
TEROBOSAN: Devy Kamil Syahbana (kanan) dan Martanto di Pos Pengamatan Gunung Agung di Rendang, Karangasem (4/10)
Trio pembuatnya merancang Magma Indonesia untuk mengantisipasi letusan gunung, tanah longsor, gempa bumi, maupun tsunami. Sangat memangkas waktu penyebaran hasil analisis petugas pantau yang amat dibutuhkan masyarakat.
SAHRUL YUNIZAR, Karangasem
MALAM terus beranjak Senin lalu (2/10) itu. Tapi, Martanto tetap terpaku di Pos Pantau Gunung Api Agung. Staf Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tersebut masih sibuk berkutat dengan angka dan data.
Jemarinya cekatan mengolah hasil analisis aktivitas Gunung Agung enam jam belakangan. Dari perangkat komputer di ruang monitor, pria yang akrab dipanggil Anto itu lantas memublikasikan hasil analisis tersebut. Masyarakat pun langsung dapat melihatnya. ”Dulu lama sekali. Sekarang lima menit cukup,” ujar dia ketika berbincang dengan Jawa Pos.
Proses panjang itu bisa dipangkas berkat Magma Indonesia. Aplikasi dan laman resmi mitigasi bencana geologi pertama dari Indonesia yang juga diklaim pertama di dunia.
Anto merancangnya bersama dua rekannya sesama pegawai PVMBG, Devy Kamil Syahbana dan Syarif Abdul Manaf. Untuk saat ini Magma Indonesia baru bisa diunduh di sistem operasi Android. Rencana pengembangan ke iOS tertunda karena ketiga pembuatnya sibuk memantau Gunung Agung di Bali yang saat ini berstatus awas.
Sebelum Magma Indonesia tercipta, hasil analisis petugas pantau gunung api harus melalui banyak tahap untuk sampai ke masyarakat. Dari petugas di lapangan, hasil analisis dikirim dalam bentuk surat elektronik ke PVMBG. Kemudian dikoreksi sebelum dilaporkan kepada kepala Badan Geologi. Setelah ditandatangani, hasil analisis kembali ke PVMBG yang lantas dikirim melalui faksimile kepada pemerintah provinsi.
Selesai? Belum. Untuk sampai ke masyarakat, hasil analisis diturunkan lagi kepada aparat kecamatan, kelurahan atau desa, sampai dusun. Proses panjang itu jelas memakan waktu. Padahal, ada saatnya hasil analisis aktivitas gunung api harus segera diterima masyarakat. Misalnya dalam kondisi darurat seperti yang terjadi di Gunung Agung saat ini. Jika telat mengambil langkah, fatal akibatnya.
Apabila demikian, waktu dan tenaga petugas pantau gunung api terbuang percuma. Saban hari mereka bekerja nyaris tanpa henti, tetap saja hasil analisis yang mereka buat lambat sampai ke masyarakat.
Sebagai salah seorang staf PVMBG, Anto resah mengetahui hal itu. Maka, diam-diam dia mulai merancang laman khusus yang mampu menjadi ruang data bencana geologi. Bukan hanya letusan gunung api, tapi juga gempa bumi, tanah longsor, dan tsunami. Dengan potensi bencana geologi tinggi, pikir Anto, Indonesia wajib punya ruang data tersebut. ”Saat masuk CPNS di PVMBG, saya langsung buat,” ucap dia.
Semula Anto membuatnya hanya untuk kebutuhan sendiri. Dia ingin seluruh hasil analisisnya tersimpan rapi serta dapat dilihat kapan pun dan dari mana pun. Namun, idenya berkembang. Pria kelahiran Probolinggo, Jawa Timur, itu ingin semua hasil analisis dari petugas pantau punya tempat khusus.
Tanpa perintah, secara bertahap Anto membuat laman tersebut. Dia mengerjakan itu di sela tugas pokoknya. Ketika senggang di kantor pusat PVMBG maupun saat bekerja di lapangan. Bahkan, waktu luang saat bertugas di Pos Pantau Gunung Api Agung dia pakai untuk meningkatkan performa laman Magma Indonesia. ”Karena suka-suka buatnya, tidak ada tekanan,” ujar dia. Apalagi setelah PVMBG memberikan dukungan.
Dua tahun lalu Kasubbid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Devy Kamil Syahbana mengajak Anto bekerja sama. Sejak saat itu Anto tahu bahwa Devy punya gagasan serupa dengan dirinya.
Lebih dari itu, mereka pun memiliki visi senada. Yakni menyampaikan hasil analisis aktivitas gunung api secepat-cepatnya. Lantaran kemajuan zaman begitu pesat, mereka sepakat itu wajib dilakukan. Laman Magma Indonesia terus dikembangkan.
Mereka turut menggaet pengamat gunung api yang kini juga bekerja di PVMBG, Syarif Abdul Manaf, untuk membuat aplikasi berbasis Android. Jadilah mereka sebagai trio pengembang Magma Indonesia.
Meski punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, ketiganya berhasil membuat dan menyebar aplikasi tersebut. Terakhir Jawa Pos mengakses Google Play Store Rabu lalu (4/10), Magma Indonesia sudah diunduh 10 ribu akun.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
