
TERUS ASAH KEMAMPUAN: Fajar dan John berkonsentrasi membuat ukiran grafir kaca di botol bekas sirup di Kampoeng Sinaoe pada Sabtu (25/2).
Menciptakan sebuah karya seni yang nyeleneh memang tak gampang. Tapi, hal itu malah menjadi tantangan buat Komunitas Sinaoe Hijau. Mereka mempelajari seni memotong dan mengukir kaca. Belum sempurna hasilnya. Tapi, bule-bule sudah tertarik membelinya sebagai cenderamata.
RESVIA AFRILENE
AHMAD Fajar sibuk menata botol-botol kaca di taman Kampoeng Sinaoe pada Sabtu (25/2). Tempat itu adalah kawasan belajar di Desa Siwalanpanji, Buduran. Fajar juga kerap beraktivitas di sana. Dia terlibat dalam kelompok belajar bahasa Inggris dan beberapa mata pelajaran lain. Tak hanya pasif menerima materi, Fajar juga rajin mencari dan berbagi ilmu pengetahuan. Misalnya, cara mendaur ulang botol kaca agar mempunyai nilai seni.
Semangat dan komitmen yang sama juga ditunjukkan empat kawan Fajar. Yakni, Zulvan Nasrullah, Edwin Firmansyah, Ahmad Qusy’airi, dan Mohammad Nur Jamil. Mereka mendapatkan wadah untuk mendalami kesenian daur ulang melalui Komunitas Sinaoe Hijau yang dibina pemilik Kampoeng Sinaoe, Zamroni.
Kesenian daur ulang yang dipelajari Fajar dan keempat kawannya adalah seni memotong botol sekaligus mengukirnya. Botol yang digunakan adalah botol bekas. Kesenian tersebut memang menjadi salah satu alternatif proses daur ulang sampah. Hasilnya memukau. Namun, pembuatannya agak berbahaya. Tangan bisa menjadi korban bila tidak hati-hati.
’’Namanya seni grafir kaca,’’ jelas Fajar. Saat ditemui, pemuda 16 tahun itu sedang membuat sketsa dan mengukir di atas kaca. Jamil juga bergabung bersamanya. ’’Mamad (sapaan Ahmad Qusy’airi, Red) sedang pergi ke Lampung. Dia terpilih menjadi delegasi ASEAN Youth Leadership,’’ kata Jamil yang akrab disapa John.
Saat dihubungi, Mamad menyebutkan, dirinya membawa hasil kesenian grafir tersebut ke Palembang untuk diperkenalkan kepada para delegasi ASEAN yang lain. ’’Aku bawa yang ukuran kecil. Ukirannya di dalam botol,’’ ungkapnya. Mamad memang sangat mahir mengukir. Dia begitu telaten dan memiliki presisi. Karena itu, hasil ukiran grafir Mamad tak hanya berada di permukaan dinding luar botol, tapi juga bisa di dinding bagian dalam botol.
Fajar dan Jamil tak mau ketinggalan. Keduanya selalu berlatih jika ada waktu longgar. Seperti Sabtu lalu, sembari menunggu kelas sore bersama native dari Jerman dan Perancis, Fajar dan Jamil mengasah kemampuan mengukir kaca. Persediaan botol kaca dikeluarkan dari gudang penyimpanan. Bentuknya beragam. Warnanya pun bervariasi. Ada botol sirup berwarna bening, botol kecap hijau, serta botol bir yang memiliki lekukan yang lebih nyentrik. Bentuknya kotak pipih dan agak menggembung di sisi atas.
Mereka tidak membeli botol minuman tersebut. Fajar dan kawan-kawannya di Sinaoe Hijau menemukan botol-botol bekas itu saat melakukan rutinitas mingguan mereka. Yakni, bersih-bersih sampah di sungai. ’’Biasanya ya kami menyisir sungai sama saluran irigasi di Siwalanpanji. Kadang juga pas lewat mana, begitu ketemu botol, ya kami ambil,’’ ucap Jamil.
Setelah botol-botol tersebut terkumpul, putra Sayidatul Fatimah itu mencucinya dengan sabun hingga bersih. Menurut dia, air hangat kadang diperlukan. Terutama untuk menghilangkan bau menyengat botol bekas bir tersebut.
Sesudah itu, ada bagian dasar beberapa botol yang dipotong. Alat pemotongnya khusus, biasanya disebut glass cutter. Bukan hal gampang melakukannya. Jika salah perhitungan, kaca bisa pecah. Tangan pun akan terluka. Untuk bagian tersebut, Fajar dan Jamil benar-benar melakukannya dengan hati-hati.
Sore itu Fajar yang juga suka menggambar tengah menyelesaikan sketsa bergambar kuda untuk botol yang bakal digarapnya. Jamil sendiri mulai mengukir. ’’Pisaunya tidak digesekkan kayak menulis begitu. Nggak tegak dari permukaan kaca, tapi diseret mendatar mengikuti alur sketsa,’’ ujar Jamil.
Siswa SMA Antartika tersebut lantas menjelaskan tahap sebelum pengukiran. Yakni, menempelkan sketsa dengan kertas stiker. Kemudian, stiker itu dilapisi dengan menggunakan isolasi agar tak mudah sobek saat diukir. Menurut dia, semua botol bisa menjadi bahan seni grafir kaca. Tapi, memang ada botol dengan ketebalan tertentu yang disarankan agar tidak pecah saat dipotong atau diwarnai.
’’Susahnya ya kalau salah perhitungan. Bisa teriris tangannya. Aku sering banget dulu waktu belajar,’’ tutur pemuda 17 tahun yang suka bercocok tanam tersebut.
Setelah merampungkan sketsanya, Fajar berdiri. Dia mengambil kompresor untuk pewarnaan ukiran kaca dengan pasir yang sudah disiapkan. Pasir yang digunakan adalah pasir sungai yang sudah dialiri air, lalu diayak dan diambil bagian kasarnya. ’’Kalau mau gampang, ya beli saja di toko bangunan. Dengan Rp 10 ribu, sudah dapat setengah sak pasir,’’ jelas Fajar, lantas tertawa. Buat siswa SMKN 3 Buduran itu, sketsa yang paling sulit adalah wajah manusia karena harus detail dan lebih teliti.

Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Statistik Vikings Siap Hancurkan Samba
Prediksi Skor Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kelemahan 3 Singa di Estadio Azteca
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia: Bursa Taruhan Dunia Jagokan Selecao, Opta Beri Peluang Menang 53,6 Persen
Prediksi Skor Inggris vs Meksiko: Bursa Taruhan Dunia Tetap Jagokan Three Lions, Rekor Angker Azteca Jadi Ancaman
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Diunggulkan Kalahkan Cristiano Ronaldo Cs
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Bungkam Tuan Rumah
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Susunan Pemain Meksiko vs Inggris: Altitude Jadi Senjata El Tri, Saka dan Gordon Bantu Harry Kane
