Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Juni 2018 | 00.21 WIB

Mengeksplorasi Istanbul sembari Berpuasa 17 Jam

Suasana buka puasa di kawasan depan Masjid Biru, Istanbul (29/6). - Image

Suasana buka puasa di kawasan depan Masjid Biru, Istanbul (29/6).


Meski sedang ada renovasi, ratusan pengunjung tetap datang ke museum yang dahulu adalah gereja di era Kekaisaran Romawi. Dan, kemudian berubah fungsi menjadi masjid pasca penaklukan Konstantinopel tersebut.


Ada salah satu spot yang tetap ramai diminati pengunjung. Yakni, wish column. Sebuah pilar dari batu granit dengan lubang kecil di tengahnya. Konon, siapa pun yang mampu memutar ibu jarinya 360 derajat di dalam lubang tersebut tanpa terputus, keinginannya akan dikabulkan. Tak ayal, banyak yang mengantre di sana untuk menguji skill mereka memutar jempol.


Setelah dua jam menghayati sejarah di Hagia Sophia, Jawa Pos melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Di sekitar area Sultan Ahmet terdapat sejumlah makam sultan Turki. Pengunjung bisa masuk ke sana untuk berziarah. Sekaligus mengenal sejarah dari masing-masing raja Turki itu. Gratis.


Tujuan berikutnya adalah Istana Topkapi. Ketidakberuntungan ternyata berlanjut. Setelah berjalan sekitar 700 meter, sesampai di gerbang, ada pemberitahuan bahwa istana sedang ditutup bagi pengunjung. Jawa Pos baru bisa menikmati Topkapi keesokan harinya.


Pada titik itu, sekitar pukul 14.00, tenaga mulai terkuras. Panas di luar lumayan menyengat. Sebenarnya, lapar tak terlalu jadi soal.


Masalah utama pada kerongkongan yang kering. Tapi, tekad untuk berpuasa di tanah Ottoman kembali menguatkan. Apalagi, tujuan berikutnya ikut membangkitkan semangat. Yaitu, Grand Bazaar.


Dengan menggunakan trem yang nyaman, Grand Bazaar bisa dicapai dengan cepat. Sudah mafhum di kalangan traveller bahwa siapa pun yang kali pertama datang ke pusat perbelanjaan terbesar di dunia itu pasti tersesat. Saking besarnya.


Jadi, Jawa Pos memang sengaja menyasarkan diri di dalamnya. Tentu dengan meme­gang satu pesan dari seorang teman.


"Selalu ingat pintu di mana pertama masuk ke pasar tersebut," kata si teman.


Paling gampang adalah melalui Stasiun Trem Beyazit. Jadi, saat sudah ingin pulang tapi masih tersesat, tinggal tanya pedagang di sana di mana pintu pertama itu.


Ya, Grand Bazaar berhasil mengalihkan pikiran dari haus dan lapar. Kering di kerongkongan pindah ke kantong. Lapar di perut pindah ke mata.


Bahkan, jika seharian pun menghabiskan waktu di sana, tetap saja kurang. Jadi, kesimpulannya, kalau boleh memelesetkan lagu Via Vallen, puasa di Istanbul itu "kuat dilakoni, ora kuat ditinggal shopping".


Tak terasa sudah pukul 19.00. Hari masih sangat terang layaknya siang. Magrib masih satu setengah jam lagi. Saya memilih kembali ke kawasan Sultan Ahmet untuk ngabuburit di sana.


Ternyata, di depan halaman Masjid Biru ratusan orang sudah berkumpul. Mereka duduk di kursi-kursi yang disediakan berjajar sepanjang 50 meter.


Ada sebagian yang sedang memesan makanan di restoran-restoran semipermanen di sekitar situ. Sepanjang Ramadan memang ada bazar yang buka sejak siang.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore