Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 November 2018 | 17.21 WIB

Sukses Satukan Anak Normal dan Autis dalam Satu Sekolah

Pendiri Yayayasan Bina Autis Mandiri Palembang Muniyati Ismail saat diwawancarai. - Image

Pendiri Yayayasan Bina Autis Mandiri Palembang Muniyati Ismail saat diwawancarai.

JawaPos.com - Upaya Muniyati Ismail membuahkan hasil. Yayasan Bina Autis Mandiri Palembang yang didirikan sejak 15 tahun silam, kini mendapatkan pengakuan luas dari masyarakat. Bukan hanya penyandang autis, anak-anak normal juga banyak yang masuk sekolah tersebut.


Alwi Alim, Palembang


---


M Attar Annurillah, 21, terlihat asyik bertepuk tangan mengiringi sebuah lagu yang dinyanyikan rekannya. Tatapan kosong terpancar dari matanya tanpa menghiraukan kondisi sekitar. Begitulah kondisi salah satu murid di Yayasan Bina Autis Mandiri Palembang.


Ta, Attar merupakan putra bungsu pasanggan Muniyati dan Des Alwi. Dia mengidap autis sejak usia enam bulan. Attar merupakan inspirasi bagi orang tuanya dalam mendirikan Yayasan Bina Autis Mandiri Palembang.


Muniyati mengaku sudah berupaya semampunya untuk mengembalikan kondisi sang buah hati setelah diketahui mengidap autis. Namun upaya tersebut tidak berhasil hingga Attar memasuki usia sekolah.


Attar sempat dicoba dimasukkan ke sekolah regular. Kenyataannya tidak ada satu sekolah pun yang mau menerima. "Saya dan suami sudah berkeliling tapi banyak sekolah yang menolak," kata ibu tiga anak ini saat ditemui JawaPos.com di Palembang.


Hingga akhirnya, Muniyati dan suami sepakat mendirikan sekolah sendiri. Tujuannya memberikan pendidikan terbaik kepada putra bungsunya dan seluruh anak autis, terutama di Palembang.


Tepat pada 2 Januari 2003, Yayasan Autis Bina Mandiri akhirnya dibuka. Ketika itu, Muniyati yang berprofesi sebagai dokter umum ini mendapatkan sambutan positif dari orang tua anak penyandang autis. Mereka lantas menyekolahkan anak-anaknya ke Yyaasan Autis Bina Mandiri. Mulai dari usia dini hingga dewasa.


Lalu pada 2004, Muniyati berinisiatif menggabungkan antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal. Harapannya untuk memberikan empati kepada anak normal sehingga lebih memahami kondisi anak berkebutuhan khusus.


"Sasaran kami pada waktu itu anak umum yang tidak mampu. Sehingga dapat mensubsidi silang biaya dari pengobatan anak autis untuk biaya sekolah anak umum," ujar Muniyati.


Seiring dengan berjalannya waktu, bukan hanya anak umum tidak mampu yang bersekolah di Yayasan Autis Bina Mandiri. Banyak pula anak dokter dari lainnya yang masuk ke sekolah tersebut.


"Kelak kami harap anak umum ini lebih berempati jika melihat anak berkebutuhan khusus dan tidak takut. Mengingat saat ini banyak memiliki persepsi negatif terhadap anak berkebutuhan khusus," ucap Muniyati.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore