Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Februari 2018 | 21.05 WIB

Kisah Prof Ranuh, Dokter, Bidani Kurikulum Pendidikan Dokter Anak

PENGABDIAN PANJANG: Prof dr I.G.N. Gde Ranuh SpA (K) bermain biola saat Tribute Lecture XVI di Aula Fakultas Kedokteran Unair, Surabaya, kemarin (14/2). - Image

PENGABDIAN PANJANG: Prof dr I.G.N. Gde Ranuh SpA (K) bermain biola saat Tribute Lecture XVI di Aula Fakultas Kedokteran Unair, Surabaya, kemarin (14/2).


"Waktu itu saya menjadi anggota Tentara Genie Pelajar. Jadi, sewaktu ada sweeping, saya dibawa tentara Belanda, sementara keluarga diusir dari Solo," lanjutnya.


Keluarga besar Ranuh akhirnya kembali ke Bali. Saat itu mereka tidak mengetahui bahwa Ranuh masuk penjara. Beberapa lama setelah anak ketiga pasangan I Gusti Ketut Ranuh dan I Gusti Ayu Made Dewi itu tidak pulang, barulah keluarga merasa curiga.


I Gusti Ketut Ranuh yang pandai berbahasa Belanda pun menanyakan keberadaan buah hatinya kepada tentara Belanda. Barulah ketahuan, ternyata Ranuh mendekam di penjara.


Demi mengeluarkan sang anak yang masih siswa SMA itu dari penjara, dia pun akhirnya menawar. "Kebetulan kakak saya itu anggota gerilya. Jadi, sebagai penukar saya boleh keluar, kakak harus turun gunung," kenangnya.


Belanda pun menepati janjinya. Ranuh dibebaskan dan dikembalikan ke daerah asalnya, Bali.


Namun, dokter konsultan spesialis anak tersebut tidak berlama-lama di Bali. Pada 1950 dia melanjutkan sekolahnya yang sempat tertunda di Surabaya.


Lulus SMA, Ranuh muda sempat memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah perhutanan di Bogor. Namun, kala itu ayahnya yang seorang guru dan ibu yang tidak bekerja membuat keuangan keluarga tidak mencukupi jika Ranuh harus bersekolah di tempat yang jauh.


Akhirnya dia memilih untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Cabang Surabaya. "Waktu itu pas masuk, semester sudah berjalan beberapa waktu," kenangnya.


Meski tampak "terpaksa", sesungguhnya Ranuh muda memang sempat memiliki keinginan untuk melanjutkan ke dunia kedokter­an. Dia terinspirasi dokter muda Mahar Mardjono yang kala itu indekos di rumahnya.


Semasa menjadi dokter muda, Ranuh menempuh pendidikan sembari bekerja sebagai asisten di departemen ilmu faal. Itu di­lakukan karena dia sudah menikahi Rabiatul.


Namun, rupanya kala itu Prof Kwari Satjadibrata tertarik untuk merekrut Ranuh ke Departemen Anak FK Unair. "Pada 1966 saya menjadi angkatan lulusan departemen ilmu kesehatan anak pertama yang memiliki ijazah Unair. Lulusan sebelumnya banyak, tapi mereka hanya memiliki surat keterangan."


Begitu lulus dokter spesialis, tawaran beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Inggris pun datang. Saat itu tidak seperti sekarang. Tidak ada ujian TOEFL untuk bisa ke sana.


Ranuh justru dipanggil langsung oleh duta besar Inggris untuk menjalani tes berbahasa Inggris. Pria yang pernah menjabat dekan FK Unair tersebut menyelesaikan kuliah di Institute of Child Health, London, pada 1968. Selanjutnya, pada 1973 Ranuh kembali menyelesaikan pendidikan di Centre International de I'enfance, Paris.


Di mata keluarga dan anak didik, Ranuh dikenal sebagai sosok yang sabar dan ramah. "Meski dokter, beliau ini tidak pernah memaksa anak-anaknya. Bahkan, di antara empat anaknya, hanya satu yang mengikuti jejaknya sebagai dokter spesialis anak," ujar Dr IG Ngurah Indra S. Ranuh SH CN Msi, putra tertuanya.


Di tengah kesibukannya sebagai dokter dan dosen itu, musik tak pernah diabaikannya. Dari ayahnya, dia belajar cara membaca not balok. Hingga akhirnya, dia memilih untuk lebih mendalami biola secara otodidak.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore