Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Februari 2019 | 00.03 WIB

Geliat Kelompok Kartunis Legendaris Kokkang Melakukan Regenerasi

Djoko Susilo (kiri) bersama siswa menunjukkan gambar kartun dengan tema perdamaian di SMA N 1 Kaliwungu, Kab. Kendal, Sabtu (16/2). - Image

Djoko Susilo (kiri) bersama siswa menunjukkan gambar kartun dengan tema perdamaian di SMA N 1 Kaliwungu, Kab. Kendal, Sabtu (16/2).

Kokkang tidur panjang selama empat tahun karena berbagai sebab. Pameran karya alumni bakal menandai kesiapan mereka untuk kembali mengajak anak-anak muda belajar menggambar.


AGAS PUTRA HARTANTO, Kendal


---


RUMAH bambu bertingkat dua itu sudah tak berjejak lagi. Yang tersisa di bekas lokasinya berdiri sekarang hanya ceceran sampah.


"Dirobohkan sekitar tahun 2010. Bangunannya sudah reyot termakan usia," ucap Djoko Susilo, kartunis, saat ditemui di rumahnya, Bumi Plantaran Indah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.


Padahal, di situlah, di rumah yang kini tak berbekas di Desa Krajan Kulon, Kaliwungu, tersebut, Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang) berproses. Hingga melahirkan begitu banyak kartunis terkenal di tanah air.


Djoko yang bekerja di Suara Merdeka salah satunya. Ada pula Budi Setyo Widodo (Tiyok) yang berkiprah bersama harian Media Indonesia, Tyud dan Wawan Bastian di Koran Sindo, Ifoed dan Muktafin di Indopos, Hertanto Soebijoto di Warta Kota, dan M. Nasir di tabloid Bola (kini sudah tutup). Juga, kartunis Jawa Pos Wahyu Kokkang yang baru saja menyabet penghargaan jurnalistik Adinegoro.


Sekitar satu jam perjalanan darat dari Kaliwungu, di kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang, di sanalah Kokkang bermula. Saat Darminto Masiyo Sudarmo atau Odios dan Budi Santoso alias Itos sama-sama mendaftar ke perguruan tinggi yang kini menjadi Universitas Negeri Semarang tersebut pada 1979.


Kebetulan, mereka sama-sama berasal dari Kaliwungu, hanya beda desa. Odios dari Desa Plantaran, sedangkan Itos dari Desa Krajan Kulon.


Odios penggemar kartun sejak kecil. Dia aktif menggambar sejak duduk di bangku kelas II sekolah menengah pertama. Hasil karyanya tersebut kemudian dikirim ke berbagai koran dan majalah. "Tapi, selalu ditolak," ungkapnya.


Namun, Odios tidak menyerah. Dia terus belajar dan mengasah kemampuan. Usahanya berbuah. Kartun karyanya dimuat kali pertama oleh majalah Panjebar Semangat. Dengan mengusung tema sosial pergaulan muda-mudi.


"Senangnya bukan main, meski honornya tidak seberapa," katanya, lantas tertawa, saat ditemui di kediamannya di Bukit Kencana Jaya, Semarang.


Itos baru mulai tertarik dengan kartun ketika melihat karya Odios. Apalagi saat mengetahui kartun Odios nampang di majalah Anda dan mendapat honor yang terbilang lumayan.


Itos semakin ingin tahu dan belajar lebih dalam mengenai kartun. "Itos sangat rajin. Bisa sampai 75 karakter kartun yang dia gambar dalam dua hari," terang mantan pemimpin redaksi majalah Humor (1990-1998) tersebut.


Sejak saat itu keduanya acap kali berdis­kusi untuk membahas kartun. Odios juga kerap mengajak Itos bergaul dengan para kartunis Semarang. Salah satunya, seniman Jaya Suprana.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore