
LINTAS NEGARA: Para peserta residensi dan relawan ALF 2017 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta (1/8).
Berkunjung ke sekolah, manggung di kampung, sampai liwetan menjadi medium belasan penulis peserta residensi untuk menangkap problem masyarakat. Kelak bakal disuarakan melalui opini, esai, artikel, atau cerita pendek.
NORA SAMPURNA, Jakarta
POSTURNYA ceking dan wajahnya tirus. Rambutnya agak bergelombang dengan belahan kiri. Tak mengherankan ketika dia selesai membaca selarik puisi Aku, rekan-rekannya langsung memanggilnya Hariz Anwar.
Hariz tentu saja tak keberatan dipanggil demikian. Sebab, Chairil Anwar memang penyair idolanya. ”Saya mengenal Chairil Anwar lewat internet. Saat membaca puisi Aku karyanya, saya langsung ngefans,” ucap Hariz tentang penyair legendaris Indonesia tersebut dalam diskusi internal pada suatu sore di akhir Juli lalu itu (31/7).
Hariz adalah penyair asal Brunei Darussalam. Dia 1 di antara 12 peserta ASEAN-Japan Residency Program dalam ASEAN Literary Festival (ALF) 2017. Jawa Pos diundang mengikuti dari dekat sebagian kegiatan mereka.
Para penulis itu terpilih dari sekitar seribu pelamar. Semuanya tentu saja penulis, tapi datang dari berbagai latar belakang. Ada yang dokter, dosen, musisi, dan ada pula yang masih kuliah.
Selain Hafiz, sebelas peserta lainnya adalah Intan Andaru, Ira Lathief, Ni Komang Ariani, Yusri Fajar (Indonesia), Shaz Johar (Malaysia), Clara Chow (Singapura), Mai Nardone (Thailand), Glenn L. Diaz (Filipina), Tra Nguyen (Vietnam), Moe Thet Han (Myanmar), dan Meiling (Jepang).
Bagi Hariz, residensi kali ini adalah kesempatan berharga untuk lebih mengenal Chairil dan sastra Indonesia yang sedikit banyak memengaruhi karya-karyanya. Selain Chairil, dia menggemari karya-karya penyair Indonesia lainnya, Sapardi Djoko Damono. Selama ini Hariz mengaku tak hanya mendalami karya-karya Si Binatang Jalang, julukan Chairil. Sekaligus juga kehidupan penyair legendaris yang berpulang di usia sangat muda –tak genap 27 tahun– itu.
”Gaya hidupnya bohemian dan nyentrik,” ujar mahasiswa Jurusan Sosiologi dan Antropologi Universiti Brunei Darussalam itu, lantas tertawa.
Diskusi-diskusi internal tentang kepenulisan dan kehidupan literasi di masing-masing negara hanyalah salah satu bagian dari konsep residensi secara keseluruhan. Secara garis besar, para penulis dari berbagai negara Asia Tenggara dan Jepang tersebut selama satu pekan tinggal bersama di kampung.
Lalu, berinteraksi dengan masyarakat sekitar, bertukar gagasan, dan membangun jaringan. Tujuannya, terbangun rasa saling memiliki dan identitas bersama sebagai warga Asia Tenggara.
Selama sepekan sebelum tampil sebagai pembicara di ALF yang berlangsung di kawasan Kota Tua, Jakarta, pada 3–6 Agustus, mereka ditempatkan di sebuah homestay. Lokasinya di kawasan Kampung Muara, Jakarta Selatan.
”Dengan tinggal di tengah masyarakat, kita harapkan mereka bisa menangkap problem di sekitar dan mengambil inspirasi. Sehingga karya-karya yang dihasilkan bisa menjadi suara bagi persoalan-persoalan dalam masyarakat,” papar Okky Madasari, direktur program ASEAN Literary Festival.
Beragam kegiatan pun disusun untuk memungkinkan peserta residensi melebur dengan masyarakat sekitar. Mulai berkunjung ke sekolah dasar, SMP, serta SMA untuk berbagi pengalaman menjadi penulis, menampilkan karya di panggung kampung, hingga berinteraksi dengan warga sekitar Kali Ciliwung.
Para peserta juga mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah. Juga, menjajal kebiasaan lokal seperti makan bareng ala liwetan. Plus, mencicipi rendang langsung di warung Padang hingga memasak menu khas masing-masing negara pada hari terakhir residensi (2/8).

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
