Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Juli 2017 | 15.27 WIB

Terobosan Koperasi Industri Tas Toko, Bikin Produk Eksklusif, Bebas Desain

box BERKUALITAS TINGGI: Ainur Rofiq bersama deretan tas yang dipajang di toko Koperasi Intako. - Image

box BERKUALITAS TINGGI: Ainur Rofiq bersama deretan tas yang dipajang di toko Koperasi Intako.


Sempat menjadi dosen, Ainur akhirnya memilih untuk pulang kandang. Mengembangkan bisnis kerajinan kulit milik keluarga. Dia juga aktif di Koperasi Intako. Sejak tahun lalu kepercayaan besar melekat di pundaknya.





JOS RIZAL, Sidoarjo





SABTU pagi (8/7) dengan langkah lebar, Ainur bergegas memasuki Koperasi Industri Tas dan Koper (Intako) di Jalan Kendensari, Tanggulangin. Setelah membuka pintu kaca, dia langsung menyapa beberapa petugas di bagian depan. Jarum jam masih menunjuk pukul 09.00 dan koperasi baru saja buka beberapa menit yang lalu.



Pagi itu, Ainur tak langsung menuju ruangannya di lantai 2. Dia memantau beberapa sudut koperasi dan memeriksa barang yang dipajang. Setelah semuanya dirasa oke, barulah dia naik ke lantai atas.



Sebelum terpilih sebagai ketua Koperasi Intako periode 2016–2019, Ainur menjabat sekretaris Koperasi Intako selama dua periode. Awalnya, mekanisme pemilihan ketua Koperasi Intako menggunakan sistem voting. Anggota koperasi yang tertarik menjadi ketua boleh mengajukan diri. Setelah itu, mereka dipilih oleh anggota yang lain berdasar suara terbanyak.



Namun, saat Ainur terpilih sebagai ketua, metode voting tidak digunakan lagi. Pemilihan ketua dilakukan atas suara dewan penasihat yang berjumlah lima orang. Dewan penasihat terdiri atas orang-orang yang dahulu adalah ketua Koperasi Intako. ”Kata mereka (lima anggota dewan penasihat, Red), saya dipilih karena punya banyak pengalaman,” tutur Ainur.



Sulung di antara empat bersaudara itu mengaku tidak pernah tebersit akan menjadi pengusaha atau perajin kulit. Setelah lulus dari UPN Veteran, dia melamar ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X. Namun, krisis moneter yang menghantam pada 1998 membuat sejumlah perusahaan negara memangkas karyawannya. Termasuk (PTPN) X. Ainur pun gagal menjadi karyawan.



Setahun setelah itu, dia mendapat tawaran menjadi dosen dari almamaternya. Tak genap dua tahun mengajar, dia mengundurkan diri. Dia tidak merasa nyaman bekerja sebagai pengajar. Ainur lantas memutuskan untuk melanjutkan usaha sang ayah, Urip Pujiono, sebagai perajin kulit di Tanggulangin. Di sini dia merasa senang dan bangga dapat melanjutkan usaha keluarga. Dia pun aktif sebagai anggota koperasi sekaligus salah satu pemasok produk.



Berdiri pada 7 April 1976, Koperasi Intako beranggota 27 UKM. Kini total anggotanya tumbuh mencapai 400 UKM. Produk-produk Intako pun menyasar sejumlah toko di Jakarta hingga Banyuwangi. Koperasi Intako juga kerap menjadi rekanan travel haji dan umrah. Ada puluhan travel yang menjalin kerja sama dengan Koperasi Intako untuk menyediakan koper dan peralatan haji atau umrah.



Meski produknya telah dikenal dan dipasarkan secara luas, hal itu tak membuat Ainur lekas berpuas hati. Sebab, menurut dia, produk-produk Intako masih tercitra digunakan oleh masyarakat menengah ke bawah. Sebagai ketua koperasi yang baru, Ainur berambisi produk Intako digemari oleh semua kalangan.



Tahun ini pihaknya meluncurkan program One Design One Product. Artinya, satu desain yang dirancang hanya digunakan untuk satu jenis produk. Dengan begitu, para pengguna akan bangga saat membeli dan memakainya. Sebab, mereka menggunakan produk yang desainnya tidak dimiliki orang lain.



Untuk bisa mengorder produk eksklusif itu, pembeli akan ditarik sejumlah dana ekstra. Pihak Intako biasanya akan mengutus desainer khusus untuk membantu pembeli mendesain barang yang dikehendaki. Proses pembuatannya, tentu saja, sedikit lebih lama. ”Karena itu, akan ada pembayaran ekstra bagi para pembeli,” lanjut ayah tiga anak berusia 44 tahun itu.



Ainur mengajak Jawa Pos melihat-lihat salah satu etalase di sudut toko. Dia kemudian mengambil satu tas sport hitam. Tas bermodel selempang itu memiliki lebar hampir 1 meter dengan tinggi 30 sentimeter. Di beberapa bagian tas tersebut tertulis ”Concave”. ”Nah, inilah yang sedang kami bikin tahun ini. Produk ekspor unggulan,” terangnya, semringah.



Menurut Ainur, tas hitam tersebut diproduksi secara khusus. Pesanan terbatas 100 buah untuk timnas sepak bola senior Indonesia tahun ini. Tidak hanya itu, tas yang diproduksi Intako kini juga dilirik beberapa klub sepak bola dunia. Di antaranya, Inter Milan dan Manchester United. ”Kami sedang dalam tahap penawaran dan uji coba,” jelasnya. (*/c6/pri)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore