Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Februari 2019 | 21.52 WIB

Warga Cireundeu Bertahan tanpa Mengonsumsi Nasi dari Beras

Warga sedang mengolah singkong menjadi berbagai jenis makanan di Balai Adat. - Image

Warga sedang mengolah singkong menjadi berbagai jenis makanan di Balai Adat.


Abah Widia jelas masuk dalam yang 8,83 persen itu. Sepanjang hidupnya yang kini telah menyentuh 57 tahun, tak sekali pun wakil ketua adat Cireundeu itu makan nasi beras.


Bukan hanya beras dalam bentuk nasi, kue-kue yang terbuat dari tepung beras pun dia belum pernah mencicipi. Begitu juga istri dan anak-anaknya. "Makan kue dari tepung beras pun abah belum pernah," ucap pria yang sehari-hari bekerja menjaga warung itu.


Salah satu kelebihan rasi, menurut para warga Cireundeu, gampang mengenyangkan. Sehari cukup dua kali mengonsumsi. "Makan satu centong saja sudah kenyang," kata Abah Widia.


Inti dari makanan, menurut Abah Widia, adalah membuat kenyang. Pola pikir yang salah adalah menyebut beras sebagai makanan pokok. Padahal, masih banyak sumber makanan pokok lain.


Cireundeu sudah ada sejak abad ke-16. Sejak 1918 warga kampung itu mencoba berbagai jenis umbi-umbian seperti ganyong dan jagung. Kala itu masyarakat setempat masih mengonsumsi beras padi. Enam tahun berselang, tepatnya pada 1924, ditemukan singkong oleh sesepuh perempuan bernama Ambu Omah Asnamah.


Ketela dipilih sebagai bahan makanan pokok kala itu dengan pertimbangan lebih mudah ditanam. Kebutuhan sehari-hari warga sudah terpenuhi dengan adanya lahan pertanian 40-50 hektare. Termasuk hutan dengan luas sekitar 6 hektare.


Hutan di Cireundeu itu disebut hutan larangan. Artinya, siapa saja yang menebang pohon harus menggantinya dengan tanaman yang baru.


"Tidak ada lahan adat. Yang ada hanyalah balai adat. Tanah di Cireundeu dilengkapi surat tanah dan bayar pajak," terang Abah Widia sambil kembali mengambil rokok.


Yang menuju Kampung Cireundeu pasti akan melewati jalan bukit yang di beberapa sisinya tampak tanaman singkong. Untuk mengolahnya menjadi tepung siap olah, dibutuhkan waktu seminggu. "Yang kami makan ampasnya," kata Sopiah.


Tidak ada larangan warga adat Cireundeu untuk beralih dari makan beras singkong ke beras nasi. Sebagaimana juga tidak ada larangan warga adat Cireundeu untuk menikah dengan orang luar adat.


Harmoni itu juga berlaku untuk urusan kepercayaan. Para pendatang yang mayoritas muslim hidup rukun bersanding dengan warga adat yang merupakan penghayat Sunda Wiwitan.


Dari sisi kesehatan, menurut Abah Widia, mengonsumsi beras singkong justru lebih sehat. Pasalnya, kandungan gula dalam singkong lebih rendah daripada beras nasi.


Berdasar pedoman gizi seimbang yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, setiap 100 gram nasi mengandung 175 kalori, 4 gram protein, dan 40 gram karbohidrat. Sedangkan setiap 100 gram singkong mengandung 112 kalori, 1,5 gram protein, dan 38 gram karbohidrat.


Singkong cocok untuk pengganti nasi beras karena 230 gram singkong mengandung 78 gram karbohidrat total. Jika setiap 1 gram karbohidrat mengandung 4 kalori, itu setara dengan 312 kalori atau 95 persen kebutuhan karbohidrat harian.


Karena itulah, Neneng Suminar tak pernah sekali pun merasa membutuhkan nasi beras. Meski tak ada aturan yang mengharuskan perempuan 37 tahun tersebut untuk tetap mengonsumsi nasi singkong. "Dari hati aja, mau meneruskan adat orang tua," tutur warga Cireundeu itu. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore