
Rina Meilani saat ditemui Jawa Pos di rumahnya. Dia berharap bisa bertemu Roy Kiyoshi
Tak ada sosok ayah dan ibu yang menemani ketika polio menyerang Rina Meilani selama 17 tahun. Namun, hal itu tak membuatnya patah arang. Bahkan, dia pernah bercita-cita menjadi seorang model dan artis ternama. Ibunya pergi begitu saja ketika Rina berusia tiga tahun. Sang ayah pergi menghadap Sang Pencipta pada 2015.
__
DIMAS NUR APRIYANTO, Jakarta
ADA pepatah bermimpilah pergi dan menginjakkan kaki ke bulan. Jika tidak bisa menginjakkan kaki, paling tidak bisa menyentuh bintang-bintang di langit. Rina Meilani terus menguntai impiannya untuk menjadi artis dan model ternama. Dalam keseharian, dia hanya tidur di atas kasur. Paman, bibi, televisi, dan tablet smartphone menjadi teman setia dara cantik kelahiran Jakarta tersebut.’
’Kalau pagi sampai siang, saya tinggal jadi driver online. Rina sama kakak saya ini, Pak Madih dan Mbak Saniah,’’ ujar Tarwiyah Azis lantas menunjuk dua orang yang dimaksud.T
arwiyah adalah adik ayah Rina. Perempuan yang akrab disapa Wiwik itu merawat Rina sejak berusia 14 tahun. ’’Ayah Rina kan meninggal karena stroke. Sebelum meninggal, ayahnya dirawat di rumah sini bareng-bareng,’’ tuturnya.
Pada 2015, Rina dan ayahnya terpisah untuk selamanya. Tangisan keluarga pecah. Foto hitam putih sang ayah yang terpasang di ruang tamu menjadi obat penawar rindu jika rasa kangen menghampiri hatinya. ’’Kalau ibu Rina, ninggalin sejak Rina usia sekitar tiga tahun. Waktu itu, bilangnya mau pulang ke kampung di Ambon,’’ ujar Wiwik.
Kedua tangannya berkali-kali mengusap kening Rina. Ditatapnya mata Rina dalam-dalam. Dia menuturkan, Rina setiap hari tidur di ruang tamu. Keluarga menyediakan kasur berukuran tipe satu. Lengkap dengan bantal dan guling. ’’Ada itu kamar kosong, kamar bekas ayah Rina. Tapi, Rina enggak mau di situ. Kalau di ruang tamu ini, kan ada TV. Jadi, hiburan Rina ini TV sama tabletnya itu,’’ terangnya.
Rina membeli sebuah tablet berukuran sekitar 8 inci. Tablet tersebut bisa mengobati rasa jenuh ketika menghampirinya. ’’Itu tablet dibeli waktu Lebaran tahun lalu. Dari uang yang dikasih, lalu dikumpulin dan dibelikan tablet,’’ jelasnya.
Seolah membongkar lembar masa lalu Rina yang telah usang, Wiwik menceritakan pilu berupa diagnosis sakit polio yang menyerang keponakannya tersebut. ’’Sejak kecil, nggak merangkak. Nggak jalan. Nah, dulu itu memang waktu kecil tidak pernah dibawa ibunya untuk imunisasi,’’ katanya.
Ketika berusia tiga tahun, ibunda Rina tercinta meninggalkannya. Rina dirawat sang ayah. ’’Rina sempat sekolah juga,’’ ucapnya.
Saat Wiwik menyebut kata sekolah, Rina tersenyum. ’’Pengin sekolah lagi,’’ timpal Rina lirih. Wiwik menceritakan, Rina mengenyam pendidikan di SD Gandaria Utara 01 Pagi. Dia hanya bersekolah sampai kelas I.
Jarang sekolah dengan rumah Rina hanya sekitar 10 meter. Sang ayah dengan setia menggendong Rina ke sekolah. ’’Nah, pihak sekolah merekomendasikan untuk disekolahkan khusus. Tapi, si ayah Rina enggan. Ya sudah, akhirnya berhenti sekolah,’’ jelas Wiwik.
Perempuan kelahiran 1969 itu mengungkapkan, sang ayah masih menganggap buah hatinya tersebut bisa berjalan. Karena itu, sang ayah bersikukuh tidak menyekolahkan Rina ke sekolah khusus. ’’Si ayah begitu sayang kepada Rina,’’ tambahnya.
Rina terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepada kapur papan tulis dan aroma kertas dari buku tulis. Dia berhenti sekolah hingga kini. Tidak ada lagi acara upacara bendera. Tak ada lagi keceriaan anak berbaju merah dan putih yang bersorak karena memenangi lomba kemerdekaan setiap Agustus di sekolah.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
