Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Oktober 2018 | 20.42 WIB

Kisah Stenly Tatoy yang Hanyut 3 Bulan dari Ternate sampai Mikronesia

Stenly Tatoy mendapat perawatan medis usai hilang hampir tiga bulan. - Image

Stenly Tatoy mendapat perawatan medis usai hilang hampir tiga bulan.

Stenly Tatoy hanyut bersama rumah rakit yang dijaga sejak Juli lalu. Sebelum diselamatkan sebuah kapal nelayan, dia bertahan hidup dengan makan ikan mentah.


Grand Regar, Minahasa Utara


---


MALAM sudah jatuh saat kapal itu mendekati rumah rakit yang dinaiki Stenly Tatoy. Para kru lantas membantu pria 37 tahun tersebut naik ke geladak.


"Saat itu saya tidak mengerti apa yang dibilang sama kapten kapal tersebut. Saya hanya tanya kapten Filipina? Tapi, kaptennya bilang dia (dari) Yap," kata Stenly tentang momen ketika dirinya diselamatkan kapal nelayan pada 6 Oktober lalu itu.


Warga Minahasa Utara, Sulawesi Utara, itu hanyut bersama rompong atau rumah ikan yang dijaganya pada 6 Juli lalu. Dari perairan Ternate Utara tempat rompongnya berlokasi, dia "mengembara" selama tiga bulan di lautan. Hingga akhirnya sampai di perairan Pulau Yap dan diselamatkan.


Yap adalah salah satu pulau di Kepulauan Caroline. Kepulauan tersebut masuk wilayah Federasi Mikronesia, sebuah negeri mini di Samudra Pasifik. Juli lalu presiden negara tersebut yang masih keturunan Maluku, Peter M. Christian, berkunjung ke Indonesia dan bertemu Presiden Joko Widodo.


Karena rompong terletak di tengah laut dan hanya dijaga sendiri, keluarganya baru mengetahui peristiwa itu 12 Juli. Penyebab hanyutnya sama dengan Aldi Novel Aldilang, warga Minahasa Utara lainnya. "Tali rakit saya putus saat itu," terangnya.


Stenly tercatat sebagai warga Desa Gangga Satu, Kecamatan Likupang Barat, sedangkan Aldi berasal dari Desa Lansa, Kecamatan Wori.


''Iya (kenal), tapi sekadar kenal di tempat pekerjaan. Dia memang lebih dulu hilang dari saya,'' sebut Aldi kepada Manado Post.


Rompong tempat mereka bekerja sama-sama berlokasi di Perairan Ternate.


Pemiliknya juga kakak-adik.


Bedanya, Aldi "hanya" hanyut selama 49 hari. Sebelum diselamatkan sebuah kapal pengangkut batu bara dekat Guam. Kapal itu lantas membawanya ke Jepang. Dari sana, KJRI Osaka lantas membantunya pulang ke Indonesia September lalu.


Para penjaga rompong biasanya dibekali beras, ikan asin, air bersih, dan gas elpiji selama masa berjaga. Nah, ketika hanyut, persediaan beras Stenly tinggal 10 liter. "Jadi, satu bulan sudah habis beras saya," katanya ketika dihubungi Manado Post melalui video Facebook Messenger.


Untuk bertahan hidup, dia bergantian bakar ikan dan makan ikan mentah. Untuk membakar ikan, bahannya diambil dari kayu-kayu rakit. Sedikit demi sedikit. Seperti juga yang dilakukan Aldi dulu ketika gas elpiji habis.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore