
SENGGANG : Pengemudi ambulans Heri, Yayak Latu, dan Hadi berkumpul di posko RSUD Blambangan.
Sopir ambulans bukan pekerjaan sepele. Meski tinggal duduk di belakang kemudi, pekerjaan itu membutuhkan nyali besar. Beberapa kejadian di sepanjang jalan bisa menjadi ajang uji nyali bagi pengemudi.
NIKLAAS ANDRIES, Banyuwangi
BANGUNAN kecil di pintu masuk RSUD Blambangan menjadi markas sopir ambulans. Lokasinya berimpitan dengan pos satpam. Ruangan untuk pengemudi itu sangat kecil, hampir tidak muat untuk delapan sopir sekaligus. Sebuah meja dan kursi menjadi teman pengemudi saat tidak ada order di ruangan itu.
Di depan markas sopir ambulans tersebut, deretan kendaraan pengangkut pasien berjejer stand by. Para sopir itu bekerja dalam tiga sif dengan rata-rata waktu kerja delapan jam per hari. Sudah ada yang tahunan hingga belasan tahun mengabdi sebagai sopir ambulans.
Mereka harus siap setiap saat mengantar pasien dengan ambulans. Satu ambulans biasanya diisi dua sopir, yakni satu sopir utama dan satu lagi sopir cadangan. Itu biasanya berlaku untuk rute pengantaran hingga luar kota. Dengan pertimbangan jarak dan waktu, dua sopir itu bisa saling bergantian.
Ada empat unit ambulans yang dimiliki rumah sakit pelat merah tersebut. Kondisinya lumayan bagus. Namun, di balik kemulusan bodi mobil ambulans itu, ternyata tersimpan banyak cerita. Tidak terhitung sudah jauhnya jarak dan ragam pasien yang pernah dilayani pengemudi ambulans tersebut. ’’Ada yang pernah sampai ke Banten, Pekalongan, dan Jakarta serta daerah lain,’’ ungkap Yayak, salah seorang sopir ambulans.
Di ruangan itu, suka duka sopir ambulans tergambar. Saat sepi order mengantar pasien, praktis mereka hanya menunggu di pos. Sehari pun kadang bisa kosong. Namun, saat padat, seluruh kru dipastikan dikerahkan untuk mengantar pasien. Bahkan, sopir yang sudah pulang kerja terpaksa dipanggil untuk menjalankan tugas tambahan.
Itu pun belum cukup. Menyetir ambulans tidak bisa disamakan dengan mengendarai mobil pada umumnya. Kondisi mobil ambulans yang memiliki pemisah antara pasien dan kabin menjadi salah satu masalah. Saat jarak jauh, kondisi fisik dan kenyamanan menjadi taruhan. Sebab, posisi duduk tidak bisa disandarkan ke belakang. Otomatis, posisi tubuh nyaris tegak 90 derajat.
Bisa dibayangkan bila rutenya adalah Banyuwangi ke Surabaya dengan jarak 300 km yang membutuhkan waktu enam jam. Selama enam jam menyetir itu, posisi sopir harus duduk tegak. Punggung terasa kaku meski menyempatkan diri untuk beristirahat di sela perjalanan. ’’Punggung bisa pegal karena jok tidak bisa disandarkan ke belakang,’’ ungkap Hadi, salah seorang sopir ambulans.
Belum lagi suasana ambulans saat mengantar pasien. Bila pasien yang diantar masih sehat atau hidup, suasana bisa santai. Berbeda bila pasien yang diantar sudah meninggal. Bagi orang awam, tentu mereka menilai suasana ambulans akan hening dan sedikit menyeramkan.
Hadi mengungkapkan pengalamannya. Saat mengantar jenazah, karena lelah selama perjalanan, dia memutuskan untuk berganti posisi dengan sopir cadangan. Dengan posisi kendaraan berjalan, dia berusaha merebahkan diri. Kursi depan yang posisinya sama dengan kursi sopir yang tidak disandarkan membuat dirinya tidak bisa tidur dengan posisi duduk.
Dia lantas memilih untuk tidur di bagian belakang mobil. Tidak adanya kursi yang memadai di bagian belakang membuatnya memilih nekat. Hadi tidur dengan berbaring meski bersebelahan dengan posisi jenazah. ’’Sudah sangat mengantuk dan capek. Tidur bersebelahan dengan mayat sudah tidak masalah,’’ katanya.
Bukan itu saja. Mengantar pasien dalam perjalanan jauh pun tidak bisa sembarangan. Misalnya, saat kru ambulans hendak beristirahat dan sekadar mengisi perut. Mereka tidak bisa memarkir kendaraan persis di depan halaman rumah makan. Mereka biasanya berjalan kaki dengan meninggalkan kendaraan minimal 100–200 meter dari rumah makan.
Mereka menyadari, muatan di dalam kendaraan juga bisa memengaruhi psikis pengunjung rumah makan. Terlebih yang di dalam kendaraan itu adalah jenazah. ’’Ya diparkir agak jauh biar tidak mengganggu selera makan pengunjung rumah makan,’’ ujar Hadi.
Pandangan semacam itu bukan tanpa sebab. Dalam pengalaman mengantar pasien, kru ambulans juga kerap mendapat perlakuan yang cukup aneh dari masyarakat. Salah satunya adanya lemparan kecil dari warga saat ambulans lewat di sekitar rumah penduduk setelah mengantar pasien. Benda yang dilemparkan memang tidak merusak.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
