
JALANAN YANG BERSIH: Suasana malam di Minsk, ibu kota Belarus. (TATANG MAHARDIKA/JAWA POS)
Di Minsk, legasi masa lalu dirawat dalam bentuk fisik dan tindakan keseharian. Berikut laporan wartawan Jawa Pos TATANG MAHARDIKA dari ibu kota Belarus tersebut.
SEBUAH pesan masuk saat saya bersiap meninggalkan kamar dan turun ke lobi hotel. ”Selamat pagi. Maaf, kami akan tiba pukul 10.35,” tulis si pengirim pesan.
Pada Kamis pekan lalu itu (14/11), Maryia Ivankova, seorang kenalan di Minsk, memang berjanji menemani saya menelusuri ibu kota Belarus tersebut. Kami, seperti tersepakati sehari sebelumnya, akan bertemu pukul 10.30.
Saya tersenyum membaca pesan yang dikirim Maryia lewat WhatsApp itu. Telat lima menit saja harus mengabari dan minta maaf. Belum tahu dia bagaimana orang Indonesia biasa menulis ”OTW” saat akan terlambat sejam hingga dua jam.
Kalau Jogjakarta, kata penyair Joko Pinurbo, terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan, Minsk bisa dibilang berdiri di atas kedisiplinan dan ketertiban. Dan, ada peran besar ”kenangan” di sini.
Belarus memang merdeka sejak 1991. Tapi, Uni Soviet, bekas federasi yang dulu menaunginya, tak pernah benar-benar pergi dari ibu kota negeri yang penduduknya sekitar 10 juta orang tersebut.
Mayoritas bangunan di Minsk, baik untuk perkantoran, bisnis, maupun tempat tinggal, bergaya Stalinis. Berbentuk persegi panjang. Rata-rata dibangun setelah kota yang kini dihuni 2 juta jiwa itu hancur lebur pada Perang Dunia II. Ketika Joseph Stalin berada di mahameru kekuasaan Uni Soviet.
Dengan cat yang menghindari warna-warna mencolok, jadilah lanskap bangunan di Minsk tampak kukuh dan dingin. Sedingin temperaturnya yang di hari-hari ini malas beranjak dari bawah 5 derajat Celsius (tapi oleh orang-orang di sini disebut, ”Ini termasuk November yang hangat lho!”).
Cengkeraman dingin yang baru bisa dikalahkan oleh secangkir cokelat kental hangat di komunarka, ini juga legasi Soviet. Semacam kedai minum komunal yang didirikan pabrik susu.
Siang itu saya menjajal sepotong zavornoe. Enak sekali. Kenyal, manis, dan gurih.
”Kalian punya pisang goreng juga di sini,” kata saya kepada Maryia dan saudara kembarnya yang turut menemani, Valya. Kebetulan mereka berdua pernah berlibur di Indonesia tahun lalu. ”Nggak ada pisangnya. Semua yang di kue itu terbuat dari susu,” sahut Maryia.
Belarus memberikan subsidi besar kepada sektor industri dan pertanian. Alexandr Lukashenko yang memimpin Belarus sejak 1994 di masa Soviet merupakan pengelola Sovkhoz, pertanian milik negara.
Dua hasil industri mereka, potasium nitrat dan persenjataan militer, merupakan dua impor utama Indonesia dari Belarus. Sedangkan ke negara yang berbatasan dengan Rusia dan Uni Eropa serta tak punya lautan itu, Indonesia menjual banyak produk perikanan.
Photo
Chef Rendy Mihardja dan Sunaryadi mengapit warga Indonesia yang tinggal di Minsk, Rini, dan Dubes Indonesia untuk Rusia dan Belarus M. Wahid Supriyadi. (TATANG MAHARDIKA/JAWA POS)
Menurut Valery Karbalevitch, penulis biografi Lukashenko, ada dua faktor mengapa Lukashenko bisa bertahan lama di kekuasaan. ”Yang pertama karena dia memang tak mau kekuasaannya dibatasi. Yang kedua karena warga Belarus menginginkan stabilitas seperti yang mereka rasakan di masa Soviet,” kata dia kepada Deutsch Welle.
Jejak dari masa-masa lama di Minsk itu tak cuma hadir dalam bentuk fisik. Termanifestasikan pula dalam ragam keseharian. Kedisiplinan dan ketertiban termasuk di dalamnya.
Jalanan Minsk amatlah bersih. Dan, begitu kaki menginjak zebra cross bermaksud menyeberanginya, para pengemudi berbagai kendaraan dengan segera akan berhenti.
”Jadi, kami tak perlu harus melambaikan tangan agar bisa menyeberang,” kata Valya seraya tergelak, mengenang momen-momen mendebarkan saat harus menyeberangi jalanan Jakarta tahun lalu.
Rini, salah seorang warga Indonesia di Belarus, juga menyebut betapa amannya Minsk. ”Saat malam-malam harus jalan sendirian pun di sini tidak masalah. Tak pernah ada yang mengganggu,” kata perempuan asal Medan, Sumatera Utara, yang bersuami seorang warga Belarus dan telah lima tahun tinggal di Minsk itu.
Hanya ada segelintir warga Indonesia di Belarus. Jumlahnya, menurut Rini, 7–8 orang saja. Termasuk Rendy Mihardja dan Sunaryadi yang sama-sama berprofesi chef.
Pada Selasa malam pekan lalu (12/11), saya, atas undangan Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarus M. Wahid Supriyadi, turut menikmati racikan Rendy dan Sunaryadi. Hadir pula Konsul Kehormatan Belarus di Jawa Timur Darmawan Utomo dan rombongan delegasi Indonesia ke forum bisnis yang diadakan keesokan harinya.
Malam itu kami menikmati soto ayam, sate ayam, dan empal goreng. Dan, tentu saja nasi putih. ”Saya cocok sekali dengan masakan Rendy. Tiap kali ke Minsk saya selalu mampir ke sini,” kata Wahid.
Rendy sudah dua tahun bekerja di Minsk. Sedangkan Sunaryadi baru sebulan. Masakan khas Indonesia hasil olahannya itu pula yang biasanya dijadikan iming-iming oleh Rendy untuk mengajak Rini dan beberapa orang Indonesia lain di Minsk berkumpul.
”Saya betah di sini. Mungkin karena saya suka dingin,” kata Rendy.
Tak ada draniki, kletski, atau konduni di antara menu malam itu. Saya baru menemui satu di antaranya, draniki, saat mampir di sebuah kedai makan pada Kamis siang lalu di salah satu sudut kota lama Minsk.
Draniki semacam gorengan. Mengutip buku Taste of Belarus, umur kudapan itu sudah sekitar 200 tahun. Rasanya gurih. Dengan bahan utama kentang dicampur tepung, bawang, dan garam.
Oleh Taste of Belarus, draniki juga disebut sebagai simbol gastronomi Belarus. Mungkin karena penganan itu mengandung kentang, sumber karbohidrat utama.
Kentang atau bulba dalam bahasa Belarus mewujud dalam beragam bentuk. Di carp, misalnya, ia turut hadir menemani ikan salmon yang biasanya jadi hidangan utama. Juga, berwujud vareniki yang menjadi makanan menutup.
Atau pula berbentuk berbagai sederet kudapan tadi: draniki, kletski, konduni. Yang daftarnya bisa diperpanjang dengan potato babka dan zeppeliny.
”Itu sebabnya, orang-orang Belarus disebut juga Bulbashi, orang-orang kentang,” kata Valya, lantas tergelak.
Maryia ikut tertawa. Saya juga. Sedikit. Sebab, saya tak sepenuhnya mengerti: itu julukan beneran atau guyonan. Yang pasti, tak mungkin mengasosiasikan ”orang-orang kentang” itu dengan pengertian negatif. Sebab, ”orang-orang kentang” itu adalah orang-orang yang sejak duduk di bangku sekolah dasar sudah diperkenalkan dengan Maxim Gorky, Leo Tolstoy, dan berbagai bacaan sastra klasik Rusia dan Belarus lain. Dan telah pula melahirkan Svetlana Alexeviech, sang Nobelis Sastra.
Orang-orang kentang itu juga hidup di kota dengan puluhan gedung teater, museum, dan galeri seni yang berdiri gagah sejak zaman Soviet. Yang tiap hari dipadati pertunjukan atau pameran. Dengan tiket yang biasanya telah habis terjual tiga bulan sebelumnya. Dan, orang-orang kentang itu pula yang tak akan pernah menyeberang jalanan sebelum lampu hijau menyala, meski hanya sendirian di tengah malam yang senyap. Mereka juga yang tak akan pernah mengotori jalanan atau sudut taman dengan satu puntung rokok sekalipun.
Sore menjelang, kami tengah berjalan kaki melintasi Taman Maxim Gorky untuk balik ke hotel saat Maryia menunjuk sebuah gedung di seberang sungai. ”Saya tidak suka gedung itu. Bangunannya merusak pemandangan.”
Itu sebuah gedung baru. Persegi panjang juga sebenarnya. Tapi, bentuk jendela dan cat yang mencolok membuatnya sedikit berbeda dengan bangunan-bangunan lama di sekitarnya.
Yang sedikit itu pun sudah mengganggu Maryia dan, konon kata dia, banyak orang lain. Ah, Minsk, betapa kau memang terbuat dari kenangan! (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
