
MEMBANGGAKAN: Eka menunjukkan penghargaan atas prestasinya sebagai the best speaker dalam konferensi penelitian internasional di Tokyo.
Kegigihan Eka Lutvi Septiani patut diapresiasi. Baru setahun mengajar, dosen muda itu sudah mencetak prestasi internasional. Hasil penelitiannya mengantongi predikat terbaik di Jepang.
ARIF ADI WIJAYA, Gresik
DAG…dig…dug… Jantung berdebar kencang. Perasaan aneh berkecamuk dalam diri Eka Lutvi Septiani. Senang, grogi, takut, bercampur aduk. Apalagi, dia harus presentasi hasil penelitian di hadapan peneliti dari lima negara: Thailand, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura.
’’Miss Eka Lutvi Septiani from UISI, Indonesia, please presented your research…’’ Panggilan itu bergema dalam Ruang 222 Lantai 2 Enginering Building Tokyo University. Suara tersebut membuat dada Eka semakin berdebar kencang. Untunglah, perempuan berhijab itu tetap percaya diri. Dia optimistis. Fokus pada topik pembahasan!
Pada suatu sore pertengahan Juni lalu itu, Eka melangkah perlahan, tetapi mantap menuju podium. Juri dan peneliti lain sudah menunggu presentasi dosen Teknik Kimia Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik tersebut.
Kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni membuat Eka tampil sempurna saat presentasi. Satu per satu materi disuguhkan. Yang dibahas, efisiensi penggunaan energi dalam produksi di industri kimia. Para juri pun puas. Kerja keras Eka diapresiasi sebagai penelitian terbaik.
Eka memang tertarik pada teknik kimia sejak kuliah. Hampir setiap hari, alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu tidak lepas dari hitung-hitungan rumus energi yang njelimet.
Namun, dia merasakan hal berbeda saat meneliti proses produksi PT Semen Indonesia di Tuban. Meski sudah terbiasa dengan rumus dan angka, Eka mengaku tetap mengalami kesulitan. ”Ada data yang sulit didapat, tapi tetap diupayakan,” ujarnya.
Setelah dia mendapat data, masalah lain muncul. Lebih dari empat bulan berlalu. Anak kedua di antara empat bersaudara itu tidak kunjung menemukan hasil memuaskan. Hitung-hitungan berubah sedikit, semuanya ikut berubah. ”Pokoknya bikin stres,” katanya.
Namun, Eka terus berupaya agar mendapat hitung-hitungan yang pas. Penggunaan energi dalam proses produksi bisa efisien. Setelah puluhan rumus algoritma diutak-atik, kerja kerasnya terbayar. ”Melalui simulasi, ditemukan hitung-hitungan yang pas,” jelasnya. Eka percaya penelitiannya tersebut bisa memberikan banyak manfaat. Terutama saat diaplikasikan di industri kimia.
Eka kemudian terdorong mengikuti konferensi penelitian tingkat internasional. Awalnya, perempuan kelahiran 2 Januari 1992 itu tidak percaya mampu lolos dalam Asia Conference Of Mechanical And Materials Enginering. Konferensi tersebut digelar pada Juni lalu di Tokyo. Puluhan peneliti dari berbagai negara di Asia berunjuk karya.
Eka baru pertama ikut konferensi internasional. Dia bermodal optimistis. Hasil penelitiannya dimatangkan. Penerapan hasil penelitian tersebut bisa menjadi rekomendasi bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri kimia.
Kerja kerasnya tidak sia-sia. Berkat presentasinya yang bagus, hasil penelitian itu diganjar dengan predikat terbaik di antara peneliti dari negara lain. ”Semuanya the best. Tapi, penelitian saya dinilai paling aplikatif,” ucapnya.
Eka mengaku puas bisa menemukan hal baru yang bermanfaat bagi banyak orang. Itu juga membanggakan bagi dia. ”Senang bisa memberikan manfaat yang berdampak luas,” katanya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
