
Pendiri Yayayasan Bina Autis Mandiri Palembang Muniyati Ismail saat diwawancarai.
JawaPos.com - Upaya Muniyati Ismail membuahkan hasil. Yayasan Bina Autis Mandiri Palembang yang didirikan sejak 15 tahun silam, kini mendapatkan pengakuan luas dari masyarakat. Bukan hanya penyandang autis, anak-anak normal juga banyak yang masuk sekolah tersebut.
Alwi Alim, Palembang
---
M Attar Annurillah, 21, terlihat asyik bertepuk tangan mengiringi sebuah lagu yang dinyanyikan rekannya. Tatapan kosong terpancar dari matanya tanpa menghiraukan kondisi sekitar. Begitulah kondisi salah satu murid di Yayasan Bina Autis Mandiri Palembang.
Ta, Attar merupakan putra bungsu pasanggan Muniyati dan Des Alwi. Dia mengidap autis sejak usia enam bulan. Attar merupakan inspirasi bagi orang tuanya dalam mendirikan Yayasan Bina Autis Mandiri Palembang.
Muniyati mengaku sudah berupaya semampunya untuk mengembalikan kondisi sang buah hati setelah diketahui mengidap autis. Namun upaya tersebut tidak berhasil hingga Attar memasuki usia sekolah.
Attar sempat dicoba dimasukkan ke sekolah regular. Kenyataannya tidak ada satu sekolah pun yang mau menerima. "Saya dan suami sudah berkeliling tapi banyak sekolah yang menolak," kata ibu tiga anak ini saat ditemui JawaPos.com di Palembang.
Hingga akhirnya, Muniyati dan suami sepakat mendirikan sekolah sendiri. Tujuannya memberikan pendidikan terbaik kepada putra bungsunya dan seluruh anak autis, terutama di Palembang.
Tepat pada 2 Januari 2003, Yayasan Autis Bina Mandiri akhirnya dibuka. Ketika itu, Muniyati yang berprofesi sebagai dokter umum ini mendapatkan sambutan positif dari orang tua anak penyandang autis. Mereka lantas menyekolahkan anak-anaknya ke Yyaasan Autis Bina Mandiri. Mulai dari usia dini hingga dewasa.
Lalu pada 2004, Muniyati berinisiatif menggabungkan antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal. Harapannya untuk memberikan empati kepada anak normal sehingga lebih memahami kondisi anak berkebutuhan khusus.
"Sasaran kami pada waktu itu anak umum yang tidak mampu. Sehingga dapat mensubsidi silang biaya dari pengobatan anak autis untuk biaya sekolah anak umum," ujar Muniyati.
Seiring dengan berjalannya waktu, bukan hanya anak umum tidak mampu yang bersekolah di Yayasan Autis Bina Mandiri. Banyak pula anak dokter dari lainnya yang masuk ke sekolah tersebut.
"Kelak kami harap anak umum ini lebih berempati jika melihat anak berkebutuhan khusus dan tidak takut. Mengingat saat ini banyak memiliki persepsi negatif terhadap anak berkebutuhan khusus," ucap Muniyati.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
