
SEUSAI PUASA BICARA: Trimoelja dalam posisi berbaring lebih banyak berbicara dari pada pengunjung yang besuk setelah perawatan infeksi paru-paru di Siloam Hospitals Surabaya.
Terakhir, dia menjadi ketua tim advokasi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengenai kasus penodaan agama. Kasus terakhir itulah yang membuatnya terkapar. Sejak November 2016 sampai Mei 2017, dia terlalu lelah dan kurang istirahat. ’’Sakit saya ini karena Ahok effect,’’ ucapnya, lantas tertawa.
Saat sidang berjalan, tenaganya banyak tercurah untuk menangani kasus tersebut. Penerima penghargaan Yap Thiam Hien itu menjelaskan bahwa rapat untuk persiapan menghadapi sidang Ahok tidak singkat. Sering, rapat yang dimulai pada sore hari baru berakhir saat dini hari atau menjelang pagi.
Padahal, paginya dia harus mengikuti sidang yang juga sangat panjang. Biasanya, sidang di pengadilan dimulai pukul 09.00 dan baru berakhir pada tengah malam. ’’Pernah sampai jam 23.45,’’ terangnya. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang sampai sidang selesai.
Sebenarnya banyak anggota tim advokat pembela Ahok yang sudah mengingatkan dan meminta Trimoelja istirahat. Terutama ketika jarum jam sudah menunjukkan pergantian hari. Namun, dia selalu menolak saran tersebut. Dia tetap mengikuti rapat sampai selesai.
Saat awal sidang, Trimoelja sebenarnya sudah merasakan kejanggalan di tubuhnya. Badan terasa tidak nyaman seperti biasa. Kualitas suara juga menurun. Suaranya tidak selantang biasanya. Karena itulah, ketika pembacaan keberatan, dia hanya membaca sebagian kecil. ’’Tapi, saya abaikan,’’ katanya.
Dia sempat memeriksakan diri ke spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) karena menganggap gangguan suara sebagai penyebabnya. Tetapi, hasilnya tidak maksimal. Sebab, gangguan suara itu bukan karena ada kelainan di tenggorokan.
Makin hari, bobot tubuhnya kian turun. Namun, dia tetap tidak begitu menggubrisnya. Penurunan berat badan makin drastis ketika Trimoelja masuk ke rumah sakit. Dyah baru mengetahui suaminya kurang asupan. ’’Makan paling satu sendok dua sendok,’’ ungkapnya. Hal itu sempat membuat perawat di rumah sakit terheran-heran.
Ditanya alasan tidak mau istirahat dan tetap memaksa lembur meski usianya tidak lagi muda, wajah Trimoelja mendadak berubah serius. ’’Saya dididik disiplin. Ketika saya mendapatkan tanggung jawab, itulah yang harus saya kerjakan. Saya sangat menjunjung profesi. Jangan sampai saya menelantarkan klien meski saya tidak dibayar,’’ tegasnya.
Dengan suara serak, dia menegaskan bahwa disiplin, tepat waktu, dan mengerjakan yang benar adalah prinsipnya. Tanggung jawab, bagi Trimoelja, di atas segala-galanya. ’’Apalagi, jika menyangkut pelanggaran HAM, saya mempertaruhkan nyawa saya. Dicabut seperti Munir, saya rela. Itu risiko pekerjaan,’’ tuturnya.
Trimoelja bahkan pernah memarahi istrinya gara-gara mengkhawatirkan keselamatannya saat menangani kasus Marsinah. Saat itu banyak teror yang datang. Mobilnya dirusak orang tidak dikenal. ’’Saya bilang, kalau membela, mbok jangan nemen-nemen,” kata Dyah.
Bukan jawaban yang membuatnya tenang, Trimoelja malah mendudukkan dan memarahinya. ’’Bapak bilang, kalau saya mati, bukan karena membela Marsinah. Tapi karena memang garisnya saya mati,’’ ucap Dyah menirukan ucapan sang suami.
Kepada Dyah, Trimoelja justru menyatakan bahwa nyawanya sudah diletakkan di atas meja. ’’Katanya, ini kontraknya dengan Allah sudah begitu,’’ lanjutnya.
Momentum opname di rumah sakit itu menjadi penggalan sejarah hidup barunya. Setelah ini, Trimoelja memutuskan untuk slowdown dalam menangani perkara. Bukan pensiun dari pengacara. Hanya mengurangi intensitas dari yang selama ini dilakukan. Tidak menggebu lagi seperti dulu.
Misalnya, untuk sidang, Trimoelja baru akan hadir jika memang sangat diperlukan. Sekaligus memberikan semangat kepada pengacara-pengacara muda.
Di depan istrinya, dia juga mengikrarkan diri untuk tertib makan. ’’Saya akan mengawasi langsung masalah makan biar bapak tidak terlalu kurus. Sekarang bapak sudah sadar. Tapi, sadarnya harus ditebus seperti ini,’’ tutur Dyah.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
