
Suasana buka puasa di kawasan depan Masjid Biru, Istanbul (29/6).
Meski sedang ada renovasi, ratusan pengunjung tetap datang ke museum yang dahulu adalah gereja di era Kekaisaran Romawi. Dan, kemudian berubah fungsi menjadi masjid pasca penaklukan Konstantinopel tersebut.
Ada salah satu spot yang tetap ramai diminati pengunjung. Yakni, wish column. Sebuah pilar dari batu granit dengan lubang kecil di tengahnya. Konon, siapa pun yang mampu memutar ibu jarinya 360 derajat di dalam lubang tersebut tanpa terputus, keinginannya akan dikabulkan. Tak ayal, banyak yang mengantre di sana untuk menguji skill mereka memutar jempol.
Setelah dua jam menghayati sejarah di Hagia Sophia, Jawa Pos melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Di sekitar area Sultan Ahmet terdapat sejumlah makam sultan Turki. Pengunjung bisa masuk ke sana untuk berziarah. Sekaligus mengenal sejarah dari masing-masing raja Turki itu. Gratis.
Tujuan berikutnya adalah Istana Topkapi. Ketidakberuntungan ternyata berlanjut. Setelah berjalan sekitar 700 meter, sesampai di gerbang, ada pemberitahuan bahwa istana sedang ditutup bagi pengunjung. Jawa Pos baru bisa menikmati Topkapi keesokan harinya.
Pada titik itu, sekitar pukul 14.00, tenaga mulai terkuras. Panas di luar lumayan menyengat. Sebenarnya, lapar tak terlalu jadi soal.
Masalah utama pada kerongkongan yang kering. Tapi, tekad untuk berpuasa di tanah Ottoman kembali menguatkan. Apalagi, tujuan berikutnya ikut membangkitkan semangat. Yaitu, Grand Bazaar.
Dengan menggunakan trem yang nyaman, Grand Bazaar bisa dicapai dengan cepat. Sudah mafhum di kalangan traveller bahwa siapa pun yang kali pertama datang ke pusat perbelanjaan terbesar di dunia itu pasti tersesat. Saking besarnya.
Jadi, Jawa Pos memang sengaja menyasarkan diri di dalamnya. Tentu dengan memegang satu pesan dari seorang teman.
"Selalu ingat pintu di mana pertama masuk ke pasar tersebut," kata si teman.
Paling gampang adalah melalui Stasiun Trem Beyazit. Jadi, saat sudah ingin pulang tapi masih tersesat, tinggal tanya pedagang di sana di mana pintu pertama itu.
Ya, Grand Bazaar berhasil mengalihkan pikiran dari haus dan lapar. Kering di kerongkongan pindah ke kantong. Lapar di perut pindah ke mata.
Bahkan, jika seharian pun menghabiskan waktu di sana, tetap saja kurang. Jadi, kesimpulannya, kalau boleh memelesetkan lagu Via Vallen, puasa di Istanbul itu "kuat dilakoni, ora kuat ditinggal shopping".
Tak terasa sudah pukul 19.00. Hari masih sangat terang layaknya siang. Magrib masih satu setengah jam lagi. Saya memilih kembali ke kawasan Sultan Ahmet untuk ngabuburit di sana.
Ternyata, di depan halaman Masjid Biru ratusan orang sudah berkumpul. Mereka duduk di kursi-kursi yang disediakan berjajar sepanjang 50 meter.
Ada sebagian yang sedang memesan makanan di restoran-restoran semipermanen di sekitar situ. Sepanjang Ramadan memang ada bazar yang buka sejak siang.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
