Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Januari 2019 | 21.36 WIB

Ke Kumandang, Pasar tanpa Rupiah dan Wajib Berbahasa Jawa

PASAR DI HUTAN: Asngari dengan latar belakang beberapa lapak di Pasar Kumandang (13/1). - Image

PASAR DI HUTAN: Asngari dengan latar belakang beberapa lapak di Pasar Kumandang (13/1).

Di tengah hutan dan hanya buka sepekan sekali, Pasar Kumandang mengharamkan segala jenis plastik. Ada kandungan filosofis kenapa bahasa Jawa diwajibkan dan rupiah harus ditukar batok kelapa di sana.


DIMAS NUR APRIYANTO, Wonosobo


---


SI pembeli itu tampak bingung. Mukanya mengernyit. Lalu mengulangi kembali pertanyaannya kepada si penjual jamu.


''Berapa, Bu?'' tanya si pembeli.


''Sekawan keping nggih, Cah Ayu,'' jawab si penjual dengan agak menahan tawa.


''Sekewan. Berapa itu, Bu?'' tanya si pembeli lagi.


Bhaaa... si penjual pun akhirnya benar-benar tak bisa menahan tawa. ''Sekawan itu artinya empat, Mbak. Kalau kewan, itu binatang,'' jawabnya. Kali ini si pembeli dan kawan-kawannya yang giliran gerrr.


Kalau lost in translation kerap terjadi di pasar tengah hutan di Wonosobo itu, harap maklum. Sebab, hanya boso Jowo (bahasa Jawa) yang boleh digunakan di sana. Setidaknya oleh para penjual atau pedagang.


Para pembeli yang tak bisa boso Jowo tetap bisa menggunakan bahasa Indonesia. Namun, jawaban para pedagang bakal tetap dalam bahasa Jawa. Dan, dari sanalah berbagai momen ger-geran itu bermula.


Ya, selamat datang di Pasar Kumandang, Dusun Bongkotan, Desa Bojosari, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pasar yang tak hanya mengharuskan Anda berpisah dari bahasa Indonesia begitu melewati plang di gerbang yang bertulisan ''Wajib Boso Jowo''. Tapi juga harus merelakan rupiah di kantong bersalin rupa jadi kepingan batok kelapa.


Ada dua ''money changer'' di pintu masuk pasar yang hanya buka tiap Minggu itu. Berupa dua meja yang dijaga karang taruna setempat. Sekeping batok kelapa bernilai Rp 2 ribu.


Dengan kepingan batok itulah Anda bisa jajan beragam makanan dan minuman di sana. Atau membelikan sang buah hati berbagai mainan tradisional.


''Ada 70 pedagang di Pasar Kumandang. Yang satu sama lain tak boleh menjual makanan yang sama,'' ujar Asngari, lurah Pasar Kumandang, kepada Jawa Pos pada Minggu lalu (13/1).


Ada kandungan filosofis di balik kewajiban berbahasa Jawa dan menukar rupiah dengan batok kelapa di pasar tersebut. Yang pertama agar bahasa Jawa, bahasa keseharian warga di sana, tetap lestari. Untuk uang pengganti, tujuannya adalah memunculkan nuansa alam.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore