
GURU ASYIK: Zulfa Khoirun Naja memainkan boneka-boneka wayang di hadapan anak-anak didiknya Selasa (16/5) di PG-TK Islam Kreatif Mutiara Anak Sholeh.
Semangatnya untuk membuat proses pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan memang sangat besar. Dalam lima tahun terakhir, lima alat permainan edukatif (APE) untuk anak-anak playgroup dan TK sudah diciptakannya.
FIRMA ZUHDI AL FAUZI
MEMASUKI ruang kelas TK B1, langkah kaki Zulfa langsung tertuju ke lemari kaca di bagian belakang. Dengan sedikit berjinjit, Zulfa meraih boneka wayang setinggi 50 sentimeter di atas lemari. Pengajar PG-TK Islam Kreatif Mutiara Anak Sholeh, Desa Anggaswangi, Kecamatan Sukodono, itu lantas membawa dan menatanya di meja belajar anak-anak didiknya.
Boneka wayang tersebut terbuat dari koran bekas dan bertulang bambu sebesar jari kelingking. Gulungan koran yang menjadi badan boneka dilapisi kain flanel berwarna-warni, berfungsi layaknya pakaian. Wajah, topi, kaki, maupun tangan boneka juga terbuat dari kain flanel. Untuk menggerakkan tangannya, Zulfa mengaitkannya dengan bambu yang lebih kecil. Mirip wayang kulit, namun itu boneka.
Setelah menata rapi boneka wayang di meja belajar, perempuan yang menjadi pengajar di sana sejak 2009 tersebut kembali menuju lemari. Kali ini Zulfa membuka pintu lemari kaca itu. Dia terlihat mengambil boneka wayang yang lain. Namun, ukurannya lebih kecil. Tangannya langsung penuh dengan boneka wayang.
Tak lama kemudian, anak-anak didiknya berkumpul di dalam kelas. Mereka tampak tertarik dengan boneka wayang berbagai karakter yang dipegang Zulfa. Bahkan, sudah ada sebagian di antara mereka yang ikut memegangnya. ’’Sini sayang semua kumpul mendekat ke Bu Guru sini. Ibu punya cerita,’’ ajak perempuan kelahiran Demak, 30 Juni 1991, itu Selasa (16/5).
Dalam waktu singkat, mereka sudah duduk dengan rapi di hadapan Zulfa. Istri Priyanto tersebut mulai memainkan wayangnya. ’’Saya Pak Dani. Saya punya cerita,’’ tutur Zulfa, sang dalang, sambil mengangkat boneka wayang dengan karakter pria berjas. Tangan boneka wayang tersebut juga tak lupa digerak-gerakkannya.
Zulfa rupanya bercerita tentang pentingnya rajin belajar. Tutur bahasanya tertata. Setiap kalimat yang keluar selalu tersusun dari tiga kata. Misalnya, saya punya cerita, bagaimana kabar kalian, atau tolong didengarkan ya. Ternyata, penggunaan kalimat dengan tiga kata itu bertujuan agar anak didiknya mudah menyerap alur cerita. Dengan demikian, pesan moral yang disampaikan lebih mudah diingat. Bahkan, anak-anak TK tersebut bisa menceritakannya kembali dengan menggunakan boneka wayang itu.
’’Anak-anak juga kami minta bercerita menggunakan boneka wayang tersebut,’’ ujar Zulfa. Melalui kegiatan itu, anak didiknya dilatih bermain peran, bercerita sambil memerankan tokoh tertentu sesuai dengan boneka wayang yang mereka pegang.
Pada beberapa pertemuan, Zulfa juga mengajak anak didiknya membuat boneka wayang. Mereka diajari menggulung koran, merangkai, menggunting, mengelem, hingga ’’merakitnya’’ dengan batang bambu kecil. ’’Kadang mereka membuatnya di rumah bersama orang tua biar tetap ada pengawasan. Biasanya yang masih simpel bentuknya,’’ jelas perempuan yang tinggal di Desa Pekarungan, Sukodono, itu.
Biasanya, Zulfa mengajak anak didiknya bermain bersama boneka-boneka wayang tersebut seminggu sekali. Tetapi, dia juga pernah mengeluarkannya dua hari berturut-turut. Biasanya, itu terjadi bila dia menerima ’’laporan’’ dari wali murid via WhatsApp. Misalnya, cerita soal si A yang sering rewel di rumah atau si B yang sering mengganggu adiknya.
Zulfa merespons curhat wali murid tersebut dengan mengingatkan anak didiknya melalui boneka wayang. Caranya cerdik. Dia tidak mengarahkannya khusus ke anak bersangkutan, melainkan pada seisi kelas. Dengan demikian, anak itu tidak merasa malu, tersinggung, atau berkecil hati. Yang terpenting, pesan untuk tidak mengganggu adik atau tidak suka rewel bisa tersampaikan. ’’Saya kemas pesan orang tua tersebut dengan cerita,’’ ucap Zulfa.
Boneka wayang itu bukan APE pertama yang pernah dibuat Zulfa. Karyanya yang lain adalah boneka jari. Boneka jari mirip dengan boneka wayang, tetapi hanya sebesar jari. Boneka tersebut dimainkan dengan melekatkan pada jari, bukan menggunakan potongan bambu seperti pada boneka wayang. Fungsinya, juga sebagai alat bantu cerita.
Dia pun pernah membuat kartu alfabet. Yakni, kumpulan huruf-huruf berwarna-warni dari A sampai Z. Cara bermainnya sederhana. Anak didik harus mencari huruf-huruf yang sesuai untuk membentuk kata tertentu dan dilekatkan pada papan berwarna. ’’Ini untuk melatih pembelajaran dikte agar lebih menarik,’’ ujar Zulfa.
Ada juga APE bernama konsep posisi. Yakni, alat pembelajaran berupa kotak-kotak berwarna-warni yang diletakkan berjajar. Siswa diajarkan posisi kanan, kiri, tengah, atas, atau bawah berdasar letak kotak tersebut. Itu merupakan cara belajar mengenali warna. Biasanya, cara tersebut digunakan untuk belajar anak playgroup atau TK kelompok A.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
