
BUKTI MEDIS: Sri Rabitah saat menunjukkan hasil rontgen yang dilakukan di RSUP NTB beberapa waktu lalu.
Sri Rabitah tidak pernah mengira, kepergiannya menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke Qatar, Timur Tengah, tiga tahun lalu akan berakhir tragis. Perempuan 25 tahun itu kini hidup dengan hanya satu ginjal. Dia baru tahu kehilangan ginjal setelah pulang ke kampung halaman di Lombok Utara.
PUJO NUGROHO - HERY MAHARDIKA, Lombok
---
SECARA kasatmata, kondisi fisik Sri Rabitah terlihat seperti orang sehat-sehat saja. Tapi, siapa yang mengira, ada organ di dalam tubuh warga Dusun Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), tersebut yang tidak lengkap.
Ya, satu ginjal Sri hilang tanpa sepengetahuan dirinya. Ginjal itu hilang bukan karena dia menderita penyakit atau bawaan lahir. Tapi diduga telah diambil secara diam-diam oleh majikannya saat Sri bekerja di Qatar sekitar 2014.
Kesaksian Sri itu terungkap setelah dirinya mengadukan masalah yang dialaminya tersebut ke bupati Lombok Utara Senin (27/2). Didampingi Kadus Lokok Ara dan Kades Sesait, Sri menceritakan kronologi "pencurian" salah satu ginjalnya itu.
Sri bercerita, sudah tiga tahun ini dirinya menahan sakit yang tak tergambarkan. Namun, tidak pernah ada penanganan medis. Bahkan, ketika istri Harpan Jaya tersebut hamil anak pertama tahun lalu, sakitnya makin parah. Terutama di pinggang kanan, seperti ditusuk-tusuk.
Dengan kondisinya itu, Sri sempat memeriksakan diri ke Puskesmas Kayangan dan RSUD Tanjung Lombok Utara. Anehnya, seusai pemeriksaan, petugas medis menyatakan tidak menemukan penyakit apa-apa di tubuh perempuan bertubuh kurus tersebut. Dia lalu minta difoto rontgen untuk mengetahui apa yang terjadi di perutnya. Tapi, permintaannya itu tidak dipenuhi karena dia sedang mengandung. "Saya pun menjalaninya seperti itu hingga saya melahirkan anak pertama dengan normal," ujarnya kepada Radar Lombok (Jawa Pos Group).
Baru, setelah anaknya berusia 4 bulan, Sri memutuskan kembali melakukan pemeriksaan ke RSUD Tanjung pekan lalu (22/2). Pihak rumah sakit juga sudah membolehkan perut Sri difoto rontgen. Hasilnya sangat mengejutkan: satu ginjal Sri tak ada dan terdapat slang di dalam perut Sri. "Dokter yang memeriksa sempat menanyakan kepada saya apakah pernah menjual ginjal. Saya sampai bersumpah tidak pernah menjual ginjal," katanya.
Setelah itu pihak RSUD Tanjung merujuk Sri ke RSUD Mataram untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan di RSUD NTB ternyata sama bahwa Sri telah kehilangan satu ginjal. Dia pun disarankan menjalani operasi untuk mengeluarkan slang melingkar di dalam perutnya. Selain itu, dokter menyatakan, banyak batu di saluran kencing Sri sehingga harus dikeluarkan. "Kata dokter, kalau batu-batu dan slang tidak dikeluarkan, bisa berbahaya. Saya disuruh balik lagi untuk operasi 2 Maret nanti," terangnya.
Hasil pemeriksaan tersebut membuat Sri jadi sedih dan mengingat kembali apa yang pernah menimpa dirinya. Barulah Sri teringat bahwa dirinya pernah bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga. Yang pertama, dia menjadi TKW di Malaysia. Pulang dari negeri jiran itu, tak lama kemudian datanglah tawaran untuk bekerja di Qatar.
Yang menawari adalah calo TKW bernama Ulfa, warga Batu Keruk, Desa Akar-Akar, Lombok Utara. Dengan iming-iming gaji yang besar dan fasilitas yang menjanjikan, Sri pun tergiur. Begitu persyaratan administrasi beres, dia lalu menjalani serangkaian tes kesehatan dan tes fisik lainnya. Tak lama, sekitar Juni 2014, dia berangkat ke Qatar melalui perusahaan penyalur tenaga kerja PT BLK-LN Falah Rima Hudaity Bersaudara.
Begitu sampai di negeri kaya minyak itu, Sri langsung ditempatkan di rumah majikan bernama Madam Gada di Doha. Di rumah majikan itulah Sri mulai menjalani hidup di perantauan dengan penuh penderitaan. Dia sering mendapat perlakuan kasar. Misalnya, dia harus bekerja sejak pukul 05.00 hingga 03.00. Nyaris 24 jam! "Saya dikasih makan saat magrib saja. Itu pun hanya semenit. Kalau belum azan Magrib, makanan tidak diberikan," ungkap Sri kepada Lombok Post.
Sri mengaku tidak lama bekerja di rumah majikan pertamanya itu. Dia lalu dipindah untuk bekerja di rumah ibu si majikan. "Saya hanya seminggu di rumah majikan. Setelah itu saya disuruh bekerja di rumah ibu majikan itu," bebernya.
Masih pada Juni 2014, setelah membersihkan rumah majikan yang berlantai empat tersebut, Sri diajak sang majikan dan anak perempuannya ke rumah sakit. Alasannya saat itu mengecek kesehatan Sri. "Padahal, saya tidak sakit apa-apa. Saya disuruh ganti baju, katanya untuk medical checkup," bebernya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
9 Soto Legendaris di Bandung, Kuliner Murah Isian Melimpah tapi Rasa Juara
