Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 September 2017 | 17.48 WIB

Rustam Punya Jembatan Pribadi Antarprovinsi di Perbatasan Jabar-Jateng

DI SINI JABAR, DI SANA JATENG: Rustam dengan latar belakang jembatan yang dibangunnya dengan dana sendiri. Jembatan tersebut menghubungkan dua desa di dua provinsi berbeda. - Image

DI SINI JABAR, DI SANA JATENG: Rustam dengan latar belakang jembatan yang dibangunnya dengan dana sendiri. Jembatan tersebut menghubungkan dua desa di dua provinsi berbeda.

Jembatan milik Rustam membantu warga dua desa yang terpisah provinsi untuk menghemat waktu. Saat musim hujan tiba kelak, sang pemilik harus siap merelakannya hanyut.


ANDRI WIGUNA, Cirebon


RUSTAM bersiap. Sebab, seorang pengendara mendekat. Dia lantas berdiri untuk menerima uang yang diulurkan saat motor akan memasuki jembatan bambu di sebelahnya.


”Kalau untuk menahan beban lebih dari tiga motor juga kuat, asal searah. Kalau papasan, ya harus bergantian karena lebar jembatan hanya cukup untuk satu motor,” ujar Rustam kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group) setelah si pengendara tersebut berlalu.


Kalau Rustam paham sekali perihal kekuatan jembatan selebar 1 meter tersebut, itu wajar. Sebab, jembatan bambu di atas Sungai Cisanggarung tersebut memang milik pribadinya. Karena itu pula, pria 55 tahun tersebut menarik tarif untuk siapa saja yang memanfaatkan jembatan tersebut.


Peran jembatan bernama Sekroh –sesuai dengan blok tempatnya berdiri– itu vital. Tak cuma menghubungkan dua desa yang sama-sama bernama Kalibuntu, tapi sekaligus dua kabupaten di dua provinsi yang berbeda, Cirebon di Jawa Barat dengan Brebes di Jawa Tengah.


Sungai Cisanggarung memang batas alami dua provinsi tersebut di bagian utara. Di atas sungai itu pula berdiri jembatan jalan raya permanen dengan gapura selamat datang di kedua provinsi.


Jauh berbeda dengan jembatan jalan raya, jembatan milik Rustam hanya bisa dilintasi pengendara motor dan sepeda serta pejalan kaki. Meski demikian, bagi warga Desa Kalibuntu di Kecamatan Pabedilan, Cirebon, dan Desa Kalibuntu, Losari, Brebes, jembatan tersebut sangat membantu untuk menghemat waktu.


Memang ada dua jembatan permanen yang menghubungkan Cirebon dengan Brebes di Losari dan Ciledug. Tapi, dibutuhkan setidaknya 25 menit bagi warga Desa Kalibuntu di Brebes jika harus melewati jembatan tersebut untuk bisa memasuki wilayah Cirebon.


Padahal, lewat Jembatan Sekroh, cukup lima menit. ”Yang lewat kebanyakan orang-orang ke sawah atau berangkat kerja,” tutur Rustam.


Di sepanjang aliran Cisanggarung wilayah Cirebon, jembatan pribadi sebenarnya bukan hanya milik Rustam. Di Desa Cigobangwangi, Kecamatan Pasaleman, juga ada jembatan seperti itu. Menghubungkan desa tersebut dengan Desa Waled Kota di Kecamatan Waled. Untuk melintas di jembatan milik keluarga H. Timbul tersebut, warga bisa membayar seikhlasnya, Rp 1.000–Rp 2.000.


Keluarga Timbul sudah mengelolanya selama 10 tahun. Tiap hari dibuka 24 jam. Dijaga dalam tiga sif oleh anak-anak sang pemilik.


Dengan jembatan yang hanya cukup untuk dua kendaraan roda dua itu, warga sangat terbantu. Sebab, mereka tak perlu harus memutar ke Cilengkrang, melewati jembatan yang telah dibangun permanen di sana.


”Mereka yang ingin ke pasar (Waled, Red) atau mau ke Cirebon (kota, Red) ya lewat sini,” kata Darkim, warga Cigobangwangi, kepada Radar Cirebon.


Hanya bedanya, tak seperti milik Rustam, dua desa yang dihubungkan jembatan yang konstruksinya terdiri atas bambu dan kayu tersebut sama-sama berada di wilayah Cirebon.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore