
Oktavino Nurdhia, satu-satunya mahasiswi dari Sumbar yang pernah mewakili Indonesia dalam ajang Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship 2017, Amerika Serikat.
Oktavino Nurdhia, 26, baru setahun menjadi sarjana pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Mahaputra Muhammad Yamin (UMMY) di Solok, Sumatera Barat (Sumbar) dengan IPK 3,8. Sejumlah prestasi nasional sampai internasional berhasil diukirnya semasa menyandang status mahasiswi.
Laporan: Riki Chandra, Sumatera Barat
Gadis yang karib disapa Dhia itu pernah menjadi satu dari 24 mahasiswa di tanah air dan satu-satunya mahasiswi dari Sumbar yang mewakili Indonesia dalam ajang Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship 2017, Amerika Serikat, pertengahan tahun lalu.
Program yang dulunya digagas Presiden Barack Obama itu bertujuan untuk mempererat hubungan antara Negara Amerika dan negara-negara ASEAN di bidang lingkungan, ekonomi, sumber daya alam, wirausaha dan juga hubungan kewarganegaraan.
"Ya, satu pekan lamanya di sana. Kegiatan seperti perkuliahan, diskusi terkait berbagai bidang seperti lingkungan hidup dan lainnya," kata Dhia memulai percakapan dengan JawaPos.com, pekan lalu.
Dara kelahiran Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok itu mengatakan, tidak mudah untuk lolos program YSEALI di Amerika. Sedikitnya, ada 1.675 mahasisiwi yang ikut bersaing berebut mewakili Indonesia kala itu.
Proses administrasi yang panjang hingga masing-masing peserta diwajibkan menulis esai 250 kata dengan tema lingkungan, melengkapi CV dan pengalaman organisasi turut diadukan dalam seleksi ketat tersebut. Namun, proses itu berhasil dilewatinya, meskipun hanya berasal dari kampus kecil di Sumbar.
Tak hanya itu, putri sulung dari dua bersaudara itu juga pernah mewakili Sumbar dalam program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada tahun 2014 silam. Di tahun yang sama, Dhia juga menyabet juara lomba "National University English Debating Championship" dan mewakili kampusnya untuk tingkat Nasional.
Sederet prestasi lain, seperti juara karya tulis ilmiah mahasiswa berprestasi 2015 dan debat bahasa Inggris pernah menghiasi sejarah hidupnya.
"Saya bersungguh-sungguh, ya ketika saat menjadi mahasiswa. Ketika SD, SMP dan SMA, hidup saya dipenuhi kesedihan. Bahkan, tak terfikir sedikit pun bisa kuliah," terangnya.
Dhia mengatakan, orang yang paling berjasa dalam pendidikannya adalah amak (begitu dhia menyebut ibunya) dan etek (tante) adik kandung dari ibunya. Sebab, kedua orang itulah yang tak bosan-bosan memberikan semangat dan mencarikan biaya pendidikannya hingga sampai di bangku kuliah.
Dhia sendiri hidup dalam keluarga yang sangat-sangat sederhana. Ia tinggal bersama amak yang kini tidak lagi bekerja dan ayah tirinya yang hanya pedagang es keliling ke sekolah-sekolah di Tanah Garam, Kota Solok. Ayah dan ibu kandungnya sudah bercerai sejak Dhia masih balita.
Jangankan untuk kuliah, biaya makan dan hidup-hidup sehari saja terpenuhi, itu sudah lebih dari cukup. Namun, di tengah kemelaratan itu, ibunya tidak pernah mematikan semangat Dhia yang memang getol ingin sampai di bangku kuliah.
"Beliau tidak mengeluh. Terus memberi semangat, meski jalan untuk terus sekolah tidak tampak," katanya.
Menurut Dhia, ketika dirinya merasa terpuruk dengan keadaan miskin, ibunya kerap menceritakan kisah-kisah orang yang kondisinya lebih lemah dari tengah dialaminya. Seperti cerita orang-orang buta, lumpuh, tanpa kaki, dan tangan yang tetap hidup penuh semangat untuk menggapai prestasi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
