Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Juni 2017 | 19.45 WIB

Ngekos di Bekas Penjara Kalisosok, Telat Bayar, Tak Bisa Dapat Kamar

SEADANYA: Kondisi kamar kos di bekas penjara Kalisosok, Surabaya. - Image

SEADANYA: Kondisi kamar kos di bekas penjara Kalisosok, Surabaya.

Tempat kos di bekas Penjara Kalisosok memang cenderung lusuh, suram, dan minim fasilitas. Meski begitu, peminatnya berjibun. Telat bayar, bisa-bisa kamar sudah di-booking orang lain. Mirip hotel-hotel pada masa liburan.



TIM JAWA POS



KAMARNYA sudah penuh, Mbak. Yang kemarin sudah ada yang menempati,” kata Yanto saat kami hubungi, 21 Mei. Itu lima hari setelah kami menjumpai lelaki tersebut di pasar dekat Wartel Tretan, Jalan Kasuari. Wartel yang sejatinya menjadi salah satu ”gerbang” menuju jagat lain: Penjara Kalisosok. Dunia yang dahulu menggidikkan bulu roma para pelaku kejahatan di zaman kolonial.



Fakta itu menunjukkan bahwa kos-kosan eks Penjara Kalisosok masih diminati. Padahal, tak banyak orang yang tahu tempat tersebut. Yang tahu pun tidak langsung berminat melihat kondisi sederhana di dalam kos.



Ya, kalau tidak cepat membayar, Anda akan kehilangan kesempatan untuk bisa tinggal di tempat kos tersebut. Sebab, beberapa orang sudah masuk waiting list alias antrean ngekos.



Menurut Yanto, beberapa penghuni memang awet. Sudah bertahun-tahun mereka tinggal di dalam bekas bui itu. Sebagian lain silih berganti dengan cepat. Baru satu dua bulan lalu pindah.



Namun, kos-kosan tersebut memang tidak pernah sepi. Jarang pula ada kamar yang kosong. Kalau ada pun, pastinya tidak bertahan lama. ”Mungkin ya karena murah dan banyak yang kerja di dekat sini,” ungkap Yanto.



Lelaki berperawakan kurus tinggi tersebut berjanji akan menghubungi kami lagi apabila ada kamar yang kosong. Dan kemungkinan itu besar. Sebab, salah seorang penghuni berencana pindah ke luar kota. Itu berarti kami sudah masuk dalam waiting list. Orang-orang yang sudah pasti akan mengekos, tapi harus menunggu jatah kamar.



***



Pada 22 Mei, pembayaran untuk dua penghuni sebesar Rp 150 ribu sudah dilunasi. Tanda kami akan resmi sebagai penghuni. ”Mau menginap mulai kapan? Itu bebas. Terserah. Waktunya ya satu bulan ke depan,’’ ungkapnya.



Oh ya, satu lagi persyaratan yang harus dipenuhi. Saat transaksi pembayaran, calon penghuni harus menyerahkan satu lembar fotokopi KTP.



Akhirnya, kami benar-benar masuk ke kos-kosan tersebut pada 29 Mei. Kami nikmati suasana siang yang sunyi. Namun, menjelang pukul 17.00, tempat kos itu mulai ramai. Celoteh penghuni kos-kosan mulai terdengar. Sebagian besar memang sudah pulang setelah seharian bekerja. Kesibukan semakin meningkat tatkala menjelang malam.



Ada yang antre di kamar mandi. Ada pula yang mengangkat baju-baju di jemuran. Beberapa orang juga memasak di dalam. Namanya kos-kosan perempuan pasti ramai. Juga ada yang sekadar duduk-duduk santai sambil mengobrol dengan teman lainnya.



Jawa Pos langsung menuju kamar 1-B seperti perjanjian dengan Yanto. Begitu sampai, eh, ternyata kamar tersebut sudah dihuni oleh orang lain. Akhirnya, kami menelepon Yanto yang saat itu masih berjualan di pasar.



Ternyata, ada salah komunikasi. Ada penghuni kos-kosan yang pindah kamar tanpa sepengetahuan Yanto. Akhirnya, Jawa Pos berpindah ke kamar 2-A yang merupakan satu-satunya kamar kosong saat itu. Ukurannya sama dengan 1-B, yakni 1,5 x 2 meter. Lokasinya di seberang ruangan 1.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore