
Djoko Susilo (kiri) bersama siswa menunjukkan gambar kartun dengan tema perdamaian di SMA N 1 Kaliwungu, Kab. Kendal, Sabtu (16/2).
Kokkang tidur panjang selama empat tahun karena berbagai sebab. Pameran karya alumni bakal menandai kesiapan mereka untuk kembali mengajak anak-anak muda belajar menggambar.
AGAS PUTRA HARTANTO, Kendal
---
RUMAH bambu bertingkat dua itu sudah tak berjejak lagi. Yang tersisa di bekas lokasinya berdiri sekarang hanya ceceran sampah.
"Dirobohkan sekitar tahun 2010. Bangunannya sudah reyot termakan usia," ucap Djoko Susilo, kartunis, saat ditemui di rumahnya, Bumi Plantaran Indah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.
Padahal, di situlah, di rumah yang kini tak berbekas di Desa Krajan Kulon, Kaliwungu, tersebut, Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang) berproses. Hingga melahirkan begitu banyak kartunis terkenal di tanah air.
Djoko yang bekerja di Suara Merdeka salah satunya. Ada pula Budi Setyo Widodo (Tiyok) yang berkiprah bersama harian Media Indonesia, Tyud dan Wawan Bastian di Koran Sindo, Ifoed dan Muktafin di Indopos, Hertanto Soebijoto di Warta Kota, dan M. Nasir di tabloid Bola (kini sudah tutup). Juga, kartunis Jawa Pos Wahyu Kokkang yang baru saja menyabet penghargaan jurnalistik Adinegoro.
Sekitar satu jam perjalanan darat dari Kaliwungu, di kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang, di sanalah Kokkang bermula. Saat Darminto Masiyo Sudarmo atau Odios dan Budi Santoso alias Itos sama-sama mendaftar ke perguruan tinggi yang kini menjadi Universitas Negeri Semarang tersebut pada 1979.
Kebetulan, mereka sama-sama berasal dari Kaliwungu, hanya beda desa. Odios dari Desa Plantaran, sedangkan Itos dari Desa Krajan Kulon.
Odios penggemar kartun sejak kecil. Dia aktif menggambar sejak duduk di bangku kelas II sekolah menengah pertama. Hasil karyanya tersebut kemudian dikirim ke berbagai koran dan majalah. "Tapi, selalu ditolak," ungkapnya.
Namun, Odios tidak menyerah. Dia terus belajar dan mengasah kemampuan. Usahanya berbuah. Kartun karyanya dimuat kali pertama oleh majalah Panjebar Semangat. Dengan mengusung tema sosial pergaulan muda-mudi.
"Senangnya bukan main, meski honornya tidak seberapa," katanya, lantas tertawa, saat ditemui di kediamannya di Bukit Kencana Jaya, Semarang.
Itos baru mulai tertarik dengan kartun ketika melihat karya Odios. Apalagi saat mengetahui kartun Odios nampang di majalah Anda dan mendapat honor yang terbilang lumayan.
Itos semakin ingin tahu dan belajar lebih dalam mengenai kartun. "Itos sangat rajin. Bisa sampai 75 karakter kartun yang dia gambar dalam dua hari," terang mantan pemimpin redaksi majalah Humor (1990-1998) tersebut.
Sejak saat itu keduanya acap kali berdiskusi untuk membahas kartun. Odios juga kerap mengajak Itos bergaul dengan para kartunis Semarang. Salah satunya, seniman Jaya Suprana.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
