JawaPos Radar

Kesaksian Korban KM Sinar Bangun, Air Danau Dapat Dijangkau dari Kapal

20/06/2018, 10:48 WIB | Editor: Ilham Safutra
Kesaksian Korban KM Sinar Bangun, Air Danau Dapat Dijangkau dari Kapal
Masyarakat menunggu kabar dari pencarian KM Sinar Bangun (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Riko Saputra, salah seorang penumpang KM Sinar Bangun menjadi korban selamat. Jiwanya terselamatkan karena berkat kemampuan berenang yang dimiliki.

Dia mengungkapkan, sebelum terbalik, KM Sinar Bangun sempat oleng ke sebelah kanan. Dari atas kapal, air danau bisa dijangkau dengan tangan sehingga menguatkan dugaan kelebihan muatan.

"Awalnya air tidak begitu berombak. Tetapi, sampai di tengah, ombak mulai besar ditambah angin kencang," ujar Riko kepada Metro Siantar (Jawa Pos Group) saat dirawat di Puskesmas Simarmata.

Kesaksian Korban KM Sinar Bangun, Air Danau Dapat Dijangkau dari Kapal
Petugas menyisiri Danau Toba mencari korban KM Sinar Bangun tenggelam. (Istimewa)

Karena banyak kereta (sepeda motor) yang oleng ke kanan dan tidak bisa balik lagi, lanjut Riko, kapal pun akhirnya terbalik. Riko berjuang keluar dari dalam kapal melalui jendela berukuran kecil. Dengan kemampuan berenang, dia bisa lolos dari maut dan berhasil naik ke permukaan bersama sejumlah orang lainnya.

"Sebagian besar yang selamat itu memegang helm, jadi posisi masih bisa mengapung. Itu pun kalau penyelamat tidak segera datang, kami tidak tahu lagi sampai berapa lama bisa bertahan," katanya.

Hal senada diungkapkan Sandri Marianto Sianturi. Bahkan, kata dia, kelebihan muatan bisa dirasakan saat kapal berjalan. Saat itu dia bisa menjangkau permukaan air danau karena posisi lantai kapal tenggelam lebih dalam.

"Biasanya dari atas kapal itu, air danau tidak bisa kita jangkau pakai tangan. Tetapi ini, lantai kapal itu dekat dengan air. Berarti ini sudah terlalu banyak muatannya," ungkapnya.

Sandri menambahkan, sebelum berangkat, dirinya bertanya kepada anak buah kapal terkait beban penumpang yang diperkirakan melebihi kapasitas.

"Saya sudah tanya, aman nggak ini kalau terlalu banyak muatannya. Tapi, dia (awak kapal) cuma senyum aja dan bilang aman, udah biasa seperti ini. Apalagi, kan sebelumnya (dari Tigaras) seperti ini juga (ramainya), tetapi ombak tidak begitu besar," sebutnya.

Tragedi di Danau Toba itu juga membawa duka bagi keluarga besar Maya Oktavianti di Binjai dan keluarga besar Nainggolan di Medan.

Tujuh anggota keluarga Maya, warga Jalan Gunung Bendahara, Lingkungan I, Kelurahan Pujidadi, Binjai Selatan, ikut hilang. Itu terungkap setelah tim SAR menyebarluaskan penemuan KTP Maya dalam tas di lokasi karamnya kapal.

Erwin, warga sekitar rumah Maya, mengatakan, Maya berangkat berwisata bersama keluarganya ke Danau Toba. Selain Maya, ada Burhan (ayah), Fahrianti (ibu), Dika (anak), dan beberapa orang lainnya.

"Sekeluarga berangkat tujuh orang. Tidak ada titip pesan, hanya bilang bahwa bapak pergi. Mereka titip kunci sama saya," kata Erwin.

Erwin melanjutkan, dirinya sudah menghubungi Burhan, ayah Maya. Sayang, panggilan melalui telepon seluler tersebut tidak mendapat jawaban.

Sementara itu, 12 anggota keluarga marga Nainggolan dari Medan juga ditengarai hilang dalam kejadian tersebut. Persatuan Marga Nainggolan yang prihatin mengerahkan bantuan untuk mencari para korban. 

(idr/syn/bal/mea/ptn/ted/JPG/c11/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up