
Ritual di Puthuk Kursi untuk memanjatkan doa kepada pahlawan dan Indonesia.
Hampir dua dekade perjuangan Sendi menjadi desa adat belum sepenuhnya mendapat pengakuan dari negara. Toh, Hari Kemerdekaan mereka rayakan dengan meriah: mulai tasyakuran, jaran kepangan, sampai pawai membawa bendera Merah Putih raksasa.
IMRON ARLADO, Mojokerto
---
DARI surau tempat tasyakuran kemerdekaan digelar, mereka bergerak ke lapangan terbuka di balik bukit. Di sana pertunjukan seni jaran kepang telah menunggu.
''Ini hiburan khas Sendi. Semua pemainnya asli warga sini, 20-an orang,'' ujar Mbah Demang Supardi kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.
Suhu dingin sekali pada Kamis malam lalu itu (16/8). Sekitar 17 derajat Celsius. Maklum, Sendi diapit dua gunung: Welirang dan Anjasmoro Tapi, tak sedikit pun memengaruhi semangat dan konsentrasi para pemain jaran kepang alias kuda lumping. Yang seolah melambangkan kegigihan warga setempat dalam memperjuangkan eksistensi desa mereka. Yang sudah dilakukan sejak 18 tahun silam tersebut.
"Tak pernah berhenti. Kami, tetap semangat berjuang," imbuh Supardi.
Sendi adalah "desa adat" di Jawa Timur (Jatim). Desa harus diberi tanda kutip karena sampai sekarang eksistensi mereka sebagai desa belum sepenuhnya diakui.
Sendi yang terletak di antara dua destinasi populer di Jatim, Pacet, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Batu, itu dahulu sebuah desa sendiri. Tapi, mendadak "hilang" dari peta Kabupaten Mojokerto pada 1989.
Saat ini Sendi masih tergabung dengan Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Padahal, kedua desa itu terpisah jarak sekitar 7 kilometer.
Pemkab Mojokerto sebenarnya sudah turun tangan. Mengajukan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) agar Sendi bisa jadi desa sendiri. Tapi, Kemendagri melalui Pemprov Jatim menolaknya sekitar sepekan menjelang Idul Fitri tahun ini.
Dengan alasan, berdasar UU Desa, jumlah penduduk di kampung tersebut kurang dari standar sebuah desa. Untuk bisa diakui sebagai desa, kampung itu harus memiliki 1.200 KK (kepala keluarga) atau 6 ribu jiwa. Padahal, jumlah warga Sendi saat ini tak sampai separonya. Hanya 668 jiwa atau 323 KK.
Namun, penolakan itu sama sekali tak menyurutkan semangat warga desa yang mengklaim sebagai keturunan pendiri Majapahit, kerajaan terbesar Nusantara yang berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, itu.
Pada 1 Agustus lalu, misalnya, mereka menggelar kenduri di DPRD Kabupaten Mojokerto. Dengan membawa tumpeng, nasi kebuli, nasi putih, dan nasi jagung yang menjadi khas Sendi.
Sambil juga menyerahkan dua kotak kayu berisi dokumen tentang desa mereka. Sebelum ke kantor wakil rakyat, mereka mengadakan kirab di Alun-Alun Mojokerto.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
