Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Mei 2017 | 19.27 WIB

Kisah Ahmad Baihaqi, Jatuh Bangun Rintis Usaha Pasca Ditipu Sahabat

EDUKASI: Baihaqi menjelaskan produk pertanian kepada Julaikah di tokonya. - Image

EDUKASI: Baihaqi menjelaskan produk pertanian kepada Julaikah di tokonya.


Lulus dari perguruan tinggi ternama bukan jaminan bagi Ahmad Baihaqi untuk mudah memperoleh pekerjaan. Harus jatuh bangun lebih dulu. Menjadi pengusaha ternyata pilihan terbaik.





ARIF ADI WIJAYA





SEBUAH kios pertanian di kawasan Menganti tampak sepi. Seorang perempuan masuk. Kemudian, pemuda agak kurus terlihat menemui ibu-ibu parobaya. Mereka mengobrol asyik.



Pemuda bernama Ahmad Baihaqi itu sedang memberikan ”kuliah” singkat. Yang disampaikan adalah hal-hal seputar produk pertanian. Tidak hanya kekurangan dan kelebihan produk. Kandungan serta reaksi kimia juga dipaparkan dengan jelas dan singkat.



Baihaqi adalah alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Dialah si pemilik kios. Meski masih 27 tahun, dia adalah ”bos” usaha pertanian beromzet puluhan juta rupiah per bulan tersebut.



Usaha pertanian itu tidak diperoleh dengan mudah. Awal lulus kuliah pada 2013, Baihaqi tidak ujug-ujug membuka usaha. Sebagaimana sarjana lain, dia melanglang buana mencari pekerjaan. Incarannya adalah perusahaan mentereng di bidang pertanian. Sebut saja PT Petrokimia Gersik, PT Pupuk Kaltim Indonesia, PT Pupuk Sriwijaya, dan PT Pupuk Kujang.



”Enam kali riwa-riwi (bolak-balik, Red) ke Jakarta cari kerja,” katanya. Selama hampir setahun, Baihaqi rela bolak-balik dari Gresik ke ibu kota demi memenuhi panggilan interview kerja. Sayang, tidak satu pun perusahaan memberikan kesempatan kepada mantan penerima beasiswa United Tractors tersebut.



Pada Desember 2013, sang ayah, Nachrowi, jatuh sakit. Baihaqi dan saudaranya harus bergantian menjaga sang ayah di rumah sakit. Semangat mencari kerja pun kendur. ”Bingung. Tidak bisa meninggalkan abah,” ujarnya.



Sejak saat itu, Baihaqi mulai berpikir mendirikan usaha. Berbekal ilmu pertanian, dia memilih usaha di bidang tersebut. ”Sayang kalau ilmu selama kuliah tidak dipakai,” tuturnya.



Bermodal Rp 5 juta, Baihaqi berusaha membuat salah satu produk pupuk cair. Meski bukan produk terkenal, dia yakin bisa memasarkannya. Baihaqi berbisnis ala prajurit di medan tempur. Dia bergerilya ke berbagai kota di Jawa Timur. Mulai Pasuruan, Probolinggo, Malang, Jombang, Mojokerto, Lamongan, hingga Jember. Hampir semua kota di Jatim pernah dijelajahi.



Setiap pekan, Baihaqi berkeliling ke sejumlah kota. Tekadnya keras. Di punggungnya, selalu ada ransel hitam berisi satu jeriken kecil pupuk cair. Tujuan utamanya, menemui petani di daerah-daerah.



Bagaimana hasilnya? Tidak sedikit petani yang menolak. Selain tergolong produk baru, pupuk cair Baihaqi dianggap kurang berkhasiat. ”Bahannya organik. Reaksinya lama. Tidak seperti pupuk kimia yang cepat bereaksi,” terangnya.



Penolakan para petani tidak menyurutkan semangatnya. Pemuda kelahiran 28 November 1990 itu berusaha memasarkan pupuknya melalui marketplace online. Baihaqi mengaku kalah jauh jika harus bersaing dengan perusahaan pupuk raksasa di Kota Pudak dalam pemasaran konvensional.



Nah, respons pasar online memberikan angin segar. Satu per satu pesanan pupuk berdatangan dari kota di luar Jawa. Mulai Medan, Samarinda, Bengkulu, hingga kota-kota di Nusa Tenggara Timur (NTT). ”Hasil order online lumayan,” ucapnya.



Pasar konvensional perlahan mengikuti. Beberapa pesanan dari luar kota mulai berdatangan. Salah satunya adalah petani Kabupaten Lamongan sebagai pasar andalannya. Baihaqi mulai membentuk jaringan. Mulai teman-teman alumni hingga rekan bisnis baru. Seiring dengan berjalannya waktu, jaringannya makin luas. ”Mulai buka toko kecil-kecilan di garasi rumah,” ungkapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore