Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Agustus 2018 | 00.25 WIB

Rafa Jafar, Remaja Penggagas E - Waste Dropbox

Inisiator EWaste Rafa Jafar. - Image

Inisiator EWaste Rafa Jafar.


Baterai juga memiliki dampak paling berbahaya. Karena itu, RJ kemudian mengulasnya secara spesifik di buku kedua, Sampah Baterai, yang dirilis pada awal Juli lalu. "Kebanyakan didiemin di laci atau lemari, baterai pasti leaking (bocor, Red)," kata RJ, mencontohkan.


Dia pernah menjajalnya. Baterai yang sudah leaking dimasukkan ke stoples yang berisi ikan. Tidak sampai 40 menit, ikan itu mati. RJ juga melakukan uji coba dengan meletakkan baterai tersebut di dekat tanaman. "Dalam seminggu, tanamannya sudah layu," ucapnya. Bagaimana kalau sampai mengontaminasi manusia?


RJ menyusun buku kedua itu saat duduk di kelas IX, ketika hampir lulus dari SMP Labschool Kebayoran. Tidak lama, perlu waktu 2-3 bulan. Kini RJ memulai hari-hari awalnya sebagai pelajar SMA Taruna Nusantara, Magelang. Untuk memantau e-waste dropbox di beberapa titik Jakarta, ada empat anggota tim yang membantu.


Dia berharap kesadaran masyarakat akan bahaya sampah elektronik meningkat. Dengan begitu, ke depan, makin banyak yang melakukan hal serupa. Saat ini komunitas e-waste sudah ada di Manado, Jogjakarta, dan Palembang.


Dari sudut pandangnya, pemuda harus bisa menyuarakan hal-hal positif. "Saya merasa harus berkontribusi. Nggak mau duduk-duduk doing sampai dunia ini hancur," ungkap remaja yang bercita-cita menjadi menteri lingkungan hidup atau menteri luar negeri itu.


Setidaknya tiga tahun berjalan, setidaknya bisa memantik kesadaran. Salah satu capaian gerakan yang dia rintis, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta turut menyediakan dropbox untuk sampah elektronik di area car free day. RJ berharap langkah itu diikuti kota-kota lain.


Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSL-B3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tuti Hendrawati yang turut hadir dalam perilisan buku RJ mengungkapkan rasa salutnya. "Inisiatif RJ sangat bagus dan semoga menginspirasi generasi muda serta semua pihak untuk lebih peduli lingkungan, terutama dalam kaitannya dengan bahaya sampah elektronik," tuturnya.


RJ terinspirasi negara-negara yang sudah settled dan tahu tentang pengelolaan e-waste secara tepat. Contohnya Jepang. Harga beli ponsel di negara itu sudah mencakup biaya pengolahan atau pendaurulangan ketika ponsel sudah tidak terpakai lagi. Atau, program take back product di AS. Tiap perusahaan elektronik bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.


Misi itulah yang ingin diterapkan RJ di Indonesia. "Seharusnya perusahaan bisa menerima produknya kembali sehingga sampah elektronik tidak menumpuk di sekitar kehidupan sehari-hari," ucap dia.


RJ sadar bahwa jalannya akan panjang dan mungkin berliku. "Saya percaya kita bisa mengubah kebiasaan buruk menjadi sesuatu yang berdampak besar buat masyarakat," paparnya.


RJ menuturkan akan tetap concern terhadap lingkungan meski kesibukan sekolah akan semakin padat dan dirinya jauh dari Jakarta. "Harapannya, bisa memperluas dan membangun komunitas di sana. Murid SMA Tarunakan dari seluruh Indonesia. Bisa menyebarkan misi ini dengan lebih luas," papar remaja yang mengidolakan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau tersebut.


Selain itu, untuk pengembangan ke depan, RJ berharap ada aplikasi digital untuk memperluas jangkauan awareness tentang sampah elektronik. "Mau banget kalau ada partner untuk kerja sama bikin aplikasi," ucapnya. Nanti informasi tentang pengelolaan sampah elektronik dan lokasi e-waste dropbox bisa diketahui secara cepat dan real time.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore