
PASAR DI HUTAN: Asngari dengan latar belakang beberapa lapak di Pasar Kumandang (13/1).
Di tengah hutan dan hanya buka sepekan sekali, Pasar Kumandang mengharamkan segala jenis plastik. Ada kandungan filosofis kenapa bahasa Jawa diwajibkan dan rupiah harus ditukar batok kelapa di sana.
DIMAS NUR APRIYANTO, Wonosobo
---
SI pembeli itu tampak bingung. Mukanya mengernyit. Lalu mengulangi kembali pertanyaannya kepada si penjual jamu.
''Berapa, Bu?'' tanya si pembeli.
''Sekawan keping nggih, Cah Ayu,'' jawab si penjual dengan agak menahan tawa.
''Sekewan. Berapa itu, Bu?'' tanya si pembeli lagi.
Bhaaa... si penjual pun akhirnya benar-benar tak bisa menahan tawa. ''Sekawan itu artinya empat, Mbak. Kalau kewan, itu binatang,'' jawabnya. Kali ini si pembeli dan kawan-kawannya yang giliran gerrr.
Kalau lost in translation kerap terjadi di pasar tengah hutan di Wonosobo itu, harap maklum. Sebab, hanya boso Jowo (bahasa Jawa) yang boleh digunakan di sana. Setidaknya oleh para penjual atau pedagang.
Para pembeli yang tak bisa boso Jowo tetap bisa menggunakan bahasa Indonesia. Namun, jawaban para pedagang bakal tetap dalam bahasa Jawa. Dan, dari sanalah berbagai momen ger-geran itu bermula.
Ya, selamat datang di Pasar Kumandang, Dusun Bongkotan, Desa Bojosari, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pasar yang tak hanya mengharuskan Anda berpisah dari bahasa Indonesia begitu melewati plang di gerbang yang bertulisan ''Wajib Boso Jowo''. Tapi juga harus merelakan rupiah di kantong bersalin rupa jadi kepingan batok kelapa.
Ada dua ''money changer'' di pintu masuk pasar yang hanya buka tiap Minggu itu. Berupa dua meja yang dijaga karang taruna setempat. Sekeping batok kelapa bernilai Rp 2 ribu.
Dengan kepingan batok itulah Anda bisa jajan beragam makanan dan minuman di sana. Atau membelikan sang buah hati berbagai mainan tradisional.
''Ada 70 pedagang di Pasar Kumandang. Yang satu sama lain tak boleh menjual makanan yang sama,'' ujar Asngari, lurah Pasar Kumandang, kepada Jawa Pos pada Minggu lalu (13/1).
Ada kandungan filosofis di balik kewajiban berbahasa Jawa dan menukar rupiah dengan batok kelapa di pasar tersebut. Yang pertama agar bahasa Jawa, bahasa keseharian warga di sana, tetap lestari. Untuk uang pengganti, tujuannya adalah memunculkan nuansa alam.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
