Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Juni 2017 | 17.20 WIB

Cara SUBStore Kenalkan Indonesia ke Anak-Anak Muda di Tokyo

RASA INDONESIA: Andhika Faisal sedang menyeduh kopi ditemani istrinya, Kumi Takaba, di SUBStore Tokyo. - Image

RASA INDONESIA: Andhika Faisal sedang menyeduh kopi ditemani istrinya, Kumi Takaba, di SUBStore Tokyo.


Indonesia dihadirkan pengelola SUBStore di Tokyo via makanan warungan, kopi toraja, serta buku dan piringan hitam. Beberapa artis tanah air juga pernah menggelar acara di sana. Wartawan Jawa Pos GUNAWAN SUTANTO mengunjunginya beberapa waktu lalu.






LETAKNYA di kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra seniman di Tokyo. Persis di meja sebelah, sejumlah anak muda Jepang juga tengah asyik bercengkerama.



Tapi, begitu membuka menu, hilang sudah semua ”ke-Jepang-an” itu. Yang hadir justru sepenuhnya Indonesia. Ada nasi gila, gado-gado, nasi campur, hingga sambal matah. Tersedia pula olahan Indomie.



”Pokoknya, menu makanan di sini seperti warung di Indonesia,” kata Andhika Faisal, si pemilik kafe, sembari menyodorkan es kopi kepada Jawa Posi yang berkunjung Sabtu tiga pekan lalu (3/6).



Bagi yang biasa atau pernah nongkrong di Pasar Santa, Jakarta Selatan, nama SUBStore tentu tak lagi asing. Bersama sekolah kopi ABCD, SUBStore menjadi perintis transformasi Pasar Santa.



Sebuah pasar tradisional biasa yang kemudian menjelma jadi popup market dan tempat nongkrong paling hit. SUBStore dikenal karena menyediakan barang-barang khas.



Mulai buku, vinyl (piringan hitam), action figure, sampai pakaian. Dari Jakarta, mereka mengembangkan sayap ke Bandung. Lalu, berlanjut ke Jepang yang dikelola Andika bersama sang istri, Kumi Takaba. Tepatnya di kawasan Koenji, Tokyo Barat.



”Bedanya, di sini kami jual kopi dan masakan Indonesia, bukan sekadar buku dan vinyl,” kata Andhika Faisal, pemilik SUBStore.



Kopi dari Indonesia memang diandalkan Andika di kafenya. ”Saya sengaja hanya menyediakan kopi Indonesia. Yang selalu ada toraja,” ujar alumnus visual communication design Universitas Pelita Harapan tersebut.



Atas dasar itu pula, Andhika tak menyuguhkan banyak menu kopi. Hanya black coffee. Tak ada menu blended coffee yang aneh-aneh.



Juga, tak ada espresso machine. Dia hanya mengandalkan hand drip. Andhika memilih V60 sebagai media menyeduh kopi.



”Saya pilih yang simpel. Sebab, yang ingin saya tonjolkan cita rasa kopi Indonesia-nya,” ujar pria kelahiran 2 November itu.



Untuk urusan biji kopi, Andhika mendatangkan langsung kopi toraja dari Indonesia. Dia membeli lewat kenalannya yang punya bisnis biji kopi di Pasar Santa.



Kepada tiap orang yang memesan kopi, Andhika tak lupa menyelipkan sedikit storytelling. Dia menyampaikan pesan bahwa kopi yang disuguhkan berasal dari Indonesia. Sebuah negeri penghasil kopi terbesar di dunia. Negara yang konon paling banyak memiliki single origin.



Pilihan untuk mengedepankan kopi itu diambil juga karena dia melihat belakangan kopi menjadi ”minuman wajib” di Jepang. Beberapa orang bahkan menganggap budaya minum kopi di Jepang mulai menyaingi budaya minum teh.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore