Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Juni 2017 | 16.30 WIB

Rumpak-rumpakan, Tradisi Berlebaran Keturunan Arab di Kuto Palembang

Ratusan warga muslim Kampung Arab Kuto Palembang mengunjungi satu persatu rumah (sanjo) untuk bersilaturahmi di hari raya Idul Fitri, Sabtu (25/6). - Image

Ratusan warga muslim Kampung Arab Kuto Palembang mengunjungi satu persatu rumah (sanjo) untuk bersilaturahmi di hari raya Idul Fitri, Sabtu (25/6).


JawaPos.com - Berbagai cara dilakukan umat Islam dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Seperti yang dilakukan warga keturunan Arab yang ada di Kota Palembang di kawasan Kuto, kecamatan Ilir Timur (IT) II,  yang melakukan tradisi rumpak. 


ADI FATRIANSYAH - Palembang


Sejak selesai salat Idulfitri secara langsung melaksanakan tradisi rumpak- rumpakan dengan bersilahturrahmi atau sanjo. Selama pelaksanaan tradisi tersebut, juga diramaikan tetabuhan musik gambus dan sarofal anam.


Sepanjang jalan yang dilalui, tidak jarang dikunjungi oleh peserta rumpak- rumpakan. "Tradisi sudah bertahan ratusan tahun. Jadi setiap habis salat ied, umat akan berkumpul  dahulu kumpul di mushollah, masjid ataupun rumah tetua kampung. Dari sana, rombongan akan mulai mengunjung rumah warga yang lain.


Walau dalam kunjungan tersebut, hanya sekedar minum ataupun bersalaman dengan tuan rumah semata itu sudah cukup. Intinya hanya untuk menjalin silahturrahmi sekaligus menjaga tradisi yang sudah ada sejak beberapa generasi itu," terang Umar (43), warga Jl Slamet Riyadi Kelurahan 10 Ilir atau kawasan Pasar Kuto, Minggu (25/6)  sebagaimana dilansir Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group).


Masih katanya, selama rumpak-rumpakan tersebut, setiap rumah yang didatangi diawali dengan qasidah, alfatihah, pembacaan doa hingga jamuan makan dan minuman ringan dari tuan rumah. Selain itu, pelaksanaan rumpak- rumpakan ini digelar selama dua hari untuk silahturahmi. Sedangkan hari ketiga, biasanya dilakukan pernikahan antar keturunan Arab.


"Hari pertama, dilaksanakan hingga siang hari dan hanya beberapa rumah saja. Sedangkan hari kedua dilanjutkan dengan jumlah rumah yang dikunjungi lebih banyak. Sementara hari ketiga, ada pernikahan," jelasnya. 


Meski demikian, diakuinya pelestari dari tradisi ini sudah mulau berkurang khususnya dikalangan generasi muda. Untuk itu, sebagai langkah antisipasi secara rutin terus dilakukan. Paling tidak, agar tetap ada regenerasi dari penerus tradisi ini. " kita sangat menyayangkan, tradsi yang sudah ada sejak ratusan tahun sudah terus berkurang pelestarinya," ungkapnya. ( afi/via/nas/JPG)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore