
Sejumlah pemuda dan pemudi berlatih mengibarkan bendera merah putih di pengungsian Desa Kekait, Lombok Barat, kemarin (16/8). Persiapan ini dilakukan untuk upacara bendera 17 Agustus.
Rumah hancur dan kehilangan pekerjaan. Tapi, para korban gempa Lombok tak lupa memasang bendera di tiap tenda pengungsian. Melihat Merah Putih berkibar, bagi mereka, adalah pengingat: dulu para pahlawan juga menghadapi cobaan yang sama beratnya dengan mereka kini.
SIRTUPILLAILI, Lombok Barat
---
RUMAH, atau lebih tepatnya bekas rumahnya, tinggal reruntuhan. Tapi, Murdan tak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang dia cari. Di lemari yang teronggok di antara puing.
Karena kotor, dibawanya apa yang dia temukan itu ke pancuran air. Tak jauh dari tempatnya mengungsi di Lapangan Pura Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya.
Setelah bersih, baru dipasangnya di depan tenda terpal. Tempat dia berjejalan bersama istri dan anak serta keponakan. ''Bendera ini kami pasang sekali dalam setahun (saat Agustusan), setelah itu dicuci dan disimpan lagi,'' tutur pria 40 tahun tersebut kepada Lombok Post (Jawa Pos Group). Bendera itu masih tampak sedikit lusuh. Ada bolongnya. Tapi, hanya itulah yang bisa dilakukan Murdan dan ratusan warga sekampung pada hari Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-73.
Mengibarkan bendera, di tiap tenda, sejak beberapa hari lalu itu semacam penanda: Di tengah kedukaan hebat, mereka tak lupa pada hari keramat ini. Meski tak ada lagi kemeriahan lomba khas Agustusan seperti biasa.
Sejak gempa 7 skala Richter mengguncang Lombok pada 29 Juli lalu, Murdan dan warga Lingsar lain harus hidup di tenda-tenda pengungsian. Berjejalan dengan pakaian yang ditumpuk sembarangan, selimut, televisi, serta kipas angin.
Sebab, rumah mayoritas warga rusak parah. Kalaupun masih ada yang berdiri, si pemilik takut menghuninya. Sebab, siapa yang bakal menjamin gempa tak akan datang lagi.
Hingga kemarin, sudah tercatat 698 gempa susulan dengan kekuatan bervariasi. Sepekan setelah gempa 7 SR, misalnya, lindu dengan kekuatan 6,2 SR datang lagi.
Murdan tak tahu sampai kapan akan tinggal di tenda itu. Penghasilannya pas-pasan sebagai buruh. Tidak akan cukup memperbaiki rumah dalam waktu singkat.
Tidak hanya soal rumah, Murdan juga cukup dipusingkan dengan ekonomi keluarga yang mandek pascagempa. "Saya belum tahu. Mudah-mudahan ada bantuan," ujar bapak dua anak itu dengan nada pasrah.
Semalam sebelumnya (15/8), hujan mengguyur Lingsar. Air hujan merembes masuk ke dalam tenda. Karpet dan tikar pun basah.
Kalau malam, dingin pun terasa menusuk tulang. Apalagi, Lingsar dikelilingi perkebunan dan sawah nan hijau.
Bagi Murdan, juga Tuardi, tetangganya yang berada di tempat pengungsian yang sama, Merah Putih menghadirkan spirit kepahlawanan. "Pahlawan menghadapi cobaan hidup mahaberat saat berjuang melawan penjajah. Bendera ini sebagai bentuk penghormatan kami," ujar Tuardi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022