alexametrics
Dunia Anak di Posko Pengungsian Merapi (1)

Anak Saya Jadi Pendiam, Ra Kendel Bermain

18 November 2020, 13:55:41 WIB

Sebagian anak ceria bermain dan belajar, sebagian lainnya seperti bertanya kenapa mereka ada di posko-posko pengungsian. Popok sampai toilet juga jadi kendala.

ILHAM WANCOKO, Magelang-Boyolali, Jawa Pos

SEMBARI menyuapi anaknya, Ramini nyeletuk, ’’Anakku ini gabungan presiden dan putranya, lho.” Yasri yang berjalan di belakangnya dan juga tengah menyuapi sang buah hati langsung tergelak.

Pada Senin pagi itu (16/11), di gendongan Ramini memang ada Gibran Widodo, buyungnya yang baru berusia 2 tahun. Presiden Joko Widodo, seperti jamak diketahui, punya putra bernama Gibran Rakabuming Raka.

Ibu muda tersebut menyuapi anaknya sambil melangkah menuju biliknya di Posko Pengungsian Merapi, Deyangan, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Yasri yang menggendong Satria, anak lelakinya yang lima bulan lebih tua daripada Gibran, menyusul di belakangnya.

Ada 26 bayi dan 18 anak dari total 117 pengungsi di posko tersebut. Jumlah yang banyak, di tengah suasana pengungsian yang serba terbatas dan darurat, sudah pasti menuntut perhatian khusus.

Yasri mengenang bagaimana di tiga malam pertama sejak mereka tiba di Deyangan pada 9 November lalu seperti ada ’’konser” para bayi. Tiap malam mereka kompak menangis, untuk waktu yang tidak sebentar. Dan tentu saja tidak bisa ditanya apa penyebabnya.

”Saya sih menduga karena udara yang panas dan pengap, belum ada kipas angin blower,” ujarnya.

Yang mengungsi di Deyangan memang warga Krincing, desa tertinggi di lereng Gunung Merapi, yang tentu terbiasa dengan udara dingin dan sejuk. Deyangan sejatinya tidak sepanas itu, tapi tentu juga tidak sedingin Krincing.

Dan, perubahan itu sepertinya dirasakan benar oleh para bayi.

Ramini menimpali, memang saat itu panas. Anaknya juga menangis. ”Mungkin karena masih adaptasi ya,” ujarnya.

Posko Deyangan diperuntukkan kelompok rentan, yakni lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita-anak. Ratusan lainnya yang masuk kategori serupa di Sleman, Jogjakarta, serta Klaten dan Boyolali, Jawa Tengah, juga harus meninggalkan rumah setelah status Merapi naik jadi siaga pada 5 November lalu. Sebab, kediaman mereka termasuk kawasan rawan bencana.

Kemarin (17/11), dari pengamatan visual Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, Merapi kembali mengeluarkan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tebal setinggi 50 meter di atas puncak gunung. Itu berdasar pengamatan dengan periode pukul 00.00 hingga 06.00.

HIBURAN UNTUK ANAK-ANAK: Seorang bocah bermain bola di pelataran depan Posko Deyangan, Magelang (16/11). (ILHAM WANCOKO/JAWA POS)

Seperti dilansir Jawa Pos Radar Jogja, Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida mengatakan, dari pantauan visual kemarin pagi, gunung api terlihat jelas sebelum kemudian tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal setinggi 50–150 meter dari puncak Merapi.

Konser bayi di Deyangan tadi baru berhenti setelah ada kipas angin blower di tiap pojok posko. Bayi dan anak juga mulai beradaptasi.

Kalau soal asupan makanan, Yasri dan Ramini mengatakan tak ada masalah. Tapi, Yasri mengaku masih ada yang mengganjal soal popok bayi.

Menurut Yasri, sebagai orang tua, dirinya telah beberapa kali mencoba merek popok bayi. ”Nah, yang diberikan tim dari posko ini ndak biasa dipakai anak saya. Saya takut iritasi soalnya pernah coba merek ini,” ujar perempuan 21 tahun itu.

Ramini yang seumuran dengan Yasri juga tidak mengenakan popok bayi tersebut pada anaknya, Gibran. Kekhawatiran yang sama, bikin iritasi.

Untuk anak-anak yang usianya sudah lebih dari 5 tahun, ada kegiatan di Posko Dayangan yang mengombinasikan bermain dan belajar.

Di depan posko juga terdapat pelataran yang cukup luas. Tempat anak-anak bisa bermain bola plastik yang diberikan tim.

Pada Senin pagi hingga siang lalu itu, tampak mereka tetap riang mengejar dan menendang bola walau bermain di bawah terik matahari. Tiap hari, ada pula fun game dan belajar bersama.

Semua itu dimaksudkan untuk menghilangkan efek psikis mengungsi kepada para buyung dan upik. Koordinator Umum Pos Pelayanan Pengungsi Desa Bersaudara Deyangan Kanthi Pamungkas Sari menuturkan, anak-anak sebelum belajar harus bermain dulu. ”Atau sambil main,” tuturnya.

Di Posko Pengungsian Klakah, Selo, Kabupaten Boyolali, ada cerita serupa. Konser para bayi, misalnya, juga terjadi pada hari-hari awal para pengungsi tiba.

’’Semalaman menangis, padahal di sini masih dingin,” kata Koordinator Posko Pengungsian Klakah Juwarno kepada Jawa Pos yang menyambangi posko tersebut pada Minggu siang lalu (15/11).

Posko Klakah memang masih berada di lereng Merapi, jauh lebih sejuk ketimbang Posko Deyangan. Ada 50 balita dan anak-anak dari total 126 pengungsi.

Problem para bayi, kata Juwarno, sepertinya adaptasi. Tapi, tetap saja para ibu kebingungan menghadapi bayi-bayi mereka yang kompak menangis.

Jalan tengahnya, para ibu biasanya mengajak para suami pulang untuk menenangkan anak mereka. ”Posko Klakah ini memang untuk pengungsi dari Dusun Bakalan dan Sumber yang jaraknya hanya 3 kilometer dari sini,” katanya.

Itu belum termasuk problem toilet. Hanya ada dua di Posko Klakah. Bumi dan langit kalau dibandingkan dengan kebutuhan 126 pengungsi dan 50–80 relawan.

Akhirnya pengungsi dan relawan meminjam toilet warga yang tinggal di sekitar posko. ”Kebutuhan toilet jalan mendesak, apalagi untuk anak-anak,” ujar Juwarno.

Di Posko Klakah terdapat terapi trauma healing untuk anak-anak. Saat Jawa Pos di sana, kebetulan saat itu ada tim dari Rumah Zakat yang mengajar anak-anak.

Mayoritas anak tampak ceria dengan fun game yang diberikan. Namun, masih ada sebagian yang diam dan kebingungan.

”Seperti bertanya-tanya kenapa ada di sini,” tutur anggota Tim Konseling Anak Rumah Zakat Emy Septian Anggraeni.

Untuk mengatasi, tim berupaya memberi mereka kesibukan. Hingga setidaknya bisa sedikit menghilangkan ketakutan. ”Anak memang belum mengerti bencana. Dunia mereka bermain,” jelasnya.

Yasri juga merasakan betul efek mengungsi itu pada Satria, putranya. ”Ini jadi pendiam, anak saya ra kendel nek dolanan (jadi tidak berani kalau bermain) di posko,” ujarnya.

Kecemasan yang tentunya juga dirasakan ibu-ibu lain di berbagai posko pengungsian. Termasuk yang di gendongannya ada ’’presiden beserta putranya” sekalipun.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg



Close Ads