Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Juni 2017 | 17.07 WIB

Cerita di Balik Pelepasliaran Muli, Harimau Sumatera di TWNC

BEBAS: Seekor Harimau Sumatera saat dilepasliarkan di TWNC. - Image

BEBAS: Seekor Harimau Sumatera saat dilepasliarkan di TWNC.


Ditemukan dalam kondisi sekarat, Muli berhasil melalui masa kritis. Satu di antara sedikit harimau sumatera yang tersisa itu kembali pulih setelah menjalani perawatan intensif selama dua tahun. Sabtu (10/6) Muli dilepas ke alam liar.




SAHRUL YUNIZAR, Pesisir Barat




SUWEGNYO mengurangi kecepatan sepeda motornya. Dari kejauhan, dia melihat seekor satwa liar yang bersembunyi di antara semak belukar. Di benaknya, satwa itu anjing hutan. Perlahan mendekat, wujud satwa liar tersebut semakin jelas.



Ternyata tebakannya keliru. ”Begitu sudah dekat, saya yakin itu anak harimau,” kisah Wegnyo. Dia ingat betul kejadian pada 21 September 2015 tersebut. Lazimnya pegawai Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) lainnya, pria berusia 40 tahun itu berusaha menghindari kontak langsung dengan satwa liar.



Meski sempat saling bertatapan, anak harimau tersebut tidak bereaksi. Tetap diam. Wegnyo waspada bila ada induk harimau yang mengawasi. Berjumpa dengan harimau ketika bertugas memang bukan hal baru bagi pegawai TWNC yang terletak di Pesisir Barat, Lampung, tersebut. Namun, mereka tidak boleh gegabah. Itu yang mendorong Wegnyo tancap gas. Dia langsung melapor setelah yakin betul bahwa satwa itu adalah anak harimau. Tidak sampai setengah jam, laporan tersebut ditindaklanjuti.



Ketika kembali bersama pegawai TWNC lain, Wegnyo merasa iba. Anak harimau yang dia lihat sama sekali tidak bisa bergerak lantaran terluka pada bagian perut sebelah kanan. Luka menganga itu penuh belatung. ”Lebar, bau, banyak belatung. Kalau nggak ditangani, mungkin nggak lama lagi umurnya,” kenang Wegnyo.



Melihat kondisi tersebut, sebagian pegawai TWNC berupaya mengevakuasi. Sebagian lagi mengawasi kondisi sekitar. Mereka khawatir induk anak harimau tersebut mengawasi. Benar saja, dari kejauhan seekor harimau dewasa bersama anaknya memperhatikan mereka. Namun, induk dan anak harimau itu tidak bereaksi. Hanya menyaksikan dari jauh. Seolah mengantarkan anak yang terluka untuk diobati.



Meski perasaan khawatir menyelimuti, pegawai TWNC tetap melakukan evakuasi. Mereka bergegas membius anak harimau itu, kemudian membawanya ke Tiger Rescue Center untuk mendapat penanganan medis. Perawat harimau Marizal dan dokter hewan Ariana Maulana langsung menangani anak harimau tersebut. Marizal masih ingat kali pertama melihat Muli yang artinya anak gadis itu. ”Mengenaskan,” ujarnya lirih. Sepanjang pengalamannya merawat harimau, baru kali pertama dia melihat luka menganga seperti itu.



Tidak ingin luka bertambah parah, Ariana segera mengambil tindakan. Luka menganga pada tubuh Muli langsung ditangani. Pria yang akrab dipanggil Ari tersebut lantas menyemprotkan antibiotik dan antibelatung. Bersama Marizal, secara perlahan dia mengeluarkan satu per satu belatung dari tubuh Muli. Sampai dua pekan pasca dievakuasi, Muli belum mampu melalui masa kritis. Bahkan, sempat dua kali kolaps. Selain luka menganga dan infeksi di tubuhnya, Muli mengalami malanutrisi. Karena itu, beratnya tidak lebih dari 17 kg. Ketika ditemukan, umurnya tidak kurang 5 bulan. ”Masih kecil sekali,” ucap Ari.



Umumnya, harimau berusia 5 bulan belum bisa lepas dari induk. Sebab, dia belum sanggup berburu. Tidak terkecuali Muli. Sepanjang masa perawatan di TWNC, induk harimau tersebut kerap menampakkan diri di sekitar Tiger Rescue Center. Itu terbukti dari pengawasan melalui camera trap di sekitar lokasi khusus rehabilitasi harimau sumatera tersebut.



Sesekali induk harimau itu mendekati Tiger Rescue Center. Dia berkeliaran di sana tanpa mengganggu petugas yang bekerja. Dari tingkahnya, tampak bahwa induk harimau tersebut ingin mengunjungi Muli. Sebagai hewan buas, harimau betina protektif terhadap anak. Lain halnya dengan harimau jantan yang tidak segan menyantap anaknya.



Untuk itu, perawatan Muli tidak sembarangan. Sebagai harimau betina, Muli tidak hanya harus sanggup bertahan hidup ketika dilepas ke alam liar. Tapi, juga harus mampu melindungi anak-anaknya kelak. Dengan begitu, keturunannya bertahan sampai dewasa. Meneruskan jejak ibunya di daratan Sumatera. ”Setidaknya bisa menjaga kelangsungan hidup harimau sumatera,” jelas Ari.



Insting sebagai hewan liar terus dilatih. Tuntas mengobati luka di tubuhnya, TWNC berupaya mengembalikan sifat dan karakter Muli sebagai harimau. Interaksi dengan manusia dikurangi. Pemberian pakan pun dilakukan malam. Tujuannya, Muli tidak melihat perawat yang memberinya makan. Prosesnya juga dibuat serupa dengan perburuan di alam liar.



Hanya pakan hidup yang disajikan. Babi, salah satunya. Beberapa kali mendapat pakan sebelum dilepasliarkan, Muli sudah menunjukkan perkembangan signifikan. Dia mampu melumpuhkan babi sebelum menyantapnya. Itu menunjukkan bahwa Muli sudah memiliki insting berburu yang baik. Dia sudah layak kembali ke alam liar. Sudah sanggup bertarung.



Itu adalah salah satu alasan TWNC melepasliarkan Muli. Jauh hari sebelum sampai pada hari pelepasliaran, persiapan dilakukan. Benar-benar matang. ”Kami cek kesehatan, cek fisik. Instingnya juga,” ungkap Ari. Sejak Jumat malam (9/6), Muli berada di lokasi pelepasliaran. Muli menginap di balik kerangkeng yang sudah ditutup dedaunan.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore