
USIR JENUH: Bambang Haryanto (dua dari kanan) bersama Prison Band.
Mengurus lebih dari 2.500 tahanan menjadi tantangan sekaligus beban tersendiri bagi Karutan Medaeng Bambang Haryanto. Pusing? Sudah pasti. Tapi, dia punya cara jitu untuk mengatasinya.
FAJRIN MARHAENDRA BAKTI
ALUNAN musik terdengar dari aula Rutan Kelas I Surabaya pada Sabtu siang (18/3). Delapan penghuni rutan tampak berbaur dengan Kepala Rutan Kelas I Surabaya Bambang Haryanto.
Dengan suara serak-serak basah, Bambang melantunkan lagu berjudul Bersamamu. ’’Ini lagu ciptaan saya sendiri,’’ jelas pria asal Wonosobo tersebut saat membuka pembicaraan.
Jam istirahat seperti siang itu seolah menjadi panggung relaksasi bagi Bambang. Maklum, tugas sebagai Karutan diakuinya sarat tekanan. Apalagi, kebijakannya bersih-bersih rutan memunculkan kubu-kubu yang kontra. ’’Banyak yang tidak bisa menerima kebijakan saya selama ini,’’ kata Bambang yang baru dua bulan menjabat Karutan Medaeng.
Tak terhitung berapa kali teleponnya berdering dalam sehari. Terutama saat dia dan timnya baru saja melakukan gebrakan. ’’Kalau habis mindahi orang atau razia, yang kontra selalu saja protes,’’ ungkap pria 50 tahun itu. Namun, dia mengaku berusaha mengalihkan perhatian. ’’Kalau dipikir terus, pusing,’’ ucapnya sambil memegang kepala.
Nah, salah satu cara favoritnya untuk mengurangi beban pikiran tersebut adalah menyanyi. Bambang membentuk grup band bersama delapan penghuni rutan. Mereka adalah Gempa Budiono (lead guitarist), Hadi Nur Yasin (rhythm guitarist), Guileano atau Rio (basis), Romeo (keyboardist), dan Aditya (drumer). Formasi vokalisnya, selain Bambang, ada Annas Hakim, Yafed, dan Wendy Sanjaya. Mereka didukung dua operator sound, yakni Herman dan Irawan Bejo.
Grup yang diberi nama Prison Band itu rutin berlatih setiap pukul 13.00. ’’Setelah pelayanan kunjungan selesai, kami latihan,’’ kata bapak dua anak tersebut.
Bambang mengaku memang senang bermusik sejak kecil. Selain mengutak-atik alat musik, dia menciptakan lirik lagu. Lima di antara sembilan lagu yang dimiliki Prison Band adalah karyanya. Empat lagu lainnya merupakan ciptaan napi sendiri. ’’Untuk aransemen, saya butuh bantuan orang lain,’’ ungkap penggemar musik dangdut itu.
Yang menarik, sembilan lagu tersebut bertema cinta. Lirik-liriknya disesuaikan dengan perasaan tahanan yang menjalani masa hukuman. Yakni, tentang kerinduan-kerinduan terhadap pasangan.
Meski begitu, khusus ciptaan Bambang, tidak ada lagu yang ditulis karena pengalaman pribadi. ’’Kalau di rutan, biasanya istri atau suaminya masih cinta sehingga masih kangen-kangenan,’’ ujarnya, lantas tertawa.
Menurut Bambang, lagu bertema kerinduan dan percintaan lebih mudah diterima. Apalagi untuk kaum muda-mudi. Nah, Bambang ingin karyanya tidak hanya dinikmati sendiri. Dia berencana melakukan rekaman pada 28 Maret mendatang. ’’Nanti, kalau ada dananya, kami gandakan kasetnya,’’ tuturnya.
Pemasarannya akan dilakukan di dalam rutan lebih dulu. Jika responsnya positif, tidak tertutup kemungkinan kasetnya dipasarkan ke luar rutan. Nah, hasil penjualan kaset tersebut bisa digunakan para personel Prison Band. (*/c23/fal/sep/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
