
Pesan-Damai-Bonek Angger Bondan/ Jawa Pos ====== Bonek menyampaikan pesan damai saat pertandingan Liga 1 2019 antara Persebaya melawan Persija di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, kemarin (24/8). FOTO: Angger Bondan/Jawa Pos
Jejak persaudaraan Surabaya dengan Papua terbentang mulai hutan mangrove sampai ke lingkungan pemerintah kota. Di Malang, berbagai prestasi klub kebanggaan setempat tak terlepas dari kontribusi pemain asal Papua.
JUNEKA S.M., SEPTINDA A., Surabaya-ARIS DWI K., Malang, Jawa Pos
---
SUDAH satu dekade lewat, tapi kegigihan anak-anak muda Papua itu masih terus terekam dalam ingatan Soni Mohson. Saat mereka bergandengan tangan menanam mangrove di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).
"Arek-arek Papua itu gelem soro (mau sengsara, Red). Kaki kena lumpur, kena tiram yang lancip itu beret-beret," jelas Soni, pelestari bakau (mangrove) asal Wonorejo, Surabaya.
Ide penanaman mangrove tersebut datang dari Lurah Wonorejo (saat itu) M. Fikser. Pria kelahiran Serui, Kepulauan Yapen, yang kini menjabat Kabaghumas Pemkot Surabaya tersebut prihatin karena kondisi Pamurbaya ketika itu gundul. Akibat pembalakan liar.
"Saya ajak anak-anak Papua ikut tanam mangrove. Karena ketika itu masyarakat belum banyak peduli," ungkap Fikser yang sejak lulus Sekolah Tinggi Pegawai Dalam Negeri (sekarang Institut Pemerintah Dalam Negeri) pada 1998 langsung ditempatkan di Surabaya.
Sekali berangkat, Fikser bersama 20-25 mahasiswa Papua. Mereka biasanya mengatur waktu yang tidak ada kuliah. "Sampai sekarang masih ada itu mangrove yang ditanam anak-anak Papua. Sudah besar-besar," ungkapnya.
Mangrove tersebut seperti menjadi salah satu prasasti eratnya jalinan persaudaraan antara Surabaya dan Papua. Persaudaraan yang terajut di berbagai bidang sejak waktu yang lama. Yang juga tak akan tergoyahkan oleh letupan insiden di asrama mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu.
Coba tengok ke kampus Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya. Ada ratusan mahasiswa Papua yang saat ini menempuh pendidikan tinggi di sana. Baik melalui program beasiswa afirmasi pendidikan tinggi (ADik) maupun nonafirmasi. "Awal-awal kuliah sedikit waswas. Harus adaptasi," kenang Agustinus Tinopi, mahasiswa program studi teknik informatika yang tiba di Surabaya pada 2014.
Namun, setelah bertemu dengan mahasiswa lain yang mayoritas dari Jawa, pria 24 tahun asal Teluk Bintuni, Papua Barat, itu tidak merasa ada yang berbeda. Komunikasi berjalan lancar. Di kampusnya, khususnya unit kegiatan mahasiswa (UKM) pencak silat.
"Saya ikut mendirikan PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate)," kata Agustinus yang pernah mencatat prestasi di Kejuaraan Pencak Silat ITS Cup yang diikuti ratusan peserta se-Jawa Timur 2017.
Tak terlalu jauh dari Surabaya, di Malang, kota yang sempat terjadi letupan serupa, persaudaraan tak kalah erat juga terlihat. Ada banyak mahasiswa asal Papua dan Papua Barat yang menuntut ilmu di sana.
Para pesepak bola asal Papua juga berkontribusi banyak bagi Arema, klub kebanggaan Malang Raya. Seperti dilansir Jawa Pos Radar Malang, trio Micky Tata-Dominggus Nowenik-Panus Korwa turut berjasa atas gelar Galatama bagi Singo Edan -julukan Arema- pada musim 1992-1993.
Generasi para pemain Papua berikutnya di Arema, yakni Silas Ohee, Marthen Tao, Erol Iba, serta Alex Pulalo, turut menyumbangkan tenaga ketika Singo Edan menjuarai Piala Indonesia. Dua tahun berturut-turut, 2005 dan 2006. "Teman-teman menerima saya dengan tangan terbuka di sini," kata Ricky Kayame, penggawa Arema di Liga 1 musim ini, kepada Jawa Pos Radar Malang.
Menurut Kayame, kondisi tersebut bisa tercipta karena semua saling menghargai perbedaan. Dan, di mata mantan pemain Persebaya Surabaya tersebut, itulah yang memang harus dilakukan untuk memerangi rasisme. "Kan negara ini Bhinneka Tunggal Ika. Jadi, hargai perbedaan itu lebih bagus, mulia sekali," tuturnya.
Di Surabaya, Fikser merintis karir sejak bawah. Berkompetisi secara sehat tanpa pernah mengalami diskriminasi. Mulai menjadi lurah, camat, hingga kini Kabaghumas Pemkot Surabaya.
"Pak Fikser ini humas saya. Dia muka saya," ujar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat berbincang dengan Lenis Kogoya, staf khusus presiden, Selasa (20/8) malam lalu di rumah dinas wali kota.
Selain Fikser, di Pemkot Surabaya ada nama-nama lain dari Papua yang menduduki posisi penting. Misalnya Camat Tambaksari Ridwan Mubarun dan Camat Sukomanunggal Lakoli. Juga ada Kasitrantib Kelurahan Balongsari Mansye Wenda yang sejak 1993 sudah tinggal di Surabaya. "Orang Surabaya itu banyak yang baik. Saya punya bapak angkat juga saat kuliah di IKIP (sekarang Unesa, Red)," jelas Wenda.
Hubungan erat Surabaya dengan Papua juga terlihat saat Risma -sapaan Tri Rismaharini- diopname akhir Juni lalu. Dia didoakan orang-orang Papua. Misalnya yang dilakukan jemaat Gereja Kristen Injili di Tanah Papua Jemaat Petrus Waena Jayapura. Mereka menggelar doa kebaktian agar Risma sehat selalu.
Marta Erari, 65, ketua persatuan wanita gereja tersebut, ketika itu mengungkapkan bahwa Risma sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Dia pernah berkunjung dan makan bersama mereka tahun lalu. "Semua doakan Mama Risma. Kami punya mama semoga lekas sembuh," ujar dia.
Risma mengaku memang pernah berkunjung ke Jayapura, Merauke, dan Manokwari. Di beberapa tempat itu memang ada pemberian bantuan langsung untuk warga. Salah satunya dengan memberikan keterampilan membuat kerajinan tangan.
Menurut Lenis, Risma dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sama-sama layak digelari nama Papua. "Ibu Gubernur (Khofifah) saya kasih nama Papua. Terus Ibu Wali Kota (Risma) saya kasih nama Papua karena hatinya saya lihat," ujarnya.
Lenis menjelaskan, Khofifah datang langsung ke rumahnya di Wamena saat ayahnya meninggal dunia. Khofifah juga menggulirkan program bantuan nontunai saat masih menjadi menteri sosial.
"Jadi, Papua dengan Jawa Timur ini bersaudara. Tidak ada permusuhan. Anak-anak dan mahasiswa tak perlu takut. Jadikan kiri-kanan itu orang tua," tutur Lenis.
Di Surabaya pula Monica Marice Asaribab belajar banyak tentang penghormatan pada keberagaman. "Tak pernah sekali pun saya di-bully. Malah saya dipuji teman-teman," kata mahasiswi semester IV Program Studi Hukum Unitomo itu.
Bersama kawan-kawan di kampus, perempuan asal Biak, Papua, tersebut melakukan berbagai kegiatan bersama-sama. Di kampus maupun di luar kampus. Itu semua membuatnya betah. Karena itu, setelah lulus nanti, Monica ingin mencari pekerjaan di Surabaya. "Setelah dapat pengalaman yang cukup, baru saya nanti kembali ke kampung halaman," ujarnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
