Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Mei 2017 | 18.57 WIB

Daffa Ananda P.H., Penyandang Autisme Jawara Renang Kategori Umum

BIKIN KEJUTAN: Daffa menunjukan piala yang diperolehnya di sela-sela latihan di kolam renang Kebonagung, Sukodono, Sabtu (6/5). - Image

BIKIN KEJUTAN: Daffa menunjukan piala yang diperolehnya di sela-sela latihan di kolam renang Kebonagung, Sukodono, Sabtu (6/5).


Pertengahan April lalu Daffa mengikuti lomba renang tingkat pemula antardaerah. Semua lawannya anak-anak normal. Di luar dugaan, dia bisa meraih runner-up.





SEPTINDA AYU PRAMITASARI





EDDY Heriyanto dan Tri Kustina masih tidak bisa melupakan detik-detik kemenangan putranya, Daffa Ananda Putra Heriyanto, saat lomba renang tingkat pemula jenjang SD di kolam renang Titos, Gresik, pada 15 April. Geregetan, deg-degan, dan menegangkan. Saat itu Daffa terlihat kurang fokus. Tangannya terus membenahi rambut. Padahal, peserta lain sudah siap-siap di posisi start.



Setelah start, Eddy dan Tri terus bersorak menyemangati Daffa agar segera berenang. Sedikit ogah-ogahan, Daffa akhirnya berenang dengan gaya bebas. Di luar dugaan, siswa kelas IV SDN Sawocangkring itu berenang dengan begitu cepat. Peserta lain di depan akhirnya bisa disalip.



Menyadari dirinya sudah jauh meninggalkan peserta lain, Daffa sempat berhenti. Padahal, sedikit lagi finis. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Sesekali menengok ke belakang menunggu peserta lain menyusul. Tingkah Daffa itu membuat orang tua dan adiknya, Fairuz Jinan Putri Heriyanto, gemas. ’’Ayo, Daffa. Sebentar lagi finis. Jangan berhenti,’’ teriak mereka kala itu.



Namun, Daffa tidak menghiraukan suara orang tua dan adiknya. Yang dia ketahui saat itu hanyalah bermain, bukan bertanding. Remaja 13 tahun itu tidak peduli menang atau kalah. Setelah peserta lain mulai mendekat, Daffa langsung meluncur ke dalam air dengan sangat cepat hingga finis.



’’Yang deg-degan justru malah kami bertiga,’’ kata Eddy saat ditemui di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo pada Sabtu (6/5).



Daffa memang baru kali pertama mengikuti lomba renang tingkat pemula. Semua lawannya adalah anak normal. Bahkan, mereka sudah menjadi atlet dari berbagai klub olahraga renang. Sementara itu, Daffa adalah satu-satunya anak berkebutuhan khusus (ABK) autis yang menjadi peserta. ’’Juri dan peserta lain (awalnya, Red) tidak tahu kalau Daffa ini sebenarnya ABK,’’ ungkapnya.



Eddy mengaku sengaja mendorong anak sulungnya itu mengikuti lomba. Sebab, dia melihat ada potensi besar dalam diri Daffa di olahraga renang. Kecepatan berenang Daffa sangat tinggi. Saat lomba renang tersebut, Daffa berhasil menempuh jarak 24 meter dalam waktu 15 detik. ’’Seharusnya bisa 13 detik. Tetapi, karena Daffa menyandang autisme, yang memengaruhi mood saat lomba, jadi 15 detik,’’ katanya. Meski begitu, peringkat kedua tetap bisa direbut Daffa.



’’Saya lihat persyaratannya. Tidak ada larangan ABK untuk ikut lomba. Jadi, saya ikutkan saja,’’ ujar Eddy.



Lomba yang diikuti Daffa hanya menjadi salah satu cara untuk mengapresiasi kemampuannya. Selama ini, adiknya, Fairuz, 9, sudah menjadi pra-atlet pemula renang. Berbagai perlombaan di tingkat kabupaten dan provinsi sudah dilahap. ’’Saya pengin kakaknya juga bisa diapresiasi. Meskipun, Daffa juga tidak pernah punya rasa iri,’’ ungkapnya.



Meskipun Daffa merupakan anak dengan autisme, Eddy dan Tri tetap bangga. Bagi mereka, anak dengan autisme adalah anak yang istimewa. ’’Kami tidak menyesali. Kami justru semangat sekali membesarkan Daffa dan menggali potensinya,’’ kata Eddy.



Ketika berusia 1,5 tahun, Daffa memang mengalami banyak keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Di usia yang sudah lewat setahun itu, Daffa tak kunjung bisa berjalan. Ngomong juga terlambat. Jika mau jalan, Daffa sering ngesot. ’’Saat bisa berdiri, saya langsung belikan dua bola,’’ ungkapnya.



Dari situ, dia dan istrinya mengetahui bahwa anak pertamanya itu inklusi. Tidak ada rasa down sama sekali. Apalagi, Daffa adalah anak pertama yang memang dinantikan. Terapi pun dilakukan dengan mengarahkan Daffa untuk menekuni berbagai aktivitas. ’’Dulu saya pemusik. Saya coba ajarkan musik,’’ ujarnya.



Saat kelas I, emosi Daffa masih sangat tinggi. Setiap bulan Eddy mengantar anaknya kontrol untuk menekan emosinya. Namun, setelah masuk di sekolah inklusi di SDN Sawocangkring, emosi Daffa semakin terkontrol. ’’Kalau waktu kecil itu, Daffa agak hiperaktif,’’ kenangnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore