
CITARASA INDONESIA: Lilik Inayati atau Chen Lili di restaurannya di Kaohsiung, Taiwan (9/1).
Lilik Inayati tak berkompromi dengan lidah Taiwan dalam masakan-masakannya. Dia juga memberdayakan para perempuan Indonesia yang menikah dengan lelaki setempat. Berikut laporan wartawan Jawa Pos M. HILMI SETIAWAN yang balik dari sana.
---
TIAP kali makan di restoran di seberang stasiun itu, Beni Fajar Danial seolah diterbangkan pulang. Ke kampung halamannya di Bojonegoro, Jawa Timur.
Entah karena cita rasa makanannya. Atau karena suasana tempat makan tersebut yang selalu dipenuhi alunan lagu-lagu dari musisi Indonesia. Rabu (9/1) tiga pekan lalu itu misalnya. Suara Nissa Sabyan yang terdengar melantun. "Jadi, makan di sini itu tak cuma mengobati rasa lapar. Tapi juga rasa kangen rumah (di Indonesia, Red)," kata mahasiswa Universitas Cheng Sun, Kaohsiung, itu.
Padahal, dari Taipei, ibu kota Taiwan, saja, Kaohsiung terpisah jarak 361 kilometer. Kalau kemudian Indonesia terasa "dekat sekali" dari kota terbesar kedua di Taiwan tersebut, itu disebabkan sang pemilik, Lilik Inayati, tak mengubah rasa hasil olahannya.
"Meskipun lama tinggal di Taiwan, saya tidak mengubah rasa menyesuaikan lidah orang Taiwan yang tidak suka makanan pedas dan asing," kata Chen Lili, sapaan akrab Lilik, kepada Jawa Pos.
Masuk ke Chen Lili Indonesia Halal Restaurant memang tak ubahnya pulang ke Indonesia. Ada enam set meja dan kursi panjang khas warung-warung di tanah air. Kemudian tertata aneka lauk-pauk dan sayur. Semua khas Nusantara.
Pagi tiga pekan lalu itu ada sayur nangka, orek tempe, telur puyuh dibumbu merah, dan rendang sapi. Tersedia pula bakso, sate ayam dan kambing, urap-urap, gado-gado, serta nasi pecel. Pagi itu Jawa Pos menjajal menu yang terakhir.
Sudah hampir dua dekade Chen Lili bermukim di Taiwan. Dari sepuluh restoran Indonesia di Kaohsiung sekarang, dua di antaranya milik perempuan kelahiran Kediri pada 9 April 1972 tersebut.
Itu buah kerja keras ibu satu anak tersebut. Tujuan Lili ke Taiwan, sebagaimana tenaga kerja Indonesia (TKI) lainnya, memang memperbaiki nasib. Itu ditempuh setelah usaha toko peracangan (kelontong) miliknya di Kediri, Jawa Timur, tumbang akibat krisis moneter.
Setiba di Kaohsiung, pekerjaan pertama yang dia lakoni menjaga pasangan kakek-nenek. Keduanya menggunakan kursi roda. Tugas sehari-hari Lili adalah memasak, mencuci, dan merawat keduanya. Pekerjaan tersebut dia lakoni sekitar enam tahun.
Setelah itu Lili sempat pulang ke Indonesia satu tahun. Dia pulang antara lain untuk memproses pernikahannya dengan pria asal Taiwan bernama Chen Chin Liang. Dari pernikahan dengan Chen Chin Liang yang kini telah berpulang itu, Lili dikaruniai anak perempuan bernama Chen Tika. Pekerjaan dia berikutnya di Taiwan ialah merawat para warga sepuh yang menjalani rawat inap di rumah sakit.
Di Taiwan memang banyak orang tua yang dirawat di rumah sakit tanpa dijaga keluarga. Keluarga inti seperti anak dan menantu hanya sesekali menjenguk. Tapi, Chen Lili lama-lama merasa jenuh dengan pekerjaannya itu. "Saya ini biasanya umek (berkegiatan, Red) masak di dapur, juga belanja ke pasar," jelasnya.
Akhirnya Lili berhenti bekerja dan membuka warung kecil di rumahnya di belakang Stasiun Utama Kota Kaohsiung. Dalam kurun 2009-2011, warung dengan menu soto ayam, rawon, sate, bebek goreng, dan nasi pecel itu ramai pembeli. Terutama karyawan sebuah pabrik yang mempekerjakan banyak TKI. Saat ini ada sekitar 200 ribu TKI di Taiwan. "Kebanyakan mereka ngebon (berutang, Red). Dibayarnya ketika gajian," jelasnya.
Mengetahui istrinya hobi memasak, almarhum Chen Chin Liang kerap mendaftarkan Lili mengikuti kontes memasak. Kontes memasak khusus untuk warga asing yang tinggal di Taiwan. Selain WNI, pesertanya biasanya warga Thailand, Filipina, India, dan beberapa negara lainnya. Dengan menu andalan tumpeng nasi kuning, Lili langganan juara. "Suatu kali lomba dapat juara kesatu dan kedua sekaligus," kenangnya lantas tertawa.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
