
WUJUDKAN IMPIAN: Jonathan Chanutomo memperlihatkan karya lukisnya di Gereja Katolik Santo Yakobus. Lukisan itu bercerita tentang peristiwa Rosario.
JawaPos.com – Kondisi cuaca di Indonesia kini semakin tidak menentu. Petani komoditas hortikultura resah. Hasil produksi yang melimpah cepat membusuk. Hal itu mendorong mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan pengering untuk mengawetkan produk hortikultura berbasis smartphone.
Alat buatan lima mahasiswa jurusan teknik fisika tersebut diberi nama H-Flory (horticultura fluid flow dryer). Dengan alat kontrol suhu itu, pengeringan bisa lebih cepat. Dalam waktu 12 jam, alat tersebut mampu mengeringkan sekitar 8 kilogram produk hortikultura.
Jika tanpa alat, waktu pengeringan bisa mencapai 5–7 hari. Gas yang diperlukan untuk menyuplai api juga hanya 1,5 kilogram. ”Tidak boros karena kami memakai sensor panas,” jelas Achmad Syarif Hidayat, salah seorang mahasiswa.
Saat suhunya mulai panas, katup gas akan menutup secara otomatis. Api yang menjadi sumber panas otomatis akan mati. Selain itu, alat tersebut dilengkapi control box yang bisa menunjukkan suhu dan kelembapan di dalamnya.
Achmad menerangkan, alat pengering tersebut bisa mengalirkan panas secara merata meski berbentuk rak bersusun. Hal itu, menurut dia, akan memberikan kualitas yang sama pada semua tingkatan.
Windy Rizqia Arsy, anggota tim, menambahkan, penghasil panas adalah api dan teknik konveksi. ”Panasnya tidak hanya mengalir di pinggiran alat lewat konduksi, ada fase konveksi dari aliran air,” ujarnya. Memang, di bagian dalam alat, ada tiga pipa yang menjadi jalan bagi aliran air panas.
Pengaturan suhu dan kelembapan antarjenis tanaman tidak sama. Karena itu, alat diatur secara khusus untuk jenis tanaman tertentu. Cabai hanya boleh dipanaskan pada suhu 60 derajat Celsius. Data tersebut, menurut Windy, tersimpan dalam database aplikasi smartphone.
Dari aplikasi itu pula, pengeringan bisa diatur. Setelah data tersimpan, pengguna tinggal mengeklik jenis tanaman untuk mengatur penggunaan alat. ”Alat otomatis mengatur sesuai suhu dan kelembapan jenis tanamannya. Karena ini tersambung via bluetooth,” imbuh Sapto Wahyu Sudrajat, anggota lain. (kik/lif/c7/nda)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
