
KASIH SAYANG: Oei Sing Kie (kiri) menyuapi ibunya, Lou Giok Bi, kemarin (22/3).
Bak dua pribadi yang menyatu. Selalu bersama. Tak bisa dipisahkan. Itulah Oei Sing Kie dan ibunya, Lou Giok Bi. Sing Kie, sapaannya, memberikan seluruh waktunya, siang dan malam untuk merawat sang ibu.
ASA WISESA BETARI, Surabaya
------------------------------
”KALAU bukan anak sendiri, siapa lagi yang mau merawat,” ucap Sing Kie kala ditemui sore itu, Senin (20/3). Waktu menunjuk pukul 15.35. Saatnya jalan-jalan.
Sing Kie menggendong ibunya dan menaruhnya ke kursi roda untuk dibawa keluar dari rumah. Di situ, biasanya perempuan tua tersebut lantas duduk di halaman depan gedung sembari memandang orang-orang yang lewat silih
berganti.
Sing Kie mengenakan celana pendek dan kaus berkerah. Dia mengganti baju ibunya dengan daster bermotif bunga-bunga berwarna oranye. Badan sudah segar sehabis mandi. Wangi bedak dan sabun pun tercium.
”Saya habis nyuci pakaian ibu saya. Sekalian saja nunggu kering,”ucapnya sambil sesekali memindah posisi beberapa pakaian yang tergantung dengan hanger. Dia kemudian duduk di depan warung kelontong.
Sing Kie dan ibunya tampak kompak memakai topi berwarna senada. Biru donker. ”Nih biar keren. Saya juga suka gonta-ganti ini,” katanya sambil memasangkan serbet kotak-kotak berwarna merah yang biasanya digunakan untuk lap piring. Namun, serbet itu dialihfungsikan menjadi scarf.
Sing Kie punya beberapa serbet dengan motif sama. Hanya warnanya yang berbeda. Kalau si ibu memakai merah, dia pun memakai warna sama. Serbet dilipat segi tiga dan dikalungkan di leher. Lalu diikat menggunakan karet.
Si ibu, Lou Giok Bi, adalah perempuan berusia hampir satu abad. Umurnya 97 tahun. Di usianya kini, dia menduduki peringkat pertama sebagai manusia tertua yang hidup di Gedung Setan yang beralamat di Banyu Urip Wetan 1A Nomor 107 tersebut.
Anak semata wayangnya, Sing Kie, juga tak lagi muda. Tahun ini usia Sing Kie 77 tahun. Mereka berdua memang tak bisa dipisahkan. Sehari-hari Sing Kie melakukan segala sesuatu bersama dengan ibunya. ”Kalau saya tinggal, belum ada satu menit sudah teriak-teriak. Nyariin,” ucap Sing Kie.
Dalam usia senja, maklum saja jika perilaku Lou Giok Bi sudah banyak berubah. Sudah seperti anak kecil. Susah bicara dan mendengar. Selalu ingin ditemani dan banyak merengek. Sing Kie tak boleh hilang walau hanya sekedipan mata. Kalau pergi sebentar saja, si ibu bisa teriak-teriak. Marah. Juga menangis.
Kalau sedang ada urusan ke luar rumah, Sing Kie selalu tampak terburu-buru. Dia sangat paham suara tangisan ibunya. Bahkan, ketika pintu belum sepenuhnya tertutup karena ditinggal keluar, si ibu kembali memanggil.
Sebelum sang ibu bertambah parah, dia pun langsung menyahut. ”Ya sebentar. Baru pipis,” teriaknya sambil sedikit berlari kembali ke rumah. Sesampainya, dia langsung menggenggam tangan si ibu yang menangis atau berteriak.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
