Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Maret 2017 | 02.03 WIB

Sosok Wafiyyul Ahdi, Juara Pertama Lomba Dai Cilik Polresta Sidoarjo

MEMBANGGAKAN: Wafiyyul Ahdi menerima piala dari Kapolresta Sidoarjo Kombespol Muhammad Anwar Nasir pekan. - Image

MEMBANGGAKAN: Wafiyyul Ahdi menerima piala dari Kapolresta Sidoarjo Kombespol Muhammad Anwar Nasir pekan.

Kepiwaian Waffiyul Ahdi dalam menyampaikan ceramah agama kembali menuai prestasi. Dia tampil memukau saat menjelaskan bahaya narkoba.



HASTI EDI SUDRAJAT



BELASAN piala tertata rapi di dalam lemari kaca di ruang tamu. Model dan tingginya beragam. Jejak kemenangan hasil mengikuti perlombaan itu tampaknya memang sengaja hendak diperlihatkan kepada tamu yang datang.


Seorang pria paro baya lantas mempersilakan Jawa Pos untuk duduk. Dia kemudian memanggil istri dan anaknya. ”Enggak bingung dengan jalannya kan?” ujar Muhammad Ikhwan ramah sembari tersenyum kecil. Dia adalah ayah Waffiyul Ahdi, juara pertama lomba dai cilik yang diadakan di Mapolresta Sidoarjo akhir pekan lalu.


Wafi, sapaan akrab Wafiyyul Ahdi, lalu keluar bersama ibunya, Nur Afifah. Bocah 11 tahun itu terlihat malu-malu. Namun, gaya bicaranya langsung berubah jadi lebih percaya diri ketika diajak mengobrol soal lomba dai cilik dan MTQ. ”Untuk lomba dengan tema narkoba kemarin, persiapannya cuma dua hari,” tutur Wafi kemarin (21/3). Ya, tema lomba dai cilik di mapolresta memang membahas bahaya narkoba.


Pada babak akhir perlombaan, bocah kelahiran 31 Juli 2005 itu memaparkan salah satu ayat Alquran sebagai tema ceramahnya. Yaitu, Surah Al Maidah ayat 90. ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, menyembah berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan syaitan. Jauhilah perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”


Sulung di antara dua bersaudara itu menjelaskan bahaya narkoba dengan memberikan titik perhatian pada khamar. Dengan suara lantang dan intonasi yang mantap, dia membius puluhan penonton yang memenuhi Aula Rupatama Bhara Daksa. Tak lupa, dia berinteraksi dengan penonton. ”Merugikan tidak jika menggunakan narkoba?” katanya.


Mayoritas penonton menyahut dan menjawab pertanyaan itu. Tak terkecuali, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Muhammad Anwar Nasir dan anggota jajaran. ”Merugikan...”


Wafi menyatakan, dirinya memang mengulas banyak bahaya narkoba. Bukan hanya imbasnya kepada mereka yang nekat mencoba, melainkan juga bagi keluarga. Bahkan, ada yang sampai dijebloskan ke dalam penjara. ”Barang siapa menggunakan narkoba, hidupnya tidak akan lama karena organ tubuhnya rusak secara perlahan,” tegasnya.


Nur Afifah, ibu Wafi, menjelaskan bahwa ketertarikan anaknya di dunia dakwah tumbuh sejak masih duduk di bangku TK. Saat itu, Wafi ikut lomba dai cilik antarsekolah. Namun, belum ada prestasi yang diraih. ”Masih belum juara,” kata perempuan yang juga guru mengaji di TPQ sekitar rumahnya tersebut.


Sekitar dua tahun lalu, Nur membelikan anaknya kaset VCD Tilawatil Quran. Wafi yang menginjak kelas III Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mambaul Ulum, Krian, rupanya sangat antusias. Dia selalu menonton VCD itu setiap ada waktu luang. ”Awalnya belajar dari kaset. Belajar ayat per ayat,” ceritanya.


Melihat minat dan perkembangan anaknya, Wafi kemudian didaftarkan sebagai peserta lomba MTQ di sekolahnya. Di luar dugaan, anaknya mampu menampilkan qiraah yang apik. ”Langsung juara (peringkat pertama, Red) pas ikut lomba saat itu,” ucapnya. Wafi tidak hanya mendapat piala. Beberapa bulan kemudian, dia juga dikirim mewakili sekolahnya di tingkat kecamatan.


Sempat tidak menjadi peserta yang diunggulkan, Wafi justru membuat kejutan dengan menjadi juara. Dia kembali berhak maju ke tingkat kabupaten. ”Juara lagi sampai akhirnya jadi peserta tingkat nasional. Lombanya di Lamongan akhir tahun lalu,” kata Nur.


Dalam lomba yang mempertemukan perwakilan antarprovinsi itu, Wafi meraih peringkat ketiga. Padahal, saat itu keahlian yang harus ditunjukkan peserta bukan hanya soal qiraah. ”Harus ceramah sebagai dai cilik dan menghafal satu juz Alquran,” tutur Nur, bangga.


Menurut dia, sejak menjadi juara di tingkat kecamatan, Wafi yang kini duduk di bangku kelas V mengikuti pelajaran di dua TPQ. Masing-masing di Prambon dan Tanggulangin. ”Ilmu berdakwahnya lebih dipoles di sana. Jadi, dua minggu sekali belajar di luar. Meskipun sebentar, dilakukan rutin,” jelasnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore