
KORBAN: Nila, salah satu korban perdagangan manusia.
Perempuan 28 tahun ini merasakan betul kekejaman perdagangan manusia. Ditipu orang yang mengaku kerabat dekat, dia dijual ke Makassar sebagai perempuan penghibur. Dia hanya menerima bayaran Rp 10 ribu. ’’Bonusnya’’ adalah virus HIV.
DWI WAHYUNINGSIH, Surabaya
NILA, sebut saja begitu, tampak malu-malu saat Liliek Sulistyawati alias Mbak Vera, pendiri Yayasan Abdi Asih, mengenalkannya pada Jawa Pos ketika peringatan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember. ’’Aku grogi kalau ngomong sama orang yang nggak dikenal,’’ ucapnya.
Ya, Nila adalah salah seorang pengidap HIV yang rutin berkumpul di yayasan di kawasan Dukuh Kupang Timur tersebut. Dia terlihat tidak pernah nyaman mengungkapkan kisah hidupnya yang pilu.
Nestapa itu bermula pada 2008. Saat itu dia bekerja di salah satu pusat grosir di Surabaya. Seperti biasa, setelah bekerja, dia menunggu angkutan kota di tepi jalan. Ketika itu seorang pria muncul dan mendekat. Dengan meyakinkan, lelaki itu mengaku sebagai kerabat ayah Nila. Bahkan, dia tahu asal usul Nila. ’’Kalau tak ingat-ingat, rasanya waktu itu saya kayak kena gendam,’’ ujarnya mengenang.
Nila pun manut saat orang asing tersebut membawanya ke bandara. Sejatinya Nila ingin menolak. Namun, tubuhnya tidak kuasa memberontak. Nila sebenarnya sempat meminta tolong kepada orang-orang di bandara untuk membantunya. Tetapi, tampaknya kondisinya yang linglung membuatnya berbicara tidak jelas. Orang tidak paham maksud Nila.
Perempuan kelahiran 1989 itu pun akhirnya terbang ke Makassar. Di ibu kota Sulawesi Selatan tersebut, satu per satu mimpi buruk Nila datang. Pria yang mengaku sebagai kerabat ayahnya ternyata menjadikan Nila sebagai penjaja seks. Kegadisannya hilang di tangan orang yang tidak dikenal. Setiap ’’servis’’, Nila mendapat Rp 10 ribu.
Sungguh, sebuah kehidupan yang kejam bagi remaja yang kala itu baru berumur 18 tahun. ’’Sebenarnya saya juga nggak mau, Mbak. Tapi, bagaimana lagi? Saya nggak bisa keluar dari sana,’’ kata Nila sendu.
Hati nuraninya sama sekali tidak ingin melakukan itu semua. Namun, dia bersama puluhan korban perdagangan manusia lainnya terkurung di dalam mes dan tidak bisa pergi ke mana pun. Selalu ada penjaga yang berdiri di depan pintu.
Tidak bisa ditampik, Nila rindu rumah. Tetapi, dia sama sekali tidak ingat asal usulnya. Bahkan, dia melupakan wajah orang tuanya. ’’Saya sama sekali nggak tahu wajah orang tua saya. Ingat hari saja nggak,’’ jelasnya.
Tidak banyak yang bisa dia lakukan di dalam mes tersebut. Selain melayani lelaki hidung belang, yang dilakukan Nila adalah mengobati rekan-rekannya. Sebab, banyak koleganya yang sakit di bagian alat kelamin. Ada yang bernanah, ada pula yang muncul kutil. Saat itu dia tidak paham apa yang dialami teman-temannya. Yang dia tahu hanyalah, ketika mereka kesakitan, dirinya berupaya membantu dengan membersihkan dan mengobati mereka. ’’Ada juga yang sampai meninggal, Mbak. Tapi, waktu itu saya nggak ngerti mereka sakit apa,’’ ujar Nila.
Melihat kondisi teman-temannya yang begitu memprihatinkan, dia berusaha meminta bantuan kepada siapa pun yang dikenalnya di luar mes. Dengan penuh harap, ibu satu anak itu memohon agar tempatnya bernaung digerebek. Keinginannya terkabul. Dia dan teman-temannya dibebaskan dari tempat terkutuk tersebut. Dia tidak ingat kapan hal itu terjadi. Yang dia tahu, dirinya merasa aman saat melihat patung ikonik Sura dan Baya.
’’Saya dibawa ke RS Bhayangkara dan diketemukan sama orang tua. Tetapi, saya sama sekali nggak ingat,’’ terangnya. Meski begitu, Nila percaya bahwa orang yang dibawa para polisi tersebut memang orang tua kandungnya.
Di antara kelegaannya berhasil bebas dan bertemu dengan keluarga, ada satu berita buruk yang turut terbawa dari Makassar. Ada virus HIV yang bersarang di tubuhnya. Sebuah kabar yang membuat hancur hati orang tuanya. Bagaimanapun, Nila tidak bersalah. Dia hanyalah korban dari kebiadaban manusia-manusia yang ingin mencari untung.
Sekuat tenaga, orang tua Nila berusaha melakukan pengobatan terhadap perempuan lulusan SMP tersebut. Mereka mendatangi rumah sakit hingga orang pintar. Bukan hanya untuk mengobati HIV di tubuhnya, tetapi juga untuk mengembalikan kondisi Nila yang linglung dan tidak ingat siapa pun.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
