika sudah ketergantungan.

Anggota Orari setempat, Irman Arya kepada Riau Pos mengungkapkan, peduli akan generasi dalam mendapatkan pendidikan yang layak menjadi kewajiban semua pihak. Tidak hanya pemerintah, Orari Kepulauan Meranti juga harus turut berperan serta.

"Artinya, tak ada gawai, akses internet, paket, hingga pulsa, HT pun jadi pilihan. Asalkan generasi bisa belajar dengan baik," ungkapnya.

Irman mengatakan, proses belajar menggunakan alat komunikasi ini tidak jauh beda dengan menggunakan gawai. Menurutnya, pesan yang diterima sama, yakni suara. Hanya tidak bergambar. "Selain Orari, kita juga libatkan RAPI. Kebetulan Ketua RAPI di Meranti saya sendiri," pungkasnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore