Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Oktober 2018 | 19.30 WIB

Terjemahkan Istilah Rumit, Himpun 18,6 Juta Kata

Abdi Utami dan Paramita sedang mengalihaksarakan naskah Babasan lan Saloka di kantor Yayasan Sastra Lestari,  Kota Solo, Jumat (5/10). - Image

Abdi Utami dan Paramita sedang mengalihaksarakan naskah Babasan lan Saloka di kantor Yayasan Sastra Lestari, Kota Solo, Jumat (5/10).


Ada orang meributkan pengucapan surat Al Fatihah? Tentu dia belum pernah membaca dan mempelajari Alquran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Mutiara pengetahuan itu terancam hanyut bersama lapuknya kertas-kertas naskah kuno Jawa. Pengurus Yasri bekerja keras menyelamatkannya.


TAUFIQURRAHMAN, Surakarta


---


KURAN, Surat Phatikhah: tinurunake ana nagara Mêkah, pitung ayat. Awit ingkang asma Allah, kang Mahamurah tur kang Maha-asih. Ayat 1: Sakèhing pêpuji iku konjuk ing Allah kang Mangerani ngalam kabèh. Ayat 2: Kang Mahamurah tur kang Maha-asih.


Salah satu Alquran dengan terjemahan Jawa itu disusun Bagus Ngarpah, abdi dalem Keraton Surakarta. Tertulis tahun 1835-1905. Jika dilihat-lihat, Bagus Ngarpah juga menyisipkan tafsir model tahlili. Merujuk pada kitab-kitab tafsir terkenal.


Ayat 3: Kang ngratoni ing dina agama (Yaum ad-diin, Pen). (Dina agama, têgêse dina wêwalês, iya iku dina kiyamat, awit ing dina iku Allah nindakake wêwalês, angganjar wong mukmin sarta niksa wong kaphir. Jamal.)


Kata terakhir merujuk pada kitab tafsir yang populer disebut tafsir Al Jamal. Di bagian ayat lain, Bagus Ngarpah menyisipkan kata "Jalalen" yang merujuk pada kitab tafsir Jalalain.


Kini, berkat upaya keras tenaga ahli Yasri mengalihaksarakan lebih dari 35 ribu kata, Alquran terjemahan Jawa bisa diakses dengan bebas di situs www.sastra.org. Upaya pelestarian Yasri berpusat di sebuah rumah bercat putih yang tak seberapa besar di Kelurahan Timuran, Banjarsari, di pusat Kota Solo. Tak seberapa jauh dari Taman Sriwedhari.


Saat Jawa Pos berkunjung Jumat lalu (5/10), beberapa perempuan tengah sibuk memelototi lembaran-lembaran lusuh berwarna kuning, berisi deretan huruf-huruf beraksara Jawa. Mereka, antara lain, adalah Abdi Utami, Pradjna Paramita Hapsari, dan Dian Lestari. Mereka sedang menerjemahkan dua kitab prosa Jawa dengan huruf cetak. Isinya Babasan lan Saloka. Berisi peribahasa dan ibarat-ibarat kehidupan manusia. "Pengarangnya anonim," ujar Utami.


Di rumah tersebut, Utami dan Dian melakukan alih aksara. Mereka duduk di meja berteman kitab dan laptop. Mereka membaca, lalu menyalin ke dalam naskah latin. Sedangkan Mita -panggilan akrab Paramita- sibuk mengetik kode-kode HTML dan menyisipkannya di antara naskah. Kode-kode itu nanti mengatur letak tulisan-tulisan mereka. Mana yang jadi judul, mana yang jadi bodi, rata kanan atau rata kiri. Mana yang tebal, mana yang miring. Website www.sastra.org tidak neko-neko. Tanpa iklan, tanpa desain macam-macam. Teksnya juga bebas dikopi.


Masuk lebih ke dalam, ada ruangan besar lain. Dipenuhi lemari dan rak buku. Di situlah naskah-naskah disimpan dalam kotak vandel tebal, dibungkus plastik agar aman. Diberi nomor seri, tahun penerbitan, dan asal naskah tersebut. "Total ada 1.425 naskah, sudah 90 persen tersalin," jelas Utami.


Ada banyak naskah terkenal yang dimiliki Yasri. Mulai Serat Centhini, Babad Tanah Jawi, hingga Babad Ranggawarsita. Ada juga dua naskah Jangka Jayabaya versi Tanaya. Satu menceritakan tujuh epos kehidupan manusia, mulai Jaman Kalawisesa, Kalasri, Kalawisaya, Kalajangga, Kalasakti, Kalajaya, hingga Kalabendu alias Jaman Gonjang-ganjing. Satu lagi menceritakan tentang sejarah generasi manusia penghuni Pulau Jawa yang memfiturkan tokoh legendaris Dang Yang Semar dan saudaranya, San Togog, serta kedatangan Seh Bakir (Syekh Subakir) ke tanah Jawa.


Di meja juga tergeletak kitab tembang macapat terkenal karya Raden Tumenggung Prawirasentika berjudul Babad Majapahit. Kitabnya masih utuh. Kitab itu diklaim asli dan berasal dari abad ke-19. Sampulnya tebal dengan kertas daluwang yang jilidnya hampir lepas.


Babad Majapahit adalah karya sastra kanonikal bergenre romantis yang menceritakan tentang liku-liku kisah cinta Damar Wulan, sang kesatria tampan yang menjadi pahlawan di masa pemerintahan Ratu Kencana Wungu.


Kisah romantis dalam Babad Majapahit mengalir dalam berbagai mood episode, dandanggula yang lembut, asmarandana yang romantis, hingga bagian pangkur yang penuh konflik. "Biasanya kalau cerita-cerita peperangan ada di bagian pangkur," jelas Utami.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore